The Silent Speaker

Rully Anjar berbicara soal dikejar-kejar anak autis hingga pengabdian diri menjadi juru isyarat bagi para Tuli

FHM (Indonesia) - - Get Inspired -

Pada awalnya saya justru menginginkan kerja kantoran. Dulu saya sangat ingin sekali masuk jurusan ekonomi selepas lulus SMA, membayangkan bagaimana nikmatnya kerja kantoran dan menjadi seorang bankir. Namun keinginan saya tersebut dihalangi orang tua saya yang tidak ingin jika saya mengambil jurusan ekonomi. Alhasil saya pun mengurungkan niat saya tersebut. Sampai suatu saat saya menyaksikan sebuah program televisi dengan narasumber difabel. Ketika saya menyaksikan acara televisi tersebut, entah mengapa rasanya saya sangat ingin melakukan komunikasi dengan para difabel tersebut. Bukan hanya itu, setelah saya melihat kelebihan para difabel di acara tersebut, saya sangat yakin kalau kemampuan mereka itu sama atau malah melebihi orang-orang yang normal pada umumnya. Akhirnya saya memilih untuk mengambil kuliah di jurusan pendidikan luar biasa. Memang butuh tekad yang kuat untuk mengambil jurusan-jurusan yang pasti akan mendapatkan judgemental dari publik, bahkan teman saya sendiri pernah berkata kepada saya, “Kamu tidak takut kena iler anak-anak autis, Rul? Ha ha”. Tetapi saya memang sudah yakin sebelum memastikan diri untuk berkuliah di jurusan ini. Untungnya, saya memiliki orang tua yang mendukung penuh ketika saya sudah memiliki keputusan ini. Saya memiliki ketakutan yang luar biasa saat pertama kali memasuki sekolah luar biasa. Waktu itu saya memasuki tahun ke-tiga kuliah dan harus mengikuti kuliah wajib yaitu praktek lapangan. Jujur, saya sangat ketakutan pada saat itu karena hal-hal aneh dapat terjadi ketika akan mengajar anak berkebutuhan khusus. Dan jelas benar terjadi pada saat saya mengajar, anak yang mengidap autisme lari sambil berteriak lalu memeluk teman-teman saya, ha ha. Namun dari hal seperti itu saya belajar, bahwa jika anak-anak tersebut sudah percaya dan sangat senang dengan pengajarnya, ia akan melakukan hal-hal yang menunjukkan sikap afeksi terhadap pengajarnya. Saya memutuskan untuk mengambil pengkhususan pendidikan bagi tunarungu. Padahal banyak sekali lahan untuk saya ambil pada pendidikan luar biasa seperti mendidik tuna netra ataupun penderita autisme. Dewasa ini sudah sangat banyak para lulusan pendidikan luar biasa yang menangani anak-anak autis ataupun tunanetra, sehingga jumlah pendidik khusus untuk penderita tunarungu masih kurang. Pertama kali menerjemahkan bahasa isyarat, saya sangat kagok. Kegugupan adalah hal yang saya rasakan saat pertama kali terjun ke lapangan untuk berkomunikasi langsung dengan para Tuli. Perasaan takut salah menerjemahkan selalu menjadi mimpi buruk bagi saya karena kosa isyarat saya pada saat itu masih sedikit. Dan saya takut kalau tanggung jawab saya untuk menyampaikan pesan ke Tuli tidak bisa sampai ke mereka dengan baik. Walaupun ketika proses penerjemahan saya juga dibimbing oleh seorang ahli, alhasil rasa gugup yang berlebihan itu telah membuat saya demam pada malam harinya. Juru bahasa isyarat di Indonesia hanya 40 orang. Bayangkan saja kalau para juru bahasa ini disebar ke seluruh pelosok negeri, akan sangat kurang bukan? Bahkan ada beberapa juru bahasa isyarat yang menumpuk di salah satu kota besar tertentu seperti Jakarta, Solo, dan Surabaya. Di Indonesia bagian timur pun hanya memiliki 3 juru bahasa isyarat, dan ketiganya itu ada di Makassar. Lantas bagaimana dengan nasib para Tuli di Maluku dan Papua? Munculnya sekolah inklusif bukan sebuah penyelesaian masalah. Sekarang sekolah yang bersifat inklusif dengan menyatukan anak-anak normal dan berkebutuhan khusus sudah mulai bermunculan di seluruh penjuru provinsi di Indonesia. Tetapi, sayangnya tenaga pengajar di sekolah tersebut belum memadai. Sekolah cenderung memaksa para difabel untuk mengikuti proses belajar-mengajar yang tidak sesuai dengan metode pengajaran bagi para difabel. Harusnya sekolah inklusif tersebut memiliki dua pengajar dalam satu kelas, jadi para difabel juga dapat menikmati proses belajar-mengajar dengan baik. Para siswa Tuli harus mendapatkan perlakuan khusus. Saya berkata demikian karena memang Tuli harus diperlakukan lebih daripada difabel yang lain. Kalau tunanetra hanya terhambat sebatas penglihatan, namun bagaimana dengan para pengidap Tuli? Memang mereka dapat melihat, tetapi mereka tidak dapat menyerap pembicaraan dengan baik. Terkadang mereka malah diminta untuk membaca mulut saja. Mereka tidak suka jika disebut tunarungu. Bagi mereka, terminologi tunarungu itu adalah istilah di dunia kedokteran untuk menyatakan sebuah penyakit serta kekurangan yang mereka idap, dan mereka sangat tidak suka dengan penyebutan seperti itu. Mereka lebih nyaman di sebut Tuli, karena mereka tidak menginginkan dinilai kekurangannya. Mereka tidak ingin diperlakukan spesial, perlakukan mereka seperti bagian dari Anda. Para Tuli menginginkan perlakuan yang sama oleh orang-orang pada umumnya. Justru bercanda dengan mereka atau bahkan mungkin saling ejek justru membuat mereka senang, karena mereka merasa tidak dianggap sebagai manusia yang memiliki kekurangan fisik. Namun kalau mereka diperlakukan dengan spesial, justru itu akan membuat mereka risih dan sakit hati.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.