Her Trunk Show

“CINTA YANG BERBALAS,” ADALAH UNGKAPAN LIA CANDRASARI UNTUK KOLEKSI LOUIS VUITTON MILIKNYA, YANG JUMLAH SERTA JENISNYA TELAH CUKUP UNTUK MEMUAT SEBUAH GALERI. OLEH FEBE R. SIAHAAN

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents - FOTOGRAFI OLEH RAKHMAT HIDAYAT

Dan itulah persis yang dilakukan oleh Lia (begitu ia akrab disapa): membangun sebuah private gallery untuk koleksi Louis Vuitton kesayangannya itu. “Perjalanannya cukup panjang. Saya mulai membeli dan mengoleksi sejak tahun 2006, ketika sudah punya penghasilan sendiri. Item pertama yang saya beli adalah satu set tas dan aksesori karya creative director saat itu, Marc Jacobs,” kenang Lia. Proses memperoleh berbagai item itu pun dilakukannya dengan banyak cara, dan ia tidak hanya membeli dari butik. Sebagaimana seorang kolektor, ia benar-benar berburu, terutama untuk jenis yang limited serta classic monogram yang sudah tidak dikeluarkan lagi. “Ada beberapa yang saya suka dan ingin punya, tapi waktu itu belum bisa beli. Misalnya tas LV dari tahun 1997,” lanjutnya. Terkadang barang-barang tersebut diperolehnya dari auction tertutup, atau penjual online yang independen, “Saya bahkan pernah ‘tukar guling’ tas LV yang sudah sangat langka dengan sahabat saya.” Kegigihan Lia pun menghasilkan sebuah koleksi yang luar biasa. Hasil perburuan dan pembelian busana, tas, sepatu, dan aksesori LV tersebut ditempatkan dalam sebuah galeri pribadi yang menempati bangunan rumah dua lantai di kawasan Jakarta Barat. Setiap barang dilengkapi dengan catatan tentang product knowledge dan kapan benda tersebut dibeli. Koleksi tas limited edition ditempatkan di dalam display kaca yang dibuat secara khusus. Dua orang staf bertugas untuk merawat dan mengatur semua koleksi tersebut. Merekalah yang tahu dengan pasti di mana setiap busana, tas, sepatu, arloji, dan jewelry LV milik Lia berada. Di galeri pribadi ini juga terdapat koleksi trunk Louis Vuitton yang ia beli sejak tahun 2012. Koleksi trunk pertama yang dibelinya adalah trunk bersusun (stacking) serta Boite Chapeaux yang berbentuk lingkaran. Trunk untuk traveling ini dibeli tepat sebelum pemotretan dengan majalah Bazaar di Papua tahun 2012 dan semua trunk tersebut ikut dibawa ke sana. Sementara trunk made-to-order (MTO) pertama yang dipesannya adalah watch trunk yang ada di foto ini. Trunk tersebut dipesan bersama dengan wardrobe trunk dan Coffret Joaillerie atau jewelry trunk. “Kemudian saya pesan Dolls Trunk untuk koleksi boneka Barbie saya,” tambahnya. Koleksi Barbie adalah benda lain yang dikoleksinya dengan setia. Selain trunk yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan, Lia juga memiliki trunk yang memang didesain untuk interior. Trunk itu ikut menghiasi private gallery LV milik Lia sebagai coffee table di ruang penerimanya. Salah satu trunk made-to-order tersebut akan ditampilkan di pameran Time Capsule Louis Vuitton di Jakarta. Pameran ini merupakan pameran berjalan yang telah dibawa ke banyak kota, antara lain Los Angeles, Hong Kong, Singapura, dan Melbourne. Ekshibisi Time Capsule menunjukkan perjalanan sejarah Louis Vuitton serta inovasi dalam teknologi dan desain yang dilakukan oleh Maison Louis Vuitton sejak tahun 1854 hingga kini. Perjalanan sejarah ini dinarasikan lewat benda-benda langka dan penting yang dipilih oleh Louis Vuitton dari arsipnya sendiri maupun koleksi pribadi pelanggannya. Setelah mendedikasikan satu rumah untuk koleksi LV dari era creative director Marc Jacobs, Lia rencananya akan membuat sebuah tempat lagi untuk koleksi LV dari era Nicolas Ghesquière. Dari kedua tempat ini kita akan bisa mengikuti evolusi desain Marc Jacobs, dan nantinya juga Nicolas. Walaupun demikian, di awal perpindahan creative director, Lia mengaku butuh waktu untuk menyesuaikan diri saat tampuk kepemimpinan desain berpindah dari Marc Jacobs ke Nicolas Ghesquière. “Karakter desain keduanya sangat berbeda. Waktu awal mengoleksi LV saya memang sudah terbiasa dengan karya Marc Jacobs yang menurut saya lebih feminin dan wearable di masa itu. Tapi seiring berjalannya waktu, tanpa disadari saya pun berubah menjadi sosok yang sekarang ini, yaitu harus turun tangan sendiri mengurus perusahaan dan lebih banyak terjun ke lapangan. Jadi dalam berbusana pun saya ingin seminimal mungkin memikirkan detail dan pilihannya jadi lebih praktis. Kini saya merasa desain Nicolas justru sesuai dengan karakter saya, dan saya akhirnya kembali nyaman dengan LV karena saya sendiri pun berevolusi,” ujar Lia di akhir sesi pemotretan dengan Bazaar. Lalu, apakah ada koleksi yang masih diburunya hingga kini tapi belum berhasil didapatkan? “Ada, koleksi Louis Vuitton Tribute Patchwork bag dari era Marc Jacobs,” ujar Lia mantap. Semoga seseorang yang memilikinya membaca kisah ini dan tergerak untuk ‘melepaskannya’ bagi sesama pencinta Louis Vuitton ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.