Visi Untuk Anak Bangsa

BUKAN SEKADAR MEMBAHAS PRODUK, PERJALANAN Bazaar BERSAMA L’OCCITANE KALI INI BENAR-BENAR MEMBERI MAKNA MENDALAM TENTANG BETAPA PENTINGNYA KESEHATAN MATA PADA ANAK-ANAK.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents - OLEH ERICA ARIFIANDA

Pengalaman Bazaar ke Makassar dua bulan yang lalu bukan seperti perjalanan sebelum-sebelumnya. Kali ini tidak ada ulasan mengenai produk, tidak ada rilisan koleksi teranyar, yang kami lakukan di sana adalah mengikuti aktivitas program L’occitane Fondation bertajuk Union for Vision 10 by 20. Untuk Anda ketahui, program yang diterapkan secara global tersebut merupakan upaya L’occitane dalam menekan serta mencegah angka kebutaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bagi Anda yang akrab dengan label keluaran Provence ini, tentu pernah mendengar atau terlibat di dalam aksi sosial Union for Vision sejak beberapa tahun lalu, sebab kampanye tersebut akan terus berlangsung hingga tahun 2020. Khusus di tahun 2018 ini L’occitane mengajak Bazaar untuk melihat secara langsung tentang programnya di Indonesia yang dibantu oleh Helen Keller International (HKI), dan lokasi yang dipilih adalah Makassar. Bazaar tidak sendirian di misi ini. Dua orang ilustrator, Diela Maharanie dan Dinda Puspitasari serta kaligrafer, Chia Tjong, turut menemani kami. Di sana kami bersama tim HKI Indonesia mengunjungi sekolah SMPN 25 Makassar, dan mengikuti aktivitas eye screening atau tes mata terhadap murid-murid kelas 7. Pengecekannya dikerjakan oleh guru kesehatan didampingi dokter dari puskesmas setempat. Murid-murid tampak antusias begitu kami memasuki satu ruangan kelas yang dijadikan tempat pemeriksaan. Mereka berbaris rapi menunggu giliran sampai namanya dipanggil. Peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan ternyata cukup sederhana, yakni hanya sebuah Snellen chart berisi empat barisan huruf dengan ukuran berbeda ditempel di atas tembok, kemudian para murid diminta menyebut huruf yang ditunjuk dari jarak sekitar 3 meter. Menurut Wardhana Dipa yang merupakan Senior Program Coordinator HKI Indonesia, mata seorang anak masih dianggap normal apabila masih bisa melihat huruf-huruf di dua baris teratas.

“Jika tidak mampu melihat baris 1 atau baris 2, maka mereka dianggap memiliki masalah penglihatan dan perlu ditindaklanjuti,” ujar pria yang disapa Dipa ini. Lantas seperti apa prosesnya? “Guru mencatat nama anak itu, kemudian pihak sekolah akan mengirim surat kepada orang tua murid yang bersangkutan bahwa anaknya mempunyai masalah pada mata. Lalu menyarankan mereka untuk membawa sang anak ke puskesmas dilengkapi kartu BPJS guna penanganan berikutnya,” tambahnya lagi. Awalnya banyak murid yang lolos screening dan dianggap masih memiliki mata sehat, namun setelah itu beberapa anak diindikasikan bermasalah pada penglihatannya. Ada satu murid yang bahkan tidak mampu melihat huruf paling besar di Snellen chart, yakni saat Dinda Puspitasari bertindak sebagai penunjuk huruf. “Seketika perasaan saya campur aduk, kenapa baru sekarang terdeteksi yaitu sudah menginjak kelas 7 atau setara 1 SMP,” kata Dinda kepada Bazaar. Sebenarnya hal sejenis itu dapat dicegah lebih awal lewat bantuan para guru, sebab anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah, “Kalau ada murid-murid yang kerap memicingkan mata ketika membaca ke papan tulis, atau selalu maju ke depan untuk membaca tulisan papan tulis, sebaiknya para guru lebih sensitif dan memecahkan masalahnya,” saran Dipa. Maka tak heran apabila Dipa dan HKI Indonesia begitu gencar melakukan program yang berkaitan dengan kesehatan mata anak ke daerahdaerah di Indonesia. L’occitane Fondation pun akhirnya ingin mengembangkan program tersebut bersama HKI, pemerintah Sulawesi Selatan, Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI), Ikatan Refraksionis Optisien Indonesia (IROPIN) cabang Sulawesi Selatan, dan Gabungan Pengusaha Optik Indonesia (GAPOPIN). Jika Anda ingin turut serta terlibat di dalam program Union for Vision, L’occitane secara spesial mengeluarkan merchandise yang berkolaborasi dengan Diela Maharanie, Dinda Puspitasari, dan Chia Tjong. “Setiap penjualan satu merchandise, L’occitane akan menyumbangkan dua kepada HKI untuk program di Sulawesi Selatan,” ujar Angga Trikuntoro selaku Public Relations L’occitane Indonesia. Bicara tentang merchandise yang tersedia di seluruh butik L’occitane di Indonesia, Bazaar lantas berdiskusi tentang makna goresan yang dibuat oleh Diela, Dinda, dan Chia. Diela yang mendesain kaus, eye patch, dan scarf dengan dominasi warna vibran disertai sketsa unik, menyatakan pendapat tentang pentingnya kesehatan mata supaya tiap individu dapat meraih impian serta citacitanya. Ia juga berpesan agar kita terus membuka mata untuk melihat dan membantu mereka yang tidak dapat melihat. Di sisi lain, Dinda yang sketsanya kerap berkaitan dengan fashion, mendesain sosok perempuan mengenakan bingkai kacamata model cat eyes pada kaus dan scarf. Ia berharap kegiatan seperti di Makassar tidak hanya berhenti sampai di situ saja, perlu ada perluasan area khususnya di kota-kota kecil di Indonesia. Chia, seorang kaligrafer sekaligus ibu dengan satu anak, memiliki kekhawatiran lain seusai mengikuti kegiatan screening mata. “Saya akan mengajak teman-teman sesama orang tua agar lebih memperhatikan kesehatan mata anak-anak sejak dini, sebab penglihatan itu nyatanya sangat penting,” ujar Chia yang membuat notebook berisi quote positif tentang mata serta penglihatan, dan sketsa dengan motif kelopak bunga bergaris-garis sebagai interpretasi dari iris mata. Dengan berakhirnya kunjungan di Makassar ini, Bazaar merasa sangat berterima kasih dapat terlibat dalam program Union for Vision. Melihat langsung aktivitas screening mata, berinteraksi bersama anak-anak murid yang begitu ceria dan lugu, dan menyaksikan sendiri bahwa sesungguhnya mereka sangat membutuhkan perhatian lebih tentang kesehatan mata. Setuju dengan pendapat para ilustrator di atas, semoga kegiatan atau program serupa tidak berhenti sampai di sini saja, marilah lebih peka terhadap kesehatan mata demi generasi penerus bangsa di masa depan. n

Produk L'occitane yang sejak lama memang khusus dibuat untuk mendukung program Union for Vision.

Diela membantu sebagai penunjuk Snellen chart.

Dua ilustrator, Dinda Puspitasari dan Diela Maharanie, berfoto dengan kaligrafer Chia Tjong.

Saat proses screening mata.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.