Fashion Conscious

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents -

MODE MENGUSUNG PERBEDAAN DEMI GENERASI YANG LEBIH POSITIF. OLEH VERONICA ARVIANA

Lebih dari sepertiga hidup saya dihabiskan untuk berdiet. Ya, sejak memasuki usia remaja, rasanya tidak ada hari tanpa menggerutu karena merasa tidak puas dengan refleksi bentuk tubuh di kaca. Ragam jenis diet dan program olahraga pun sudah dijalani. Bahkan saya pernah mengalami bulimia ketika berusia 19 tahun karena merasa ketakutan dengan apa yang saya konsumsi. Dan ketika pulih dari bulimia, saya justru mengalami kenaikan berat badan secara berkala. Hingga ketika memasuki dunia kerja, kesibukan di kantor ikut berkontribusi terhadap kenaikan berat sebanyak 27 kg. Saya memiliki bentuk tubuh yang standar untuk ukuran perempuan Asia. Dengan tinggi kurang dari 160 cm, berat badan pernah mencapai 86 kg. Gerak tubuh yang semakin terbatas akhirnya mendorong saya untuk menemui nutrisionis di sebuah rumah sakit. Melalui pengaturan menu makanan sehat dan jadwal olahraga yang cukup intens, saya pun berhasil menurunkan 25 kg hanya dalam waktu empat bulan. Tapi keadaan tersebut tidak bertahan lama. Selama empat tahun berikutnya, berat badan naik turun tidak menentu. Berat badan bisa kembali naik sebanyak tiga kilogram dalam kurun waktu satu minggu, dan dengan mudah turun kembali setelah berolahraga. Terus menerus seperti itu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai jurnalis mode full time, dan fokus pada isu kesehatan diri sendiri. Dalam perjalanan mencari dan menemukan diri untuk merasa lebih baik, saya pun menimba banyak pelajaran dan tambahan ilmu dari berbagai sumber. Khususnya perempuan-perempuan lain yang pernah berada di titik terendah hidup mereka akibat isu obesitas. Saya sendiri pun tergabung di komunitas BBG (Bikini Body Guide) Army, sebuah komunitas yang diinisiasi oleh instruktur olahraga asal Australia, Kayla Itsines, dan sangat populer di sosial media. Tujuannya, untuk saling menginspirasi dan memotivasi satu sama lain. Namun saya menyadari, usia perempuan yang kini bergabung dalam komunitas yang sudah mencapai 10 juta subscriber ini, semakin hari semakin muda. Ketika mengenal program Kayla di tahun 2013, saya teringat bahwa kebanyakan pengikutnya berusia 25 hingga 40 tahun. Kini, remaja berusia di bawah 17 tahun pun sudah mendaftar untuk mengikuti program yang dijual online. Hal ini pun semakin diperkuat ketika saya bertemu dengan rombongan remaja berusia 15 tahun lengkap dengan seragam sekolahnya di gym beberapa waktu lalu. Berdiri berdampingan di ruangan dengan tembok kaca, saya menyadari betapa sebagian besar bentuk tubuh remaja-remaja ini sudah sangat terdefinisi. Mulai dari bentuk pinggang hingga panggul dan paha, dengan garis-garis tipis otot yang menonjol. Pembawaan diri mereka pun terlihat berbeda dibandingkan dengan saya dan teman-teman ketika kami berusia 15 tahun. Dan membuat saya bertanya-tanya, siapakah role model mereka?

Ketika kakak beradik Hadid muncul di panggung mode New York Fashion Week tahun 2014, karier keduanya langsung melonjak seiring dengan pertambahan jumlah pengikut di akun sosial media masing-masing. Saat itu, keduanya belum genap berusia 20 tahun. Kebanyakan pengikut Gigi dan Bella Hadid adalah remaja-remaja muda Amerika yang juga mengidolakan Kendall Jenner sejak sebelum ia muncul di runway pada tahun yang sama dengan Hadid sisters. Ketiganya seakan membangkitkan kembali memori supermodel di tahun ‘90-an. Dibandingkan dengan kebanyakan model tulang belulang terbungkus kulit pucat yang kerap dijumpai di belakang panggung mode Milan dan Paris, ketiga persona ini merupakan visualisasi tubuh remaja yang ideal dan sehat. Tinggi semampai, kulit sun-kissed tanned, dan rambut yang tergerai indah. Tidak heran bila pengguna aplikasi Instagram, yang kebanyakan adalah remaja muda, ikut terdorong untuk tampil serupa dengan idola mereka demi alasan estetika dan visual. Termasuk di Indonesia. Valerie Thomas, putri dari pasangan Jeremy dan Ina Thomas, yang kini memiliki 1 juta pengikut di sosial media, dan sahabatnya Jasmine Gilles, termasuk dua sosok yang menjadi panutan remaja putri di Indonesia. Tidak sedikit perempuan muda yang kini lebih peduli dengan penampilan dan bentuk tubuhnya, semata untuk kepentingan posting saja. Sosial media telah menjadi ajang pamer keunggulan diri. Tanpa disadari secara psikologis manusia ingin menampilkan sisi terbaik mereka demi menuai respons dari orang lain. Dan memang sejak awal Instagram diciptakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia bersosialisasi di era modern. Lantas apa tolok ukur yang ideal? Apakah sosial media hanya menjadi tempat bagi mereka dengan fisik yang nyaris sempurna? Entah disempurnakan oleh teknik editing, filter kamera, atau natural. Sebaliknya, fashion mencatat tahun 2018 sebagai tahun diversitas. Terhitung sejak awal tahun ini, runway New York, London, Milan, hingga Paris, menampilkan semakin banyak perbedaan di atas panggung. Angka menunjukkan peningkatan sebanyak 15% dibandingkan dengan tahun 2015. Model dengan ragam warna kulit, ras, jenis kelamin, bentuk tubuh, dan usia, marak meramaikan daftar casting runway hingga menghiasi billboard kampanye iklan dan majalah mode. Di akhir pergelaran Fall/winter 2018, tercatat sebanyak 64 transgender, 30 model berukuran plus size, 14 model di atas usia 50 tahun, dan 34.5% model non-white, turut berpartisipasi. Demikian pula dengan Balenciaga yang menggunakan model berusia di atas 50 tahun untuk kampanye iklan terbarunya. Sedangkan Louis Vuitton menunjuk model transgender Teddy Quinlivan. Label aksesori David Yurman yang biasa menggandeng top model seperti Kate Moss sebagai muse-nya, musim ini menampilkan sosok model berukuran 14, Ashley Graham. Lain halnya dengan Kenzo yang menampilkan 80% model dengan campuran ras, dan Bottega Veneta yang menggunakan model asal Korea, Choi Sora, dalam kampanye globalnya. Secara positif, mode pun ingin memberikan edukasi kepada generasi muda untuk meniadakan perbedaan seiring dengan perkembangan sosial media sebagai alat dan wadah penyampai berita. Dan sangatlah penting untuk menampilkan fakta yang bersifat mendukung segala perbedaan demi generasi yang lebih liberal. Kita pun tidak bisa lagi lari dan menghindar dari kenyataan bahwa tolok ukur kesempurnaan di sosial media tidak lagi dilihat dari isi atau konten, melainkan dinilai dari jumlah pengikut atau likes dan engagement antara sang empunya akun dan publik. Tetapi demi alasan bertahan dan tetap ter-update, saya pun tidak bisa mengesampingkan hal ini. Bahkan ada masa ketika saya sudah merasa jenuh dan ingin menutup akun sosial media pribadi, agar tidak merasa tertekan ketika melihat kesempurnaan hidup orang lain. Meskipun kesempurnaan gambar hanyalah rekayasa semata. Namun pada akhirnya, apapun bentuk tubuh, wajah, kulit, maupun rambut Anda, kepercayaan diri dan pikiran yang positif adalah busana terbaik yang bisa dikenakan setiap harinya.

Gigi Hadid memimpin closing Missoni sebagai runway yang paling menunjukkan diversity musim Fall/winter 2018

Jacquemus Dries Van Noten Model hijab berkebangsaan Denmark, Amina Adan untuk Max Mara

Vetements Model plus size Ashley Graham untuk Prabal Gurung

Model transgender Teddy Quinlivan untuk Paco Rabanne

Alexander Mcqueen

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.