Makna Orisinal Versus Duplikasi

DALAM EKSHIBISI SENI KALI INI ANDA SEOLAH DIBUAT ‘BERPIHAK’ KEPADA TINDAK PENYALINAN. NAMUN SETELAH MENELUSURI SELURUH INSTALASINYA, PARA PENGUNJUNG JUSTRU KELUAR DENGAN PERASAAN POSITIF. OLEH ERICA ARIFIANDA

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents -

Setelah membaca artikel tentang wawancara Harper's Bazaar bersama Maurizio Catellan pada edisi Oktober 2018 lalu, Anda tentu membayangkan kira-kira seperti apa pameran The Art Is Present yang ia deskripsikan secara jenaka tersebut. Sekadar mengingatkan, isi perbincangan mengenai pameran seni yang digagas oleh Alessandro Michele selaku Creative Director Gucci tersebut merupakan refleksi terhadap pemikiran bagaimana orisinalitas dapat dilestarikan lewat salinan (copy). Ya, konsep “the copy is the original” memang menjadi tajuk utama yang cukup nyeleneh, tapi nyatanya sangat menarik untuk dilihat dan tentu, dipahami. Hal itu yang Bazaar rasakan begitu melihat langsung ekshibisinya, apalagi ketika melihat poster resmi The Art Is Present secara terang-terangan menjiplak poster pameran seniman Marina Abramovic (dengan judul yang sama). Lokasi yang ditunjuk untuk memperlihatkan ekshibisi ini adalah Yuz Museum dengan lokasi di tengah kota Shanghai. Kenapa Shanghai? Menurut Alessandro dan Maurizio, kota metropolis di China ini dirasa sempurna dengan konsep “meniru”, “menyalin”, dan “memalsukan” yang memang sudah menjadi bagian dari kultur Timur. Sudah menjadi fakta di budaya Timur bahwa orisinalitas dan menyalin adalah konsep yang memiliki koneksi, yang juga dapat berubah statusnya tergantung dari konteksnya. Hal itulah yang justru tidak dapat dipahami jika dilihat dari pandangan individu di Barat. Contohnya adalah Duomo di Milan yang sudah berulang kali dibangun menggunakan material baru untuk mempertahankan bentuknya selama berabad-abad, begitu pula dengan kuil Buddha, tetapi tidak ada yang berargumen bahwa bangunan itu bukanlah monumen penting sebelumnya, sampai akhirnya mereka (bangunan tersebut) berantakan. Konsep mengagumkan di atas lantas menjadi bagian dari kultur Timur selama bertahun-tahun, bahwa sebuah salinan bukanlah berarti kehilangan keunikannya, namun lebih baik mereka bermain lewat peran yang setara dengan orisinalitas.

THE EXHIBITION

Pameran hasil kolaborasi dunia fashion dan seni ini diwujudkan menjadi 16 ruangan yang diisi dengan banyak instalasi tunggal maupun gabungan. Masuk ke dalam ruangan pertama, Bazaar disambut dengan lorong panjang kosong yang terbagi menjadi dua bagian warna, yakni Baker-miller pink (seperti neon pink) dan fluorescent blue. Ruangan karya Kapwani Kiwanga ini terinspirasi dari penemuan dr. Alexander Schauss pada tahun 1978 yang membuktikan bahwa pendar warna Baker-miller pink memiliki efek untuk meredam aksi agresif karena mampu menurunkan detak jantung, nadi, dan pernapasan. Analisis itu disebut sukses ketika

tembok di sebuah penjara di Seattle dicat menggunakan warna tersebut, lalu para narapidana bertahan tenang selama beberapa jam, walaupun kemudian mereka mengelupas cat tembok itu menggunakan kuku. Sedangkan warna fluorescent blue sering digunakan pada kamar mandi klub untuk meminimalisasi hasrat untuk memakai narkoba. Dalam hal ini, Kapwani mengundang Anda untuk berpikir tentang implikasi sosial mereka, apakah benar warna biru memang benar-benar mencegah penggunaan narkoba atau ruangan itu simpel hanya menyulitkan pemakaian jarum suntik? Dan juga, pertanyaan tentang apakah benar jika ruangan arsitektur pink tersebut dapat mengontrol tubuh serta perilaku agresif, atau mereka hanya terpaksa diam karena habis direlokasi? Ada pula karya Xu Zhen© yang menempelkan bagian leher patung bodhisattvas dan figur kepercayaan China lainnya dengan patung Parthenon. Seniman yang mengusung konsep East meets West ini seolah ingin memulai dari poin, jika Anda menerima peradaban Anda sendiri, maka Anda akan sadar bahwa peradaban itu tidak memiliki batasan. Setelah itu Margaret Lee dari New York dikenal pernah membangun enam instalasi jendela dengan set ruangan dapur, kamar mandi, dan kamar anak bernama Having It Both Ways untuk Barney’s New York di Madison Avenue. Instalasi itu fokus menggambarkan konsumerisme produk mewah. Di Art Is The Present, ia membangun replika salah satu jendela tersebut, yakni instalasi dapur dengan menyertakan mantel faux fur Gucci. Margaret secara surealis serta jenaka ingin melukiskan ide tentang kemandulan dan keistimewaan yang bertentangan satu sama lain. Ruangan no.6 hasil kreasi Maurizio Catellan menjadi salah satu instalasi yang terbilang istimewa, sebab ia membuat bangunan dengan skala 1:6 berupa replika Kapel Sistine yang lengkap bersama tiruan lukisan karya Michaelangelo pada seluruh interiornya. Karya tersebut diberi judul Untitled (2018). Maurizio terinspirasi dari replika life-size Kapel Sistine, Vatikan, yang juga pernah ditampilkan oleh salah satu seniman di Meksiko, dan proyek tersebut sukses menyedot perhatian pengunjung untuk melihatnya. Karena mereka nyatanya tak perlu jauh-jauh ke Roma untuk melihat mahakarya yang sangat populer itu. Beralih menuju ruangan no. 9 yang walaupun terlihat berukuran kecil namun berisi karya-karya dari delapan seniman. Karya Maurizio yang berjudul Made in Catteland ditampilkan lagi di sana, yakni berbentuk patung-patung miniatur keramik termasuk toilet emas milik Donald Trump.

Karya lain yang juga menarik adalah milik Li Pingyuan dengan judul Today Series. Ia membuat lukisan tipografi tentang tanggal hari itu setiap harinya, dan ia sudah mulai melakukan kegiatan tersebut sejak tahun 2014. Sebelumnya pionir yang menggarap ide ini adalah On Kawara, seniman asal Jepang. Li Pingyuang mengaku bermimpi bertemu dengan sosok yang ia percaya sebagai On Kawara, yang kemudian menyarankan Li untuk meneruskan karya populer tersebut. Tas Gucci tipe Sylvie yang terbuat dari Lego juga menyedot perhatian. Itu adalah karya Andy Hung, seorang seniman yang sejak kecil gemar menghabiskan waktu berjam-jam untuk membangun gedung serta karakter menggunakan Lego. Dalam pengerjaan tas tersebut, ia menggunakan 1.000 buah Lego tipe standar dan custom-shaped, yang akhirnya selesai selama tiga minggu. “Hal yang paling sulit saat membuat tas itu adalah ketika mencoba mereplika tekstur dan bentuk kulit untuk menciptakan garis serta wujud serupa aslinya,” kata Andy. Selain beberapa seniman di atas, masih banyak karya seniman lain yang kreasinya sudah ada sebelum proyek The Art Is Present dijalankan atau memang karya baru. Mereka di antaranya John Ahearn (with Rigoberto Torres), John Armleder, Nina Beier, Brian Belott, Anne Collier, Jose Dávila, Wim Delvoye, Eric Doeringer, Sayre Gomez, Matt Johnson, Jamian Juliano-villani, Ragnar Kjartansson, Josh Kline, Louise Lawler, Hannah Levy, Ma Jun, Nevine Mahmoud, Aleksandra Mir, Pentti Monkkonen, Philippe Parreno, Jon Rafman, Mika Rottenberg, Reena Spaulings, Sturtevant, Superflex, Oscar Tuazon, Kaari Upson, Danh Vo, Gillian Wearing, Lawrence Weiner, Christopher Williams, Xu Zhen®, Yan Pei-ming, Damon Zucconi. Ekshibisi ini digelar dari bulan Oktober hingga Desember 2018.

THE CELEBRATION

Tak hanya melihat seluruh karya The Art Is Present secara eksklusif, Bazaar juga diundang menghadiri malam pembukaannya. Pesta itu dihadiri langsung Alessandro Michele dan beberapa seniman yang terlibat termasuk sang kurator, Maurizio Catellan. Tampak tamu VIP yang datang meramaikan seperti global ambassador Gucci, Ni Ni dan Chris Lee, lalu Liu Wen, Yoyo Cao, dan Carina Lau. Area lantai mezzanine gedung Yuz Museum disulap menjadi pesta koktail sophisticated yang sengaja diberi atmosfer cahaya kemerahan. Tamu undangan juga dihibur dengan penampilan whistling extraordinarie dari musisi Molly Lewis, Drew Erickson, dan band indie-rock asal China, Da Bang. Pameran The Art Is Present mungkin dapat dilihat sebagai manifesto berdasarkan konsep: bahwa apresiasi terhadap suatu karya bergantung pada keterlibatan dengan ide-ide, dibanding pada kepuasaan sederhana dari keaslian sebuah karya seni. Anda bagaikan melihat sebuah pertunjukan yang mengeksplorasi bagaimana "orisinalitas" dapat diraih lewat aksi "pengulangan", dan bagaimana "keaslian" itu nyatanya dapat dilestarikan melalui "salinan".

Liu Wen Maurizio Cattelan Chris Lee & Alessandro Michele Ni Ni

Instalasi ruangan pertama karya Kapwani Kiwanga

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.