Harper's Bazaar (Indonesia)

MORE THAN LUCK & LOOK

DAVE HENDRIK MENDALAMI LIKA-LIKU HIDUP DIAN SASTROWARD­OYO YANG TAK KASATMATA.

-

DAVE HENDRIK (DH): Masa sih kamu sudah 25 tahun berkarya?

DIAN SASTROWARD­OYO (DS): Kalau dari tahun ‘99 sih sudah, kan saya tahun itu bermain Bintang Jatuh, jadi tanpa saya ingin mengakui ternyata saya seperti hampir di usia menikah kalau jadi anak perempuan.

DH: How does that make you feel?

DS: I feel ancient. I started very young juga ya. Tapi semenjak Michelle Yeoh dapat Oscars di umur 62 tahun, saya merasa “Oh, 62 is the new 40 kayaknya deh, kalau misalnya masih mau aktif berkarya sepertinya masih ada jalannya selama kamu masih mau membuka diri dan kreatif, untuk enggak cuma menunggu aja, tapi juga initiate proyeknya. Makanya saya terinspira­si banget dengan Margot Robbie. Di Barbie kan dia yang bawa idenya ke Mattel, dia yang membujuk Greta Gerwig untuk mau menulis dan mau men-direct. Project itu dia enggak cuma memproduks­i aja tapi dia juga memberi stage buat dia perform sebagai aktris. Dan itu sudah dia lakukan dari I, Tonya. Dan ternyata bukan dia saja, Charlize Theron has been doing the same thing, tanpa dibikin sebagai news value. Ternyata kalau misalnya kamu mau terus-terusan itu memang harus dari kamunya, to make your own project happen, enggak bisa nih kita duduk cantik minta “dilamar” sama produser. Sudah enggak bisa begitu. DH: Kapan kamu menyadari hal itu?

DS: Sebenarnya saya menyadari sudah dari sebelum pandemi, makanya saya sudah mulai produce, cuma waktu pertama kali saya belajar producing, saya belum menangkap atau masih belum berani mengambil center stage-nya, jadi saya memproduks­i sesuatu yang saya menjadi supporting actress bukan sebagai main actress. Nah, misalnya sutradara sudah dapat funding, kamu misalnya sebagai restaurate­ur kamu sudah dapat chef, dana, dan tempat. Kemudian kamu mengawal itu dari developmen­t, penulisan script, sampai akhirnya terwujud tepat waktu, dengan spesifikas­i dan kualitas yang disetujui, jadi kalau misalnya penulis enggak perform, itu kamu yang mendonder dan mulai mandorin dari awal sampai selesai. Dan ternyata struktur berpikirny­a itu beda banget Dave, kalau kamu lagi jadi creator atau director. Itu seperti different mindset yang enggak bisa barengan menurut saya. Makanya saya enggak pernah berani kalau misalnya sedang men-direct film pendek, saya enggak pernah berani meng-cast diri sendiri sebagai pemain.

DH: Tapi berarti kamu juga termasuk seniman yang cukup tahu batas diri? DS: Sepertinya lumayan, at least buat diri saya sendiri. Sekarang belum bisa, tapi mungkin one day.

DH: Terus 25 tahun looking back, pinnacle-nya buat kamu apa?

DS: Kemarin Gadis Kretek lumayan pinnacle sih, saya sangat bersyukur dengan kesempatan yang tetap datang ke saya di usia ini. It’s such a flattering opportunit­y, and I’m very humbled. Saya seperti ketiban durian runtuh, yang saya harus pergunakan sebaik-baiknya, enggak bisa saya sia-siakan. I’m very grateful I can still be around in this industry. Saya tahu rasanya menjalani beberapa tahun yang sepi. It’s not always fantastic. Itu juga dialami oleh semua aktor, even me. Saat itu akhirnya saya ambil hiatus, saya ngantor selama 6 tahun karena saya sudah benar-benar siap banget untuk mungkin sudah sampai segini saja di dunia film.

DH: Setelah 6 tahun itu apa titik baliknya?

DS: Pas akhirnya saya kembali malah sudah menikah dan punya dua anak, tiba-tiba saya melihat industri film sudah mulai berubah banget. Orang-orang membuat film selama 14 hari dan sudah mulai pakai digital. Dulu zaman saya membuat film itu satu bulan setengah dan memakai film. Kemudian sudah mulai masuk OTT, sudah diangkat dari daftar negatif investasi di BKPN. Semuanya berubah, CGV masuk, Blitz masuk, jadi pemainnya bukan 21 saja. I can really see the shift in the industry. Jadi ramai, and I want to be a part of it.

DH: Berarti karena panggilan diri juga?

DS: Ada, jadi the next time around saya masuk lagi ke film tahun 2013, I made a conscious decision that I want to be a part of this industry. Tapi saat itu saya membuat janji pada diri sendiri kalau saya mau menjadi bagian dari industri ini, tapi saya enggak mau hanya berakting saja. Karena saya terpancing untuk mengembang­kan diri, untuk bisa memberi bentuk ke industri. Makanya saya belajar producing, directing karena kalau saya mau industri ini berkembang ke arah yang saya inginkan, saya merasa harus berkontrib­usi di belakang layar. DH: Sebelumnya kamu mengakui bahwa things are not always rosy. Pernah mengalami enggak ada tawaran sama sekali, terus digabungka­n dengan yang terakhir kamu bilang sepertinya enggak bisa cuma duduk manis menunggu kesempatan. Apakah itu “kawin”?

DS: “Kawin” banget, bahkan sepertinya sampai sekarang saya masih kadang-kadang tidak mendapatka­n peran yang saya mau. Bahkan sekarang pun saya itu terkadang melihat peran yang bagus banget didapatkan oleh teman saya. Tapi ternyata saya menyadari bahwa memang mungkin beberapa sutradara memang tidak melihat sosok saya sebagai aktor yang cocok untuk peran yang seperti itu. Sementara yang saya ingin itu peran-peran yang challengin­g, sesuatu yang saya belum

pernah dapat. Terkadang sutradara itu enggak bisa membayangk­an saya itu bisa memainkan sesuatu yang berbeda. Berarti kan sebenarnya mereka harus dikasih ide. Harus ada bahan brainstorm­ing. Jadi menurut saya inisiatifn­ya harus dari saya, dan biasanya saya jadi introspeks­i juga. Mungkin jangan-jangan saya sebagai aktor tidak dilihat sebagai blank canvas.

DH: And looking back, what did you do?

DS: Akhirnya saya ngajak ngopi dan kenalan director yang saya idolakan, yang saya belum kenal.

Waktu itu saya approach Edwin, Timo, dan ternyata makin ke sini saya belajar bahwa diam-diam teman-teman saya itu “gerilya” begitu semua.

Hangout dengan director atau produser yang mereka mau associated with, dan justru saya belajar dari mereka atau mereka belajar dari saya. I am always open about this.

DH: But you do realize by sharing this informatio­n out loud, you somehow handing the cheat code for the others?

DS: Iya, enggak apa-apa, karena menurut saya memang harus begitu kalau mau industriny­a berkembang, jadi lebih banyak aktor akan dapat lebih banyak kesempatan sehingga aktornya enggak itu-itu doang yang dipakai. Menurut saya itu lebih sehat dan director juga jadi dapat lebih banyak inspirasi kalau kenal aktornya. Jadi jangan ngegeng secara eksklusif dengan yang mana doang. Bisa jadi waktu mengobrol bisa nyambung dan tiba-tiba bisa kepikiran bikin project apa gitu. Justru dengan sharing seperti ini harapannya industri semakin seru lagi, misalnya ada director yang tumbuh dari aktor atau sebaliknya. DH: Kalau ngomongin titik terendah di perjalanan 25 tahun ini, apa ceritanya? DS: Ada, saya perlu merenungka­n sih, tapi saya bisa ingat ada satu titik yang sepertinya itu one of the low. Itu sepertinya tahun 2008, “Udah deh, kayaknya filmnya udah dulu deh.” Terakhir saya syuting Drupadi terus saya enggak mengambil film-film lagi karena kebetulan saya kurang senang dengan apa yang ditawarkan, lagi enggak seru, dan saya mulai punya quarter life crisis. Terus saya bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya saya memang ingin main film atau enggak sih, kan saya enggak pernah decide juga.” Saya merasa semi “tercebur” ke film. Pertama showbiz itu selalu sebuah jalan untuk mencari uang sampingan, but it’s never the end goal. Main goal saya sebenarnya adalah ingin sekolah ke luar negeri, yang enggak pernah terwujud juga sampai sekarang. Jadi di situ saya mengambil keputusan berani, keluar dari comfort zone. Saat melakukann­ya, saya meninggalk­an semua atribut saya. Masuk ke dunia consulting atau kantoran, jadi anak bawang lagi. Tapi sebenarnya itu sangat baik untuk saya. Itu one of the low, gue digojlok sama klien, dianggap enggak kompeten karena saya artis. Di situ saya benar-benar go the extra mile untuk bisa membuktika­n kemampuan saya di luar my look, my luck, karena saya merasa dunia film di fase awal it was purely luck. Dengan saya masuk kerja di dunia kantoran itulah akhirnya saya membuktika­n kalau saya bisa kerja, I survived three and half years in an American consulting company, saya dipromosik­an dari business analyst menjadi associate consultant. Terus saya resign dan menikah. Pas balik ke dunia film saya malah bersyukur banget pernah keluar. Berkat segala cobaan yang saya rasakan saat itu, ketika kembali lagi ke dunia film saya jadi punya etika kerja yang berbeda banget, saya jadi jauh lebih bersyukur.

DH: Tadi kamu mempertany­akan soal menjadi aktor itu pilihan atau pure luck. Sepertinya it’s given begitu saja dan kamu enggak pernah memilih. Tapi sekarang you can proudly say that…

DS: It is my decision, karena saya sudah sempat merenung beberapa tahun dan akhirnya sudah punya alasan yang sangat bagus kenapa saya mau menjadi seorang aktor. Karena ternyata saya belajar banget bahwa kalau kita membesarka­n film Indonesia, kita itu seperti “menjual” negaranya ke seluruh dunia, apalagi sekarang film itu sudah bisa crossover lewat panggung internasio­nal.

DH: Apa yang bisa kamu katakan untuk Dian Sastroward­oyo muda? DS: Looking back saya akan bilang, sepertinya dulu saya kewalahan banget dengan popularita­s AADC yang diberikan ke saya, sehingga saya seperti merasa terjebak. I didn’t ask for this.

DH: And nobody prepared you for it afterward?

DS: Saat itu belum ada industri segede itu, fandom sebesar AADC sebelumnya, jadi enggak ada yang siap. So, I think I wasn’t ready, I was really overwhelme­d. Saya belum sempat memproses apa yang terjadi dan saya banyak marah karena belum siap untuk ditaruh di pedestal setinggi ini. Saya akan bilang pada diri saya yang dulu untuk memberikan waktu untuk memproses apa pun perubahan dalam hidup.

DH: Tentang beauty privilege, menurutmu are you privileged because you are beautiful?

DS: I guess I am very generously endowed by this nature. I am so grateful to have this physical appearance. Yang ini enggak bisa saya ambil credit, karena ini bukan kerja keras saya. Tapi saya selalu enggak mau untuk nyaman dan “Ya sudah karena saya cantik ya sudah enggak usah lagi berusaha,” karena menurut saya itu enggak adil. Orang-orang luar sana itu perlu berjuang dan membuktika­n dirinya dengan berbagai cara untuk bisa perform dan stand out di bidang mereka masing-masing, kok bisa-bisanya kita enggak perlu.

DH: They say when you reach 40, everything clicks in a good way, do you feel that too?

DS: Ada yang iya, ada yang enggak. Saya jadi punya wisdom untuk enggak terburu-buru mengambil kesimpulan. Memang ada hitam, abu-abu, dan putih, tapi saya tetap bisa kerja kok dengan yang hitam sekalipun. Bahkan saya menemukan my newfound femininity.

DH: Really?

DS: Saya justru merasa lebih atraktif di saat berumur 40 dibandingk­an saat umur 36 atau 37. Dan enggak tahu kenapa saya menemukan the click of new routine in health. Saya tahu harus melakukan apa supaya saya merasa nyaman dengan diri sendiri. Ternyata pengaruhny­a ke macam-macam. Kamu enggak perlu menjadi diri yang bukan diri kamu, namun ini seperti sweet spot antara being true to yourself, but being comfortabl­e, but you still feel sexy anyway. Dan sekarang saya seperti menemukan a new level of comfort. ■

“SAYA AKAN BILANG PADA DIRI SAYA YANG DULU UNTUK MEMBERIKAN WAKTU UNTUK MEMPROSES APA PUN PERUBAHAN DALAM HIDUP.”

 ?? ??
 ?? ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia