ONE LOVELY DAY

Sang pria melamar kekasihnya di kota paling romantis di dunia dan pernikahan mereka berlangsung di pulau paling romantis di Indonesia. Gambar-gambar indah ini menceritakannya. Oleh Febe R. Siahaan

Harper's Bazaar Wedding Ideas (Indonesia) - - FASHIONABLE WEDDING -

Ketika sang wanita menunggu untuk sebuah comment di Facebook dan yang muncul kemudian adalah permintaan nomor telepon dari sang pria, seperti itulah kira-kira mulanya cinta bersemi di antara desainer Peggy Hartanto dan Marcel Gunawan. Mereka pertama kali bertemu di acara ulang tahun gereja, di mana Peggy menyanyi di kelompok paduan suara dan Marcel bertugas merekam acara tersebut dengan video. Peggy sangat terkesan akan hasil editing yang dilakukan Marcel dalam waktu singkat, kemudian memuatnya di akun Facebook-nya. Hal ini berlanjut ke tombol add friends dan lewat sarana itulah Marcel memberanikan diri meminta nomor telepon Peggy.

Kelanjutannya adalah kisah cinta dalam hubungan pacaran selama tujuh tahun, yang diakhiri dengan Marcel melamar Peggy dengan sangat romantis. “Jadi ternyata Marcel telah menyiapkan cincin untuk melamar lama sebelum dia benar-benar melamar saya. Waktu itu saya sedang berada di Paris Fashion Week untuk mempromosikan busana karya saya, kemudian Marcel menyusul. Dia hanya bilang mau membantu saya di sana,” ujar Peggy mengawali cerita.

Seperti sudah diduga, Marcel tidak hanya ingin membantu, tapi ia telah menyiapkan sebuah marriage proposal, lengkap dengan video yang melibatkan keluarga dan teman-teman terdekat Peggy. Di hari terakhir mereka di Paris, Marcel mengajak Peggy ke Palais Royal. Sayangnya, taman itu tutup di hari itu, sehingga lokasi dipindahkan ke dekatnya. Marcel kemudian menunjukkan video yang sudah ia buat ke Peggy, dan sambil Peggy menonton video tersebut, Marcel telah siap dengan sebuah buket bunga. Setelah Peggy selesai menonton video tersebut, sambil menyodorkan buket bunga Marcel berlutut meminta Peggy menikah dengannya. Jawabannya tentu saja: ya!

Rumah Luwih, hotel bergaya rumah bangsawan di era kolonial yang menghadap ke Samudra Hindia, menjadi setting yang dipilih untuk pernikahan Peggy dan Marcel. “Menikah di Bali memang telah menjadi impian kami berdua. Kami memilih Rumah Luwih karena bangunannya luas dan didominasi warna putih. Bagi saya, Rumah Luwih itu seperti kanvas kosong. Kami sangat suka pemandangannya dan di sini tamutamu kami juga bisa ikut menginap, jadi kami bisa bersama-sama sepanjang acara,” ujar Peggy.

Beruntung Peggy dan Marcel memiliki waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan pernikahan mereka. “Saya ingin semuanya sempurna dan berjalan baik, dalam suasana pesta pernikahan yang berbeda dan sangat personal. Saya melakukan berbagai riset dan membuat wedding mood

board sendiri,” ujar Peggy lagi. Dan beruntung pula bagi Peggy, karena Marcel pun sangat membantu ketika ia dalam waktu bersamaan harus mempersiapkan koleksinya untuk Woolmark Prize di Korea, yang terjadi hanya beberapa hari sebelum hari pernikahannya.

Hasilnya bisa dilihat di halaman-halaman ini. Sebuah perhelatan yang cantik dan elegan, dengan warna putih, biru, dan dusty blue menghiasi acara pemberkatan, teapai, hingga resepsi. Nuansa warna yang modern ini menyatu dengan arsitektur Rumah Luwih yang klasik. Suasananya seperti yang diungkapkan Peggy: magical!

Impian seorang gadis tentang hari pernikahannya yang terwujud sempurna. Dan yang terpenting, dikelilingi oleh orang-orang tercinta dalam suasana yang intim dan bahagia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.