Menikmati Waktu di Muravandhoo

Herworld (Indonesia) - - Travel -

Jauh tersembunyi di Maladewa Utara, RENGGANIS PARAHITA turut jadi bagian dalam pesta pembukaan akomodasi baru yang berada di pulau terpencil berikut.

Joali namanya. Diambil dari bahasa setempat yang berarti tempat duduk untuk bersantai, ada rangkaian kisah manis yang harus saya bagi dari sini. Empat kali berpindah airport, tiga kali ganti pesawat udara, dan satu kali menggunakan

speed boat, trip yang memakan waktu hampir sepuluh jam ini nyatanya cukup menguras tenaga. Namun, semakin terpencil sebuah pulau tentu akan semakin bersih dan cantik lautnya, bukan?

The day-one services: Welcome to the island

Sejak tiba di Male Airport, Maldives, tim penjemput sudah siaga di area penjemputan dan langsung membawa saya ke lounge untuk menunggu pesawat terakhir tiba. Paspor dan segala urusan senantiasa diurusnya sehingga para tamu tinggal duduk santai sambil istirahat sejenak sebelum kembali mengudara dengan pesawat baling.

Setibanya di Ifuru, kami kembali dijemput untuk diantar menggunakan kapal air berkecepatan tinggi ke Joali yang terletak di Pulau Muravandhoo. Di sana, tim yang biasa disebut Jadugar ini ternyata akan jadi

private butler kami selama menginap.

Begitu sampai, lobi hotel nan artsy pun begitu kokoh di hadapan. Beratapkan jerami dengan bentuk asimetris, tempat ini lekas membuat bahagia karena kencangnya hembusan angin terasa serasi saat disandingkan dengan bangunan individual yang terletak di tengah perairan ini.

Ah, cantik! Setelah itu, kami pun langsung menaiki buggy untuk diantar ke kamar masing-masing.

The Room

Sesampainya di Luxury Beach Villa, Jadugar pun mulai menjelaskan bagaimana kamar kami bisa digunakan. Bagian ini cukup menarik. Di samping tempat tidur, tiap tamu akan mendapat satu buah tablet yang bisa dipakai untuk segala urusan. Membuka dan menutup tirai, menyalakan dan mematikan lampu, televisi, serta radio, menghidupkan speaker, mengatur suhu udara, sampai membuka dan mengunci pagar utama. Tak hanya itu, gadget ini juga terhubung dengan kamera kecil di luar pagar untuk mengetahui siapa yang datang saat bel ditekan. Anda pun bisa berbincang dengan mereka melalui intercom. Hampir semua sistem terkoneksi secara digital.

Beralih ke area yang lebih luas, dari keseluruhan 73 vila, masing-masing telah dilengkapi oleh sepasang sepeda, perpustakaan mini, kolam renang privat, gazebo, taman luas, kursi ayun yang Instagrammable, dan akses menuju pantai atau laut lepas berair jernih dan dangkal (bagi yang menginap di water villa). Bahkan jika memesan in-room

massager dari SPA by ESPA, mereka akan membawa foldable massage bed untuk

diinstalasi dalam ruang tamu, gazebo, atau pinggir infinity pool agar momen perawatan makin terasa eksklusif.

Ada enam tipe yang bisa dipilih, mulai dari Beach Villa, Water Villa, Sunset Water Villa, Luxury Beach Villa, Luxury Water Villa, hingga Luxury Sunset Water

Villa di mana tiap unit punya tatanan interior yang berlainan. Meski pilihan barangnya sama, cara mengaturnya memang dibedakan untuk menghindari rasa bosan dan makin menegaskan konsep art immersive yang diusung sejak awal. Ini yang membuat Joali jadi makin menarik dan homey.

The First Art Immersive Resort in Maldives

Pada dasarnya Joali sengaja dibangun untuk menonjolkan kearifan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai seni dan modernitas. Oleh sebab itu, penyatuan yang saya temui selama di sini selalu tampak unik dan menyenangkan hati. Di seluruh penjuru pulau, tersebar setidaknya 14 jenis karya ciptaan para seniman dunia yang telah dikurasi oleh lulusan art school terbaik dan bisa digunakan, difoto, atau hanya dilihat saja karena sifatnya amat publik.

Dari yang berbentuk bangku, kimono, meja mozaik, rumah pohon, tempat tidur gantung, hingga hiasan meja, bisa dilihat sambil berjalan kaki atau sekadar bersepeda santai. Rasanya seperti sedang mencari hidden

treasure! Dibekali oleh sebuah peta, Anda bisa menemukan barang-barang tersebut di sepanjang jalan, di dalam kamar, bahkan di bawah laut saat sedang meyelam. Seniman Turki, Spanyol, New York, Venzuela, Cape Town, Korea, Kanada, Inggris, hingga Israel turut berkontribusi dalam meramaikan

dekorasi resor sambil turut mewujudkan konsep ‘Joy of Living’ yang digadang-gadang. Maka tak bombastis jika mereka mengklaim akomodasi ini sebagai satu-satunya yang paling nyeni di Maladewa.

Bangunan lain seperti empat buah restoran yaitu Vandhoo, Mura Bar, Saoke, Her Kitchen, dan Bellinis, juga dirancang oleh para arsitek terpilih. Saoke misalnya. Menyediakan hidangan khas Jepang dan berbagai pilihan sake, tempat makan berkonsep dan bergaya Negeri Sakura ini benar-benar elegan dan mengagumkan karena dibuat oleh orang Jepang asli. Begitu pun

dining place lainnya. Semua serba anggun! Mura Bar dengan gaya ekletik dan tropikalnya hingga Vandhoo (breakfast

area) dengan sentuhan tradisional.

Kedekatan antara pengunjung dan masyarakat setempat pun turut dibangun melalui pertunjukan tari dan nyanyian. Bahkan beberapa jam sebelumnya, semua tamu diberi kain khas Maladewa dan buku cerita tentang kultur mereka agar para pengunjung tak hanya datang untuk pulang tanpa cerita melainkan mendapat pengetahuan baru tentang daerah yang dituju. Sungguh merupakan

engagement yang jarang ada di penginapan lain. Sarat seni dan tak meninggalkan akar budaya asli.

Lobi depan yang indah.

Hanging Chaise karya Parky Hefer, Seniman asal Cape Town, Afrika Selatan.

Kamar cantik untuk empat hari tiga malam.

Manta Tree House. Hasil cipta, rasa, dan karya Chris Wolston, USA.

Bersepeda menikmati resor.

Nacho Carbonell dan "Kursi Kepompong"-nya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.