MERAUP INSPIRASI NUSANTARA Kisah Anita Ratnasari membangun sarana pendidikan.

Herworld (Indonesia) - - Januari 2019 -

Tiga belas tahun bergerilya keluar masuk daerah terpencil membangun sarana pendidikan dan kesehatan demi memutus rantai kemiskinan. Berikut cerita Anita Ratnasari kepada SHANTICA WARMAN.

Sembilan puluh lima persen dari hampir 1000 anak asuhnya berhasil kuliah di beberapa universitas top Indonesia, seperti UI, ITB, IPB, Universitas Brawijaya dan STAN. “Bahkan mereka telah mampu berbuat kebaikan tak saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga serta masyarakat di lingkungan sekitar,” demikian tutur Anita Ratnasari tentang salah satu pencapaian yayasan CT ARSA (Chairul Tanjung Anita Ratnasari) yang sungguh membuatnya bangga sekaligus bahagia.

Pada sebuah Sabtu siang di rumahnya yang asri di kawasan Menteng, Jakarta, perempuan berwajah ayu ini bercerita tentang bagaimana ia mendapatkan banyak inspirasi dari kegiatannya berkeliling Indonesia, yang sebagian ia tuangkan dalam buku terbarunya Pesona

Indonesia. Buku ini baru saja diterbitkan dalam rangka hari ulang tahunnya yang ke-50.

Bermula dari Aceh

Bencana Tsunami di Aceh yang terjadi pada tahun 2005 menggerakkan hatinya untuk mendirikan yayasan CT ARSA yang diprakarsai bersama sang suami. Kala itu, mereka membangun asrama pengungsian di Deli Serdang Medan untuk 600 anak telantar korban Tsunami yang kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan orang tua. Program trauma

healing, penyediaan tempat tinggal yang senyaman mungkin serta fasilitas pendidikan adalah prioritas utama di sana.

Tidak berhenti sampai di situ, Anita pun bergulir mencetus programprogram lanjutan dengan harapan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi. “Misi CT ARSA adalah memutus mata rantai kemiskinan dengan pendidikan yang berkualitas dan kesehatan yang optimal,” tegasnya. Dibuatlah program Sekolah Unggulan dengan konsep merekrut anakanak pintar yang

tidak mampu, untuk diberikan pendidikan secara gratis.

Anita tidak mau terima beres, ia selalu bersungguhsungguh pada tahapan input-proses-output dari program yang dibuatnya. Ia bersama tim tak segan terjun langsung menghampiri para calon murid ke daerah-daerah terpencil demi melihat kondisi sosial ekonomi yang masuk dalam kategori ‘tidak mampu’ itu. “Jika keluarga calon murid yang sudah terseleksi lewat tes tertulis ini ternyata punya warung atau sepeda motor, maka tidak bisa masuk sekolah unggulan ini.” Tak jarang Anita harus memulai perjalanan jam 3 subuh dan baru sampai di tujuan enam jam kemudian.

Prinsip menjemput bola, diterapkan juga lewat pengadaan sarana mobil dalam beberapa kategori untuk area Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, Mobil Sehat yang ia buat bersama para teman sejawatnya di Persatuan Dokter Gigi Indonesia, berkeliling mengobati gigi para pemulung. Mobil Pintar yang mengunjungi area terpencil untuk mengajarkan pendidikan alam dan pengetahuan umum. Juga Mobil Iqra yang memfokuskan pada pendidikan agama Islam dasar, seperti cara shalat & wudhu yang benar serta mengajarkan dasardasar agama pada anak-anak jalanan. Yang terbaru adalah Mobil Multimedia, memberikan pengetahuan mengenai teknologi, termasuk dari yang paling dasar yaitu memperkenalkan internet serta perkakas digital. Buku untuk Negeri Dari hasil berkeliling negeri, Anita menyerap banyak energi positif yang menurutnya seperti ‘menagih’ untuk berbuat lebih banyak lagi. “Rasanya seperti orang pulang dari ibadah Haji atau Umroh. Saya merasa hidup lebih bermakna, terisi penuh dan semakin banyak bersyukur,” tuturnya.

Banyak yang tidak tau apa yang tengah dilakukan Anita, selain status nya sebagai pendamping hidup pengusaha sukses Chairul Tanjung, dokter gigi, serta ibu dari dua anak milenial (Putri Tanjung & Putra Tanjung) yang tengah sibuk menempuh pendidikan tinggi dan mengukir prestasi. “Kami punya media, juga TV, tapi kita memang tidak mau gembar gembor. Sekarang setelah 13 tahun, dan usia saya yang telah mencapai 50 tahun, why not saya

share pencapaian yang menurut saya luar biasa ini,” tutur Anita yang kini lebih banyak tinggal di Singapura untuk mendampingi putra bungsunya bersekolah.

Melihat langsung alam Indonesia dari Sabang sampai Merauke, bertemu

" Perempuan Indonesia itu ikhlas, passionate, dan pantang mengeluh."

" Rezeki yang kami dapatkan ini milik mereka juga."

dan berinteraksi dengan banyak suku bangsa semakin melengkapi potret Indonesia yang sangat ia cinta. Sebagian potret itu ia tuangkan dalam coffee table book

berjudul Pesona

Indonesia. “Saya berharap para generasi muda tergerak untuk melestarikan lingkungan hidup dan ekosistem serta menjaga keberagaman budaya, adat istiadat, suku bangsa dan agama di negeri ini,” tulisnya dalam kata pengantar.

Selain keindahan alam yang luar biasa, Anita juga merekam dengan baik titik kekuatan karakter perempuan Indonesia dari berbagai suku. “Mereka itu ikhlas,

passionate, mau bekerja keras dan pantang mengeluh,” ujarnya. “Saya ini enggak ada apaapanya dibanding mereka. Saya banyak belajar dan terinspirasi atas keuletan mereka yang dalam keadaan sangat-sangat terbatas namun mau bergerak untuk mengubah daerahnya menjadi lebih maju,” lanjutnya lagi.

Perlawanan dari penduduk di pedalaman kerap muncul saat Anita beserta tim CT ARSA datang mengunjungi. Sering di-cap ingin kampanye atau bahkan hanya datang untuk berfoto. Lewat pendekatan yang terus menerus, dan pembuktian bahwa program yang dibuat adalah murni untuk membantu mereka keluar dari pusaran kemiskinan, akhirnya semua terlalui dengan baik. “Rejeki yang kami dapatkan ini bukan milik saya sendiri, tetapi milik mereka juga. Bagaimana saya bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Ini wujud pertanggung jawaban saya kepada yang di Atas,” tandasnya.

Ketika ditanya tentang apa lagi yang ia inginkan dalam kesempurnaannya, Anita tergelak. “Saya masih jauh dari sempurna. Saya keras kepala lho….” Ia ingin sebanyak mungkin menghabiskan waktu bersama keluarga, berkegiatan sosial bersama-sama, menebar kebahagiaan yang tulus untuk orang banyak, seperti arti kata ARSA. Bahkan sang putri sulung yang kini masih bersekolah di Amerika Serikat, bercita-cita ingin mendirikan 1000 sekolah untuk bangsa ini. The apple doesn’t fall far from the tree, indeed!

Di antara kepala suku Dani di Papua.

Bersama suami dan anakanak saat peluncuran buku.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.