Tampil Beda dengan Kaca Nako

Penggunaan kaca nako sebagai material utama membuat warteg milenial ini dilimpahi cahaya dan udara alami.

IDEA - - Daftar Isi - TEKS TIYA SEPTIAWATI • FOTO ADITIA RIANDA • PROPERTI WARUNG NAKO, BOGOR PRINCIPAL DESIGN ROBERT WANASIDA (GAGARESKA) • ARSITEK ALFRED BW (GAGARESKA) DESAIN GRAFIS DAN MURAL YOGA MOGO (FB.LAB WORKS)

Beberapa tahun belakangan, sederet kafe dan restoran dengan konsep unik membanjiri kota Bogor, khususnya Jalan Pajajaran, yang merupakan jantung kota hujan ini. Dari sekian banyak restoran dan kafe yang berjajar di jalan tersebut, ada satu restoran anyar dengan desain yang cukup menarik perhatian. Restoran tersebut adalah Warung Nako yang desainnya mentereng dan berbeda dengan yang lain.

Dilihat dari fasad, potongan kaca bening atau yang biasa disebut kaca nako mendominasi seluruh bagian temboknya. Penggunaan jendela kaca zaman dulu yang bisa dibuka-tutup ini sejalan dengan konsep desain arsitektur tropis yang diusung di Warung Nako. Meski nampak sederhana, namun penggunaan kaca nako ini memberikan pencahayaan serta udara alami, yang membuat bangunan

sustainable dan hemat energi, sehingga tak perlu lagi menggunakan sorotan lampu saat siang hari serta pendingin udara (AC).

Restoran yang buka sejak 7 Maret 2018 ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu lobi dan etalase makanan, warung kopi, serta area makan. Lobi dengan tangga kembar di kanan-kiri merupakan area favorit pengunjung untuk berebut foto. Bila bertandang ke sini di waktu pagi hingga jelang sore, mata Anda akan dimanjakan dengan permainan cahaya yang datang dari berbagai sudut. Adanya roof skylight setebal 10 mm pada bagian atas juga menghasilkan efek bayangan cahaya yang dramatis. Ubin tegel sebagai pelapis lobi, dinding semen ekspos, serta hijaunya ketapang brazil dalam pot, berpadu komplet menjadi spot cantik untuk berfoto.

Di lantai dasar sayap kiri bangunan, terdapat zona kedua yang merupakan area warung kopi bernama Kopi Nako. Berbeda dengan area lobi yang didesain terang benderang, warung kopi didesain lebih hangat. “Perbedaan keduanya ada di warna, walaupun materialnya masih sama. Area lobi atau warung nasi lebih

ligth dengan dominan warna monokrom abu. Sementara, warung kopi lebih dark dengan beberapa material yang kuat, seperti terakota dan besi hitam,” ujar

principal design Warung Nako, Robert Wanasida dari Gagareska. Salah satu dinding di Kopi Nako dihiasi mural bergambar rumah yang digarap oleh

artist Yoga Mogo dari Fb.lab Works. Dinding berhias mural ini juga menjadi sasaran pengunjung sebagai latar berfoto.

Bagian selanjutnya ialah zona makan yang berada di sayap kanan bangunan. Tidak terlalu banyak dekorasi yang dihadirkan di area ini. Hanya dinding polos bermaterial semen ekspos serta kursi-meja solid jati yang disusun rapi sebagai tempat untuk pengunjung menikmati hidangan. Menuju ke lantai dua yang dapat diakses dari tangga besar di lobi, terdapat dua bagian yang dipisahan oleh jembatan mungil. Ada area VIP pada bangunan sayap kiri dan smoking

area pada bangunan sayap kanan. Walaupun tampilannya bak restoran mewah, Warung Nako sebenarnya adalah warung nasi yang dikemas modern dan kekinian. Nama Nako sendiri merupakan singkatan dari kata nasi dan kopi. “Adaptasinya ialah warung nasi lokal atau yang dikenal dengan nama warteg, lalu ditambah kata warung,” jelas Robert. Menu yang disajikan di sini pun makanan rumahan yang biasa ditemui di warung nasi pada umumnya.

Layaknya sebuah warteg, di Warung Nako juga terdapat etalase yang menampilkan aneka lauk-pauk di area tengah bangunan. Sistem penjualannya pun sama seperti di warteg, pesantunjuk-bayar-makan. Sebagai elemen dekorasi yang turut menjadi focal

point, dinding latar belakang dari etalase dipenuhi susunan kaleng kerupuk yang kerap ditemui di warung nasi lokal. Dengan paduan antara konsep desain yang matang serta material yang mumpuni, warung nasi lokal yang sederhana bertransformasi menjadi satu bangunan yang kekinian.•

Pemandangan inilah yang pertama kali ditemui saat menginjakkan kaki di Warung Nako. Dua tangga besar, dua kolam ikan di kanan kiri, serta ubin tegel sebagai pelapis, berpadu menjadi area favorit pengunjung.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.