Strategi Investasi TI Ketika Dolar Meninggi

Kenaikan harga dolar sedikit banyak mempengaruhi rencana investasi TI yang sarat komponen impor. Meski begitu, pelaku industri tetap yakin belanja TI di Indonesia tetap tinggi.

Info Komputer - - Cover Story - PENULIS WISNU NUGROHO, CAKRAWALA

DALAM beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup signifikan. Jika dihitung dari awal tahun 2018, nilai rupiah turun sekitar 7,95%, ke angka terendah Rp.14.660.

Sebenarnya cuma rupiah yang mengalami pelemahan. Sejumlah mata uang dunia, utamanya negara berkembang, juga mengalami tekanan seiring semakin menguatnya nilai dolar. Hal ini tidak lepas dari normalisasi suku bunga AS. “Setelah 10 tahun berada dalam iklim bunga rendah, Bank Sentral AS secara sistematis mulai menaikkan tingkat suku bunga untuk mencegah ekonomi AS mengalami er eating” ungkap Poltak Hotradero (Head of Research and Development di Bursa Efek Indonesia), mengungkapkan salah satu penyebabnya.

Penyebab lain adalah iklim bunga rendah dalam satu dekade terakhir yang memicu banyak negara berhutang mata uang Dolar AS dalam jumlah besar. “Utang negara berkembang dalam mata uang asing mencapai sekitar $4 Triliun, sehingga terjadi persaingan antar negara berkembang dalam menyedot dolar yang ada untuk melayani pembayaran utang” tambah Poltak.

Khusus untuk Indonesia, tekanan banyak disebabkan impor BBM yang terus tumbuh, juga kebutuhan peralatan produksi yang harus dibeli dalam dolar AS. “Sebenarnya tidak ada yang keliru dari kegiatan impor demikian, karena mesin adalah bagian dari barang modal capital

g ds yang akan digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja” ungkap Poltak. Namun hal ini otomatis menuntut Indonesia untuk lebih banyak menghasilkan produk yang laku dijual di pasar ekspor untuk mendatangkan devisa.

Lalu, bagaimana proyeksi di tahun depan? Menurut Poltak, hal tersebut sangat sulit diprediksi. Namun tekanan terhadap Rupiah kemungkinan tetap ada. “Tekanan terhadap Rupiah, dan yang juga dialami oleh mata uang berbagai negara berkembang lain, masih akan terjadi sampai tahun 2019 mendatang. Hal ini seiring kenaikan suku bunga yang masih akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika” tambah Poltak.

Atas kondisi tersebut, Poltak berpendapat efisiensi dalam penggunaan US Dolar perlu ditingkatkan. “Karena masih cukup lama waktu diperlukan sebelum Rupiah dapat menguat kembali” tambah Poltak.

Menunggu Kondisi

Lembaga riset IDC sendiri memperkirakan, belanja ICT di Indonesia pada tahun 2018 menyentuh angka Rp.443 triliun. Dari jumlah itu, sebagian besar berasal dari keran impor. Dengan kenaikan harga dolar, nilai belanja ICT di Indonesia sedikit banyak akan berpengaruh.

Namun ketika InfoKomputer konfirmasi ke pihak industri, pengaruh tersebut masih minim setidaknya untuk saat ini.

Biznet Gio Nusantara, misalnya, sampai sekarang belum akan menaikkan harga dalam rupiah dari layanan cl d yang ditawarkannya. “Pengaruh [kenaikan dolar] lumayan signifikan, terutama dari sisi c st g d s ld (COGS), karena terdapat biaya lisensi dan s pp rt yang kami bayarkan dengan menggunakan dolar” ungkap Dondy Bappedyanto (CEO, Biznet Gio Nusantara).

Namun kenaikan COGS ini masih dapat dikompensasi dengan volume yang saat dimiliki. “Jika dolar naik lebih tinggi lagi, mungkin kami mulai mempertimbangkan kenaikan harga jual” tambah Dondy. Jika memang harus menaikkan harga, Biznet Geo Nusantara mengaku akan memberikan

al e tambahan bagi pelanggan. Hal senada juga disebutkan oleh IBM Indonesia. “Pada dasarnya kita tidak terpengaruh terhadap kurs dolar karena transaksi kami semua sudah dalam rupiah dan seluruh transaksi kami dilakukan melalui partner,” sebut Rina Suryani (Communications Lead, Brand and Communications, IBM Indonesia).

Sementara Lenovo Indonesia belum bisa menyebutkan secara spesifik apakah mereka akan menaikkan harga dalam rupiah dari produk, jasa, dan solusi yang ditawarkan. “Nilai tukar dolar yang menguat tentu saja akan mempengaruhi keseluruhan sektor, tidak terkecuali sektor IT dan perusahaan Lenovo. Namun mengenai berapa jumlah kenaikan dan apakah akan ada kenaikan, belum bisa kami berikan pernyataan resmi,” ucap Budi Janto (Country General Manager, Lenovo Indonesia).

Bila kenaikan harga produk dan layanan IT ini tak terelakkan, investasi TI yang dilakukan perusahaan Indonesia tentu saja menjadi terpengaruh. Namun di era penuh disrupsi seperti saat ini, investasi TI mau tidak mau tetap harus berjalan.

“Saya percaya dan yakin investasi akan terus berlanjut di Indonesia. Kuncinya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi, dan menurut saya sebagian besar perusahaan di Indonesia memiliki kemampuan tersebut, belajar dari berbagai pengalaman mereka sebelumnya mengatasi krisis serupa dulu dan berhasil bertahan, bahkan lebih sukses/maju dari sebelumnya,” kata Catherine Lian (Managing Director, Dell EMC Indonesia).

“Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita ada di tengah-tengah berbagai kemajuan teknologi. Bisnis menghadapi berbagai perubahan, dan berinvestasi

untuk menciptakan pondasi untuk tempat kerja yang cerdas atau

smart menjadi tidak terhindarkan agar perusahaan dapat s r i e,” jelas Budi Janto.

Strategi Khusus

Menghadapi kemungkinan naiknya harga produk dan solusi TI dalam rupiah, para pelaku industri mengaku belum berencana menerapkan strategi khusus. Mereka tetap memanfaatkan strategi yang telah digunakan selama ini, utamanya menyediakan solusi inovatif yang menjawab kebutuhan pelanggan.

“Kelebihan yang dimiliki Dell EMC adalah pendekatan kami yang sangat menekankan pada kemampuan mendengarkan dan membantu memenuhi kebutuhan para pelanggan kami,

berikut portofolio lengkap yang kami miliki mulai dari edge ke c re hingga cl d,” papar Catherine Lian. “Kata kuncinya adalah “lincah” untuk beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi,” tegasnya lagi.

Sedangkan Lenovo menyebut komitmen mereka melakukan riset untuk menelurkan solusi yang inovatif. “Kami sangat fokus pada inovasi dan mengeluarkan investasi sekitar US$1,4 miliar untuk riset dan pengembangan secara global” ungkap Budi Janto. Melalui investasi tersebut, Lenovo berharap bisa menciptakan beragam pilihan solusi yang inovatif untuk pelanggan mereka. “Jadi pelanggan dapat memilih solusi yang cocok terutama jika berada di tengah kondisi tidak menentu, termasuk seperti kurs dolar yang meningkat” tambah Budi.

Biznet Gio Nusantara justru melihat kenaikan harga dolar ini akan memberi angin segar bagi penyedia layanan asal Indonesia. Pasalnya kenaikan kurs dolar bisa membuat para pengguna layanan

cl d luar negeri untuk beralih ke layanan cl d dalam negeri seperti Biznet Gio Nusantara. “Dengan naiknya dolar dan kurs yang tidak menentu, agak sedikit susah bagi pengguna untuk melakukan proyeksi pengeluaran/belanja TI apabila masih menggunakan

pr ider luar negeri yang menggunakan kurs dolar untuk harga jualnya” ungkap Dondy. “Dengan menggunakan

pr ider lokal, belanja TI bisa dilakukan dengan rupiah dengan harga yang mungkin dapat lebih murah,” terang Dondy Bappedyanto.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.