Merebut Panen Negeri Seberang

Meski memiliki jumlah pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, Indonesia belum dilirik perusahaan teknologi global ketika mereka membangun data center- nya. Mengapa Indonesia belum dilirik?

Info Komputer - - Contents - PENULIS WISNU NUGROHO, LIANA THREESTAYANTI

Meski memiliki jumlah pengguna internet terbesar di Asia tenggara, Indonesia belum dilirik oleh perusahaan teknologi global ketika mereka ingin membangun data center- nya. Apa alasannya?

SEKILAS tidak ada yang berbeda dari sebuah gedung bernuansa abu-abu di kawasan Jurong West, Singapura. Namun jika Anda perhatikan dengan teliti, ada aksen warna biru, merah, kuning, dan hijau khas yang menghias gedung tersebut.

Gedung di Jalan Jurong West Street 23 tersebut adalah

data center milik Google yang didirikan sejak 2015 lalu. Google sendiri saat ini memiliki dua buah data center di kawasan Jurong Street, yang ditujukan untuk melayani konsumen di kawasan Asia Tenggara. Bahkan seiring pesatnya pertumbuhan pengguna di kawasan ini, Google merencanakan pembangunan gedung ketiga tak jauh dari dua gedung tesebut. “Sejak kami membangun data

center di Singapura tiga tahun lalu, lebih dari 70 juta pengguna internet baru yang lahir di kawasan Asia Tenggara” ungkap Google di salah satu blognya. Google juga menyebut semakin banyak banyak perusahaan di kawasan ini yang memanfaatkan Google Cloud Platform, solusi

cloud Google yang mencoba menembus dominasi AWS dan Azure.

Tak heran jika Google berani menambah kapasitas data center -

nya Singapura. “Dengan ekspansi ini, nilai investasi Google di Singapura mencapai US$850 juta” ungkap Google.

Bukan cuma Google yang membangun data center -

nya di Singapura. Awal September kemarin, Facebook mengumumkan akan membangun

data center di Singapura, yang juga merupakan pertama di kawasan Asia. ata center ini akan memiliki luas 170 ribu m2 dan menyerap ratusan tenaga kerja. Untuk membangun data

center ini, Facebook menyebut akan melakukan investasi sebesar US$1 miliar.

Kenapa bukan Indonesia?

Begitu menggebunya Google dan Facebook membangun data

center di kawasan Asia Tenggara memang bukan tanpa alasan. Saat ini, Asia Tenggara memiliki 330 juta pengguna internet, atau lebih besar dari pengguna internet di AS. Sedangkan dalam konteks Facebook, Asia Tenggara kini menyumbang sekitar 300 juta pengguna, dengan 130 juta di antaranya berasal dari Indonesia.

Namun fakta di atas juga menunjukkan “pahitnya” kenyataan yang harus ditelan Indonesia. Sebagai negara dengan pengguna Google dan Facebook terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sebenarnya memiliki sumbangsih besar terhadap bisnis kedua raksasa teknologi tersebut. Namun ketika mereka berinvestasi ratusan juta dolar, toh yang dipilih bukan Indonesia.

Google sendiri beralasan, Singapura dipilih karena memberikan kelebihan yang dibutuhkan untuk membangun

data center . “Singapura menawarkan kombinasi ideal antara infrastruktur yang dapat diandalkan, tenaga kerja ahli, dan komitmen atas regulasi yang transparan dan ramah kepada bisnis,” ungkap Jason Tedjasukmana, Head of Corporate Communication Google Indonesia. “Jumlah pengguna di suatu negara bukanlah satu-satunya yang kami pertimbangkan dalam menentukan lokasi data center ” tambah Jason.

Sedangkan Facebook tidak memberikan jawaban spesifik atas pertanyaan InfoKomputer terkait masalah ini. Namun pihak Facebook merujuk pernyataan resmi mereka yang senada dengan Google.

“Kami memilih Singapura karena berbagai alasan, seperti terjaminnya infrastruktur dan akses ke fiber optik, banyaknya talenta lokal, serta Singapore Economic Development Board dan Jurang Town Corporation yang membantu kami mewujudkan proyek ini” tulis Facebook dalam keterangan resminya. Facebook juga menunjuk kemudahan izin konstruksi dan kejelasan hukum sebagai alasan pemilihan Singapura.

Tertinggal Jauh

Berbicara kesiapan infrastruktur pendukung data center , Indonesia memang terbilang jauh tertinggal dari Singapura. Setidaknya hal tersebut bisa terlihat dari laporan Cloud Readiness Index 2018 yang dikeluarkan Asia Cloud Computing Associaton (ACCA). Pada laporan tersebut, Singapura menduduki peringkat pertama, menggeser Hong Kong yang menjadi pemuncak di tahun sebelumnya.

Sedangkan Indonesia berada di urutan 11, bahkan di bawah negara tetangga seperti Malaysia (8), Filipina (9), dan Thailand (10). Ketertinggalan terbesar terjadi di area Cloud Infrastructure yang mencakup international connecti ity , broadband uality , serta po er . Karena itulah dalam rekomendasinya, ACCA mendorong pemerintah Indonesia memprioritaskan peningkatan kualitas infrastruktur.

Keterbatasan infrastruktur ini sebenarnya juga dirasakan pelaku industri data center . Miko Yanuar, Direktur GTN, menyebutkan jaringan kelistrikan dan jaringan komunikasi pita lebar sebagai kelemahan Indonesia dalam bisnis pusat data.

Dua hal itu menjadi tantangan yang cukup signifikan bagi para pelaku bisnis data center di Indonesia karena ‘nyawa’ pusat data bergantung pada pasokan listrik dan koneksi internet yang stabil. Namun Miko bisa memaklumi hal itu mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang membuat pemerataan infrastruktur sebagai satu tantangan besar.

“Saat ini bisa dibilang ketersediaan infrastruktur komunikasi yang mumpuni menjadi pekerjaan rumah yang harus dikebut penyelesaian atau solusinya, dikarenakan Indonesia masih belum dapat dikategorikan sebagai hub komunikasi utama di Asia Tenggara selain Singapura,” ujar Miko Yanuar.

Sementara Rendy Maulana (Ketua Asosiasi Cloud dan Hosting Indonesia, ACHI), mengungkapkan infrastruktur memang masih masalah pelik di Indonesia. “Tantangan terbesar ada di last mile dan biaya local

loop yang masih tinggi” ungkap Rendy yang juga CEO Qwords tersebut.

Biaya tinggi itu tidak lepas dari tidak tersedianya subduct

utility untuk meletakkan kabel fiber sehingga pengembangan infrastruktur harus melakukan penggalian. “Sementara di Singapura, jaringan fiber digelar oleh pemerintah sehingga operator bisa menggunakannya dengan cepat tanpa perlu membangun infrastruktur baru” tambah Rendy.

Demikian pula dengan kelistrikan. “Singapura mengandalkan Singapore Power untuk men- supply listrik ke data center , berapapun konsumen butuhkan dengan do n-time yang minim” tambah Rendy. Lagi-lagi, hal tersebut belum bisa disediakan penyedia energi negeri ini.

Karena itu jika Google atau Facebook ingin membangun

data center sendiri, mau tidak mau mereka harus membangun data center sendiri. “Atau setidaknya bekerjasama dengan pemilik jaringan,” tambah Rendy. Mengingat Indonesia adalah negara yang luas, perlu juga dipikirkan mekanisme untuk mendistribusikan konten ke

internet e change di beberapa kota Indonesia. “Dengan begitu, local loop kita menjadi lebih murah” tambah Rendy.

Kurang Kepercayaan Pasar Lokal

Menarik untuk disimak adalah pendapat Dondy Bappedyanto, CEO PT Biznet Gio Nusantara. “Sebenarnya tidak ada kendala signifikan bagi Indonesia untuk menyediakan infrastruktur untuk perusahaan berskala global,” jelas pria yang juga duduk sebagai Komisaris di PT Biznet Data Center ini.

Dondy melihat pemilihan Singapura sebagai pusat data bagi korporasi berskala global semata-mata karena alasan geografis dan bisnis.

Singapura menjadi “primadona” tempat peletakkan ser er dan data bagi pemain global karena kondisinya sebagai negara kota akan lebih memudahkan pengelolaan infrastruktur TI jika dibandingkan dengan negara kepulauan, seperti Indonesia. “Urusan ‘tarik kabel’ tidak serumit di Indonesia,” imbuh Dondy.

Selain itu, Singapura juga merupakan tempat yang relatif aman dari bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya. Lagi pula, kebanyakan penyedia internet di Asia Tenggara melakukan terminasi akses melalui Singapura di mana penyedia band idth global juga mempunyai Point of Presence (POP) di sana.

Dari perspektif bisnis, kecenderungan yang terlihat oleh Dondy adalah perusahaan global memiliki pusat data di Indonesia untuk melayani pasar Indonesia saja. Sementara data center di Singapura ditujukan untuk melayani pasar seluruh Asia Tenggara. “Jadi yang bermain di sini adalah kebutuhan pasar,

supply dan demand ,” jelas Dondy.

Dondy Bappedyanto juga melihat ketertinggalan Indonesia di arena bisnis pusat data global sedikit banyak akibat kurangnya kepercayaan pelaku bisnis di negeri sendiri. “Sekarang ini kebanyakan para penyedia content (di Indonesia) lebih percaya kepada penyedia pusat data atau penyedia layanan infrastruktur, misalnya cloud , dari luar negeri,” tandasnya. Fakta ini tentu akan membuat industri pusat data di Indonesia sulit berkembang.

Pendapat CIO

Sebenarnya, kebutuhan akan lokasi data center yang lebih dekat juga dirasakan perusahaan Indonesia. “atency adalah sisi kelam dari penempatan data di cloud ” ungkap Faisal Yahya, CIO IBS Group. Apalagi saat ini, kecanggihan perangkat serta tingginya ekspektasi pengguna mendorong kebutuhan

latency yang minim. “Karena itu, prinsip lokasi menjadi pertimbangan” tambah Faisal.

Khususnya bagi sektor finansial yang selalu dibingkai ketat dalam aturan, kehadiran

data center milik pemain global di Indonesia seakan menjadi “angin segar” karena artinya perbankan akan mempunyai lebih banyak alternatif untuk strategi data

center- nya, terutama tempat menyimpan data. Selama ini, masalah penyimpanan data nasabah selalu menjadi diskusi menarik di berbagai kesempatan. Terutama setelah pemerintah mengeluarkan PP No. 82 Tahun 2012 yang mengharuskan perusahaan di Indonesia menyimpan data transaksi nasabah di dalam negeri.

Oleh karena itu, SVP Enterprise Data Management, Bank Mandiri, Mohammad Guntur menyambut gembira seandainya ada penyedia layanan

data center dan cloud global yang membangun pusat data di Indonesia. “Itu akan sangat memudahkan, meski tetap harus memerhatikan sharing lima data utama yang tidak boleh disimpan (oleh pihak eksternal),” Guntur menambahkan.

Mengacu pada SE OJK No. 14/SE OJK.07/2014, ada lima jenis data nasabah yang termasuk kategori sensitif: nama, tanggal lahir dan atau umur, nama ibu kandung, alamat, dan nomor telpon. Menurut PP No, 82 tahun 2012, lima jenis data tersebut tergolong sensitif karena mengandung informasi yang dapat menunjukkan “siapa” nasabah itu.

Sedangkan bagi perusahaan penerbangan seperti Citilink, lokasi data center lebih terkait dengan masalah bac up dan Business Continuity Plan (BCP). Citilink saat ini menggunakan salah satu layanan cloud global, namun harus membangun sistem tersendiri untuk proses

bac up dan BCP ini. “Pastinya diperlukan investasi lebih untuk membangun solusi seperti itu” ungkap Achmad Royhan (CIO Citilink). Karena itu jika penyedia

data center global masuk ke Indonesia, semua CIO yang kami wawancarai menyambut baik. “Semua cloud pro ider yang mempunyai DC di Indonesia pasti akan meningkatkan alue mereka, utamanya dari sisi support dan koordinasi dengan

local reprentati e ” ungkap Royhan.

Ucapan senada diungkap Hadikusuma Wahab, Vice President Product, Vidio. Kehadiran data

center fisik salah satu penyedia infrastruktur cloud global yang dilanggan Vidio di Indonesia menurutnya akan memudahkan pelanggan, terutama dari sisi dukungan teknis, pengenalan, dan adopsi teknologi.

Diakui pria yang akrab dipanggil Dhiku ini bahwa Vidio beruntung memiliki Chief Technology Officer yang sangat paham dengan infrastruktur cloud . Namun ia membayangkan jika penyedia layanan itu dan data center - nya itu hadir di Indonesia tentunya akan sangat memudahkan bagi pelanggan, terutama mereka yang tidak dan atau belum memiliki talent dengan tingkat pemahaman teknologi yang mendalam. “Seharusnya bisa lebih baik dari sisi edukasi dan support ,” imbuhnya.

Sedangkan Faisal menyebut, kehadiran penyedia solusi global akan membuat akses ke teknologi terkini menjadi lebih mudah. “Contohnya seperti Lambda dan ser erless architecture yang ditawarkan Amazon Web Services akan semakin menambah ketertarikan end-user ” ungkap Faisal.

Dengan kebutuhan tinggi seperti itu, perusahaan global yang mau membangun data center di Indonesia sebenarnya berpotensi meraup pasar Indonesia yang menggiurkan. Sayangnya, keterbatasan infrastruktur dan rumitnya regulasi membuat Indonesia belum menjadi pilihan perusahaan global dalam membangun data center - nya.

Jika tidak segera dibenahi, sepertinya kita memang harus pasrah melihat negara tetangga memanen hasil dari buah ranum yang disediakan Indonesia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.