iGrow: Meningkatkan Hidup Pahlawan Pangan

Meski menjadi komponen penting bagi ketahanan pangan bangsa ini, nasib petani masih termaginalkan. iGrow mencoba membantu para pahlawan pangan dengan menyediakan akses keuangan.

Info Komputer - - Contents - PENULIS: INDAH PM

Mencoba membantu para pahlawan pangan dengan membuka akses keuangan, startup ini menghadirkan platform yang mampu menghubungan antara petani, pasar dan investor.

MESKI Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun kehidupan para petaninya belum mendapat perhatian serius. Petani selalu menjadi pihak yang termarjinalkan, padahal para petanilah yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan. Di sisi lain, dari 32% angkatan kerja Indonesia yang menjadi petani, sebanyak 85%-nya juga tidak memeroleh akses ke perbankan.

Persoalan inilah yang lantas menjadi perhatian Jim Oklahoma dan dua rekannya, Andreas Senjaya dan Muhaimin Iqbal. Akhirnya ketiganya sepakat mendirikan iGrow yang bertujuan menjadi platform penghubung antara petani, pasar, dan investor.

P2P Lending untuk Pertanian

Kisah iGrow bermula dari keresahan Muhaimin Iqbal, mantan direktur utama sebuah perusahaan asuransi nasional dan berpengalaman 10 tahun di bidang agripreneuer. Kala itu Iqbal melihat masalah besar terkait terdisintegrasinya tiga hal di pertanian, yaitu akses pasar, s ill petani, dan permodalan. Dari sinilah kemudian iGrow hadir sebagai

resources integrator agrikultur yang menggabungkan tiga elemen tersebut. “Persoalan yang ingin kita selesaikan adalah ketahanan pangan nasional, di mana petani selalu mempunyai kendala dalam akses permodalan dan juga pemasaran hasil panennya,” jelas Jim Oklahoma yang kini menjabat CBDO (Chief Business Development Officer) dari iGrow.

Jim yang juga pernah bekerja sebagai engineer dan data analyst ini menyebut, iGrow berperan menyatukan tiga hal yang terpisah tadi. “Kami selalu mulai dari pasar, sehingga kami hanya menanam komoditas yang demand - nya sudah ada,” sebut Jim. Setelah mengamankan pasar, selanjutnya iGrow meningkatkan keterampilan petani supaya sesuai dengan standar dari pembelinya. Jim

menyebut, jika dua hal pertama tadi sudah diselesaikan, niscaya modal akan masuk dengan mudah.

Adapun solusi yang diberikan iGrow berupa akses permodalan dengan skema peer to peer

lending dengan fokus agrikultur. Petani bertindak sebagai

borrower, sementara masyarakat umum berfungsi sebagai pemilik modal atau lender.

Proses kerjanya kurang lebih seperti ini. Petani yang membutuhkan modal menampilkan hasil pertanian yang ingin ditanam dan proyeksi pendapatan dalam rentang waktu tertentu. Tawaran petani tersebut kemudian dapat dilihat calon investor yang bisa menentukan petani mana yang ingin didanai.

Selanjutnya investor akan mendapatkan laporan rutin dari surveyor lapangan untuk mengetahui kondisi dan perkembangan tanaman yang didanainya melalui situs maupun aplikasi iGrow. Setelah masa panen tiba, investor akan mendapatkan bagi hasil dan pengembalian modal.

Keuntungan sendiri dibagi ke tiga pihak, yaitu investor (40%), petani (40%), serta iGrow (20%).

Hilangkan Middle Man

Jim membeberkan, sejak dirilis pada September 2014 lalu, petani yang sudah merasakan manfaat iGrow sebanyak 3.500 orang dari Bangka hingga Maros, dengan luas lahan yang dikelola sebesar 1700 hektar. Sedangkan di sisi investor, iGrow telah mengumpulkan 2.500 orang yang mengalirkan modal sebesar Rp.65 miliar.

Yang tak kalah penting, kehadiran iGrow membuat petani kini memiliki akses modal yang mudah dan adil. Hal ini tentu berbeda jika petani meminjam melalui perbankan

yang mensyaratkan adanya jaminan (collateral) dan

laporan keuangan. “Terlebih untuk collateral berupa aset, rata-rata petani kita sudah tidak mempunyai lahan sendiri lagi,” sebut Jim.

Konsep iGrow juga menawarkan kelebihan di sisi pembayaran. Jika petani meminjam dana lewat bank, sejak bulan pertama sudah harus membayar cicilan, padahal petani baru saja mulai menanam. Sedangkan di iGrow, petani akan memeroleh akses permodalan hanya dengan jaminan adanya pasar untuk komoditas yang mereka tanam nanti. Pembayaran kembalinya pun hanya setelah panen, dengan demikian petani bisa fokus untuk bertani tanpa terbebani pikiran untuk membayar cicilan pinjamannya.

Selain itu dengan pola bagi hasil di iGrow, petani juga lebih bersemangat dalam bertani, karena jika hasil panennya lebih banyak otomatis mereka juga mendapat bagi hasil lebih besar. Dengan berbagai kelebihan ini, iGrow hadir sebagai solusi dan juga menghilangkan middle man baik dalam permodalan (seperti sistem ijon atau rentenir) maupun pemasaran (tengkulak) produk pertaniannya.

Startup yang telah mendapat pendanaan dari 500 Startups dan East Ventures ini pun memiliki mimpi besar, yakni meningkatkan ketahanan pangan Indonesia dengan cara mensejahterakan petani Indonesia. “Caranya dengan menyadarkan masyarakat bahwa kita bisa mendanai pertanian dengan keuntungan yang bahkan jauh lebih besar daripada bunga deposito perbankan. Rata-rata saat ini return yang diberikan untuk investor di 15% per tahun,” jelas Jim.

Selain itu, Jim menambahkan, dengan menginvestasikan dana di sektor riil ini akan menggerakkan perekonomian di desa-desa dan memproduktifkan lahan-lahan yang sebelumnya hanya menjadi lahan tidur. “Dan tentu akan mengangkat taraf kehidupan pejuang pangan kita, para petani Indonesia. Kami sangat mendorong

impact investing di sektor ini, kami yakin bahwa kita bisa do well by

doing good,” pungkas Jim.

Inilah para pendiri iGrow (dari kiri ke kanan): Muhaimin Iqbal (Chairman, iGrow), Jim Oklahoma (Chief Business Development Officer, iGrow) dan Andreas Senjaya (Chief Executive Officer, iGrow).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.