Tujuh Tips Memilih Layanan Cloud

Menggunakan layanan cloud memang bisa memberikan keuntungan. Namun tentu calon pengguna sebaiknya memilih layanan cloud yang tepat sesuai keperluannya, bukan asal pilih.

Info Komputer - - Contents - PENULIS RENDY MAULANA AKBAR Direktur Utama PT Qwords Company International Ketua Asosiasi Cloud dan Hosting Indonesia (ACH.ID)

Saat ini, menggunakan layanan cloud memang mampu memberikan keuntungan yang banyak bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia It. Namun, tentu sebagai calon pengguna sebaiknya kita harus bisa memilih layanan cloud yang tepat dan sesuai dengan keperluan.

ZAMAN “now” zamannya cloud . Kira-kira itu yang sering saya dengar dari orang-orang yang berkecimpung di bidang teknologi informasi belakangan ini. Jargon cloud computing sendiri mulai terdengar medio 2010 dan digadang-gadang mengalahkan jargon grid computing . Namun cloud sendiri tidak hanya terbatas kepada komputasinya saja, melainkan juga banyak sekali aspek perluasan dari hal tersebut, seperti kemudahan dan keleluasaan dalam pengaturan sumber daya penyimpanan, pembayaran, pengelolaan, dan juga bisa dipergunakan sesuai kebutuhan ( on demand ). Sebagai perbandingan, menggunakan layanan

cloud bisa menghemat biaya operasional serta modal dari infrastruktur TI yang biasa kita gunakan. Anggaplah sekitar sepuluh tahun lalu, di sebuah perusahaan perlu untuk melakukan procurement untuk server, perangkat jaringan, dan memiliki administrator sendiri (yang mungkin bisa terdiri dari beberapa orang dalam satu tim), yang mengatur mulai dari server, pengaturan pengguna, dan pengoperasiannya.

Pembelian server dilakukan dengan cara memesan kepada vendor, lalu menunggu sampai server datang, memasangnya, dan proses pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Mungkin siang dan malam sang administrator bekerja di ruangan server bersuhu dingin, sambil mengonfigurasikan server tersebut agar bisa dipergunakan oleh divisi yang lain.

Divisi A memerlukan 4 server untuk pekerjaannya, Divisi B memerlukan 2 storage berkapasitas besar dan 2 server untuk pengolahan data, Divisi C memerlukan 10 server untuk CRM dan

storage , dan divisi D memerlukan 6 server untuk pengembangan program rahasia milik perusahaan. Total ada sekitar 24 Server yang diperlukan dalam perusahaan. Anggaplah dana yang dikeluarkan oleh

perusahaan sekitar 2 miliar rupiah untuk pembelian peralatan server dan pemasangannya, dan biaya bulanan yang dikeluarkan sekitar 50 juta rupiah untuk penyewaan

rac ser er di data center beserta listrik dan biaya internetnya.

Bayangkan jika pekerjaan berhari-hari tadi dan dana yang dikeluarkan bukanlah sedikit, ternyata penggunaan optimal server bersangkutan tidak sampai sepuluh persen. Sisanya mungkin baru bisa terpakai hanya 50% dalam periode waktu 6 sampai 10 tahun ke depan. Sementara, server sendiri mengalami depresiasi, dan juga teknologi sudah berkembang pesat. Server yang dibeli dalam waktu 10 tahun mengalami depresiasi sehingga nilainya hanya sekitar 5% saja dari harga pembelian awal. Bukankah ini merupakan pemborosan pada

cape dan ope milik perusahaan? Layanan cloud menjadi solusi lebih mudah bagi pengguna dalam menyediakan infrastruktur terutama untuk server. Khususnya untuk pengguna yang ingin mengefisiensikan pengeluarannya, layanan cloud bisa amat menjanjikan. Setelah

booming penyedia layanan cloud di Indonesia sejak tahun 2012, banyak perusahaan melirik layanan vendor system integrator yang berbondong-bondong mengeluarkan layanan berjargon

cloud . Namun, tak jarang juga perusahaan menggunakan layanan

public cloud milik penyedia layanan cloud “sejati”.

Di perusahaan yang fokus menyajikan layanan cloud , layanan ini bisa didapatkan dengan biaya ringan sekali, mulai kurang dari Rp100.000 untuk satu bulan, sampai sangat besar sesuai kebutuhan pengguna. Tak pelak jika cloud menjadi primadona di banyak perusahaan karena harganya yang terjangkau, serta kepuasan yang bisa didapatkan dari layanannya. Bahkan di beberapa perusahaan sudah tutup mata dan tidak peduli lagi terhadap biaya yang dikeluarkan dan perbandingannya dengan efisiensi yang tadinya ingin dicapai. Mau murah, malah jadi lebih mahal karena kurang tepat memilih dan memadukan layanan cloud . Karena skalanya sudah dirasa cukup besar, layanan yang dipadukan dengan infrastruktur TI semi konvensional alias hybrid

cloud bisa menjadi andalan. Sebagai contoh, salah satu startup yang saya kenal, di awal masa berdirinya hanya menggunakan layanan public cloud seharga kurang dari US$50 sebulan. Pemiliknya sering bercerita bahwa layanan yang dia pakai bagus sekali, dan di Indonesia (dia anggap) tidak ada yang bisa untuk menandingi penyedia tersebut. Ternyata setelah berjalan 6 bulan, perusahaannya menghabiskan lebih dari US$20.000 setiap bulannya untuk biaya public cloud menggunakan penyedia dari luar negeri. Namun jika mereka bisa memadukan antara cloud dengan infrastruktur TI semi konvensional di Indonesia, pengeluaran bulanan mereka hanya berkisar US$2.000 saja setiap bulannya.

Banyak sekali orang yang ingin berpindah ke layanan cloud , tetapi bingung dalam memilih, apa yang harus mereka pergunakan. Garis besar yang harus dipahami sebelum perusahaan berpindah ke layanan cloud adalah menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.