Mengawal User Experience di tengah Euforia Asian Games 2018

Menjadi official broadcaster Asian Games 2018, khususnya di platform digital, Vidio memiliki cara tersendiri untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung yang bisa secepat kilat melesat naik.

Info Komputer - - Contents - PENULIS: LIANA THREESTAYANTI

Menjadi official broadcaster pada Asian games 2018, khususnya pada platform digital, Vidio memiliki cara sendiri untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung yang meningkat tinggi.

SUASANA DI KANTOR

kami sore itu tidak seperti biasanya. Ruangan yang biasanya mulai senyap karena ditinggalkan para penghuninya setelah pukul enam, masih terasa ramai. Para karyawan tampak berkerumun di beberapa meja kerja. Rupanya mereka tengah menonton live

streaming laga sepak bola antara Timnas Indonesia dan Uni Emirat Arab di ajang Asian Games. Sebagian lagi menyaksikan pertandingan bulu tangkis yang tak kalah seru.

Sorak sorai penonton membahana di beberapa sudut ruangan saat tim Indonesia memperoleh peluang menjebol gawang lawan. Di saat lain, mereka berteriak gemas karena lawan mengancam gawang Indonesia.

Aktivitas nobar (nonton bareng) live streaming yang ditayangkan Vidio.com (Vidio) itu ternyata tidak hanya berlangsung di ruangan kami. Karyawan di beberapa lantai lain juga tak ingin melewatkan momen menegangkan ini. Mungkin nobar serupa juga digelar di kantor-kantor lain, di kafe, di rumah warga, atau bahkan mungkin ada pula yang menonton via gadget di tengah kemacetan.

Capai CCU Tertinggi

Minat masyarakat yang begitu tinggi untuk menonton laga sepak bola tersebut ditambah lagi pertandingan badminton di waktu yang hampir bersamaan tergambar dari jumlah

concurrent user (CCU) yang menyentuh angka 00 ribu dan memuncaki jumlah CCU yang pernah diraih Vidio sebelumnya.

“Dan delapan ratus ribu user itu benar-benar menonton secara bersamaan, bukan hanya visit saja,” tandas Hadikusuma Wahab, atau Dhiku, Senior Vice President Product Vidio.

Pencapaian lain yang cukup fantastis adalah jumlah kunjungan Vidio.com. Menurut Agung Binarko, Head of Product Vidio, dalam situasi normal ada enam sampai tujuh juta pengunjung melalui web dan aplikasi setiap harinya. Namun di momen Asian Games 2018 kemarin, jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat. Sedangkan total penonton Vidio di bulan tersebut juga mencapai 0 juta penonton.

onjakan-lonjakan besar tersebut tentunya menjadi perhatian utama penyedia content via media streaming ini. ser e perience harus tetap terjaga, bahkan di tengah koneksi internet yang tidak andal sekalipun. Ekspektasi user

menjadi lebih tinggi lagi karena Vidio adalah bagian dari Emtek Group yang memegang hak siar Asian Games 2018 alias sebagai Official Broadcaster.

Keandalan platform Vidio juga diuji melalui dua belas kanal yang khusus disiapkan untuk menayangkan empat puluh cabang olah raga. “Serunya lagi, kami tidak hanya streaming di Vidio, tapi streaming kami juga dipakai K Y (Kapan agi Youniverse) Group di mana ada 12 publisher dan Telkomsel MA stream,” cerita Agung. K Y dan Vidio merupakan unit usaha media Emtek Group yang bernaung di bawah PT Kreatif Media Karya (KMK) Online.

Ditopang Keandalan Platform dan Persiapan Matang

Secara keseluruhan Vidio dapat menghantarkan content

streaming tanpa gangguan berarti selama perhelatan besar se-Asia itu. “Padahal kenaikan jumlah CCU sampai 00 ribu itu dibutuhkan infrstruktur yang besar. lhamdulillah, kemarin

fine-fine saja, karena kami sudah persiapkan dan belajar dari event

event sebelumnya,” jelas Agung. Sebagai informasi, Vidio juga pernah menjadi salah satu official

broadcaster untuk ajang SEA Games 201 .

Menurut Dhiku, kesuksesan Vidio menangani lonjakan traffic itu secara umum tak lepas dari skalabilitas arsitektur platform yang secara terus menerus dan berkala ditingkatkan performanya untuk user e perience yang lebih baik. Selain itu, semua aplikasi dibekali kemampuan otomatisasi.

ool alert selalu disiagakan untuk memberitahukan para engineer

on call ketika akan terjadi potensi masalah.

Kesuksesan ini juga didukung oleh persiapan matang yang sudah dimulai sejak bulan April 2018. Persiapan secara internal diawali dengan diskusi, antara lain tentang perkiraan traffic dan perencanaan kapasitas yang melibatkan tim content dan

marketing. Hasil diskusi ini nantinya akan menjadi dasar untuk menyiapkan performa dan optimalisasi platform.

Selain itu, Vidio juga melakukan komunikasi dengan AWS sebagai penyedia layanan

cloud dan Telin Akamai yang menyediakan layanan Content Delivery Network (CDN) dan

server Points of Presence (POP). Menurut Agung, sejak awal berdirinya, Vidio memang memilih untuk tidak mengoperasikan server fisik di backend.

Proses selanjutnya adalah optimalisasi sistem, misalnya melakuan penambahan database untuk menangani concurrent user. “Untuk meningkatkan performa, misalnya, pla er kami optimi ie agar pengguna bisa lebih cepat membuka video. Setiap tahun, kami memang ada KPI untuk meningkatkan performance, misalnya tahun lalu (KPI) membuka pla er tiga detik, tahun ini menjadi dua detik,” kata Agung.

Terbentur Tantangan Nonteknis

Dengan persiapan matang, nyaris tidak ada tantangan yang signifikan di sisi teknis untuk menyiarkan streaming video di ajang Asian Games. “Karena kami tahu mau ke arah mana, maka kami develop dan buat sistem untuk ke arah sana,” terang Ade Muti, Head of Marketing Vidio.

Tantangan itu justru datang dari sisi nonteknis. Seperti diketahui, beberapa hari setelah Asian Games dimulai, banyak protes dilayangkan masyarakat tentang tayangan yang diacak atau dienkripsi. Ade Muti, atau biasa disapa Oliph, menuturkan bahwa persoalan itu berpangkal pada masalah lisensi. “Kami beli lisensi hanya untuk teritori Indonesia. Sehingga pada saat

user di luar Indonesia tidak bisa menonton Asian Games di Vidio. com, mereka pun komplain,” jelas Oliph.

Walhasil, menurut Oliph, tantangan terbesar dalam program ini adalah meredam protes yang disuarakan user via media sosial, platform chat Vidio, bahkan di Playstore. Pasalnya satu cuitan saja di dunia maya bisa berpotensi viral. Meski akhirnya pengguna dapat memahami alasan geo block yang dikemukakan, aneka komplain dan protes itu sudah terlanjur beredar di dunia maya.

Euforia Asian Games sudah berakhir, tapi pengembangan platform maupun content Vidio akan terus berjalan untuk melayani animo tinggi audiens terhadap tayangan video

on demand. Dhiku melihat content lokal seperti yang kerap ditayangkan di televisi masih digemari masyarakat. Hanya saja, sesuai eranya, tontonan itu kini bisa disaksikan audience di platform online selain TV. Didukung 50 content

partner, Vidio siap menggarap potensi besar content lokal untuk program yang gratis maupun berbayar. “Ke depannya kami akan buat subscription untuk

content yang lebih premium, didukung unit bisnis content

production Emtek,” jelas Dhiku. Dan rencana tersebut pastinya tak bisa lepas dari keandalan platform dan kolaborasi di balik layar Vidio. IK

Dari kiri ke kanan: Agung Binarko, Head of Product; Ade Muti, Head of Marketing; dan Hadikusuma Wahab, SVP Product.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.