Eragano: Pendanaan dan Pemasaran

Info Komputer - - Cover Story -

PERUSAHAAN rintisan lain yang juga membantu petani di sisi modal dan penyaluran hasil panen adalah Eragano. Seperti diungkap Stephanie Jesselyn (CEO Eragano), pihaknya ingin memberikan solusi menyeluruh agar dapat membenahi kehidupan petani. “Jika hanya bantu permodalan, nanti petani jual hasil panennya ke mana? Ujung-ujungnya ke tengkulak lagi” ujar Stephanie mencontohkan. “Jadi kalau memang ingin dibenahi, rantainya yang harus disusun dari awal” tambah Stephanie.

Perjalanan awal Eragano dimulai sekitar tahun 2016, ketika membangun aplikasi jual-beli yang diujicobakan pada 25 petani yang berlokasi di daerah Pengalengan, Jawa Barat. Saat itu, Eragano berhasil meningkatkan pendapatan petani tersebut sebesar 30% dibanding menjualnya ke rantai distribusi tradisional.

Berbekal momentum tersebut, Eragano terus mengembangkan solusinya hingga kini ada sekitar 5000 petani yang bergabung dengan Eragano. Para petani tersebar di beberapa wilayah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara Timur. Petani yang bergabung pun mendapat seleksi ketat. “Untuk perekrutan petani itu bisa memakan waktu paling lama sampai dua bulan,” kata Stephanie.

radin Eragano juga memperkenalkan konsep atau penentuan kualitas panen; satu hal yang ternyata belum banyak dipahami petani. Selama ini, saat menjual hasil panen ke pembeli atau tengkulak, petani menjual dengan harga yang sama rata. “Kalau di Eragano, setiap hasil panen akan kami hargai sesuai hasil sortasi dan radin radin

. Jadi, ketika hasil panen -nya A, harga jual akan menjadi lebih tinggi,” ujar Stephanie.

Komoditas pertanian yang dikelola Eragano pun bermacam-macam, mulai dari wortel, kentang, jagung pipil, cabai, gula semut, madu dan lain sebagainya. Nantinya, setiap hasil panen dari komoditas tersebut akan langsung disalurkan ke mitra-mitra yang telah kerjasama dengan Eragano, seperti hotel, restoran, cafe, industri, dan lainnya. Yang terbaru, Eragano bekerjasama dengan Unilever untuk memasok cabe yang akan digunakan sebagai bahan baku produk sambal.

Selain menyalurkan hasil panen petani ke dalam negeri, Eragano juga mengekspor hasil pertaniannya ke beberapa negara lain. “Untuk gula semut, kami ekspor ke Bulgaria dan Jerman, sedangkan madu kami kirim ke Korea Selatan,” kata Stephanie.

Di sisi pendanaan sendiri, Eragano akan menghubungkan petani dengan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Jadi ketika petani membutuhkan dana untuk menggarap lahannya, Eragano akan membantu mengajukan pinjaman ke BPR. “Untuk permodalan sendiri, kami sifatnya membantu karena tidak ambil untung sedikit pun” ungkap Stephanie.

Keuntungan Eragano hanya dari sisi transaksi, dengan mengambil margin maksimal 10% dari transaksi yang terjadi di platformnya. “Jadi bisnis kami hanya dari jual hasil panen” cerita Stephanie.

*** Cerita BIOPS Agrotekno, Neurafarm, iGrow, dan Eragano di atas hanyalah sepotong kisah dari semangat besar anak muda Indonesia yang ingin meningkatkan taraf hidup petani. Perjuangan mereka memang masih panjang, mengingat masih ada jutaan petani Indonesia yang belum tersentuh teknologi.

Namun setidaknya mereka sudah melakukan gerakan. Dan seperti diungkap Fahri Riadi (CEO BIOPS Agrotekno) di sela-sela kesibukan

sih memanen paprika, ”Mimpinya pelanpelan ingin memodernkan pertanian dan membantu petani yg masih kesusahan dalam hal produksi”.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.