Sebelum Adopsi Agile

Agile terus menggerogoti dunia. Pengaruhnya terus meluas ke berbagai sektor industri. Popularitas Agile terus meningkat mengalahkan Waterfall.

Info Komputer - - Expert Says -

WALAUPUN Agile lahir dari hasil pemikiran para praktisi teknologi informasi (TI) dalam konteks pengembangan perangkat lunak, pengaruhnya tidak terbatas pada dunia TI. Saat ini Agile telah menjadi identik dengan percepatan, transformasi, dan jalan menuju keunggulan dalam kompetisi usaha.

Bila kita perhatikan dengan seksama, wajar saja bila banyak organisasi mengadopsi Agile. Agile, di balik berbagai metode penerapannya, mengajak untuk fokus pada tujuan utama dan meninggalkan hal-hal yang tidak

as e perlu dilakukan ( ) untuk menggapai tujuan.

Agile mengajak untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan dan selalu siap berubah untuk memenuhi perubahan kebutuhan tersebut. Agile mengajak untuk memaksimalkan komunikasi dan kolaborasi antara pihak bisnis dan pihak teknis agar pemahaman terhadap kebutuhan menjadi lebih utuh. Dalam kompetisi yang ketat dan serba cepat seperti sekarang ini, semua ajakan Agile itu tentu sangat menggiurkan.

Pertimbangkan Enam Hal

Walaupun begitu, mengadopsi Agile tidak selamanya berakhir bahagia. Penyebabnya bukan Agile itu sendiri, tapi kesalahpahaman terhadap apa itu Agile dan apa yang sebenarnya Agile tawarkan. Ada beberapa hal yang perlu ditegaskan dalam proses mengadopsi Agile ke dalam sebuah organisasi, baik bagi organisasi yang masih berencana maupun telah melakukan adopsi tersebut.

1 Agile bukan segalanya.

Tujuan besar adopsi Agile adalah untuk meningkatkan kapabilitas organisasi agar siap menghadapi persaingan bisnis.

Bila kita fokus pada tujuan tersebut, kita dapat melihat bahwa Agile bukan satu-satunya cara.

Dalam kondisi tertentu, Waterfall mungkin lebih efektif untuk diterapkan daripada Agile, misalnya saat kebutuhan telah jelas di awal dan kemungkinannya kecil untuk berubah. Contoh lainnya adalah saat tim yang terlibat sulit mengubah cara kerja mereka sehingga waktu yang mereka butuhkan untuk menjadi Agile dan menyelesaikan pekerjaan justru lebih lama daripada waktu yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cara kerja yang biasa mereka terapkan.

2 Agile bukan hanya soal “e dan working softwar ” “responding to change”.

Bila Agile diterapkan hanya dengan kedua hal tersebut, kerja yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan kerja serabutan. Terutama bila Agile diterapkan tanpa perencanaan yang memadai, kerja serabutan semakin sulit dihindari.

Komunikasi dan kolaborasi seharusnya tidak kalah penting

or in so are dengan “”

respondin o an e dan “”. Perencanaan kerja, penentuan prioritas, pendefinisian kebutuhan yang jelas, dan kinerja tim yang terlibat hanya dapat dioptimalkan lewat komunikasi dan kolaborasi. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang memadai, kerja tidak lagi serabutan.

3 Agile butuh dukungan semua pihak.

Pendekatan yang dibutuhkan dalam adopsi

op do n Agile meliputi

oo up dan . Bila adopsi Agile hanya sebatas perintah

op do n manajemen ( ), adopsi Agile dapat menjadi beban tambahan bagi para pekerja. Bila adopsi Agile hanya sebatas inisiatif sporadis para pekerja, adopsi Agile akan sulit menyebar ke seluruh organisasi karena tidak dianggap penting oleh manajemen. op do n Kombinasi dan oo up merupakan hal yang penting dalam adopsi Agile. Setiap organisasi perlu menyiapkan a pion atau paling tidak suppor er di semua tingkat agar adopsi Agile dapat diterima dengan baik dan menjadi budaya organisasi.

4 Agile adalah perjalanan.

Sebelumnya telah jelas bahwa Agile bukanlah tujuan, tapi sekadar kendaraan. Akan tetapi, penting juga untuk ditegaskan bahwa menaiki kendaraan itu tidak mungkin hanya sebentar. Dua hari pelatihan tidak akan membuat seseorang menjadi ahli dalam Agile. Dua bulan adopsi Agile tidak akan membuat organisasi menjadi

a ili organisasi dengan yang memadai. Dua tahun adopsi Agile belum tentu membuat Agile menjadi budaya organisasi. Setiap organisasi harus siap melakukan perjalanan panjang saat mengadopsi Agile. Saat tujuan adopsi Agile telah tercapai pun perjalanan itu masih belum berakhir karena organisasi harus terus menjaga budaya Agile tetap hidup.

5 Agile bukan hanya Scrum.

Agile jauh lebih luas daripada Scrum. Scrum memang merupakan metode Agile yang paling populer saat ini, tapi bukan berarti metode lain menjadi tidak berguna. Scrum

ra e or memang merupakan yang ringan, mudah dipahami, dan mengakomodasi kebutuhan manajemen, tapi bukan berarti hanya Scrum yang dapat digunakan dalam adopsi Agile.

Kami pernah menemukan kondisi saat Sprint tidak dapat diterapkan karena pertemuan rutin per 2 minggu sulit diwujudkan. Dalam kondisi tersebut, Kanban mungkin lebih tepat untuk digunakan. Kalau beberapa elemen Scrum lainnya masih relevan, tim dapat memilih menggunakan Scrumban.

6 Agile tidak bertolak belakang dengan regulasi.

Adopsi Agile tidak harus diartikan keluar dari regulasi atau meningkatkan risiko ketidakpatuhan terhadap regulasi. Tantangan adopsi Agile dalam lingkungan yang regulasinya ketat tentu lebih tinggi dibandingkan dalam lingkungan yang regulasinya longgar. Akan tetapi, adopsi Agile seharusnya cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan regulasi yang ada. Dalam kondisi tertentu, justru regulasi yang berlaku perlu diubah saat melakukan adopsi Agile

as e agar dapat mengurangi dalam ketentuan yang berlaku.

Adopsi Agile pada dasarnya adalah proses yang sederhana karena Agile hanya sekumpulan manifesto dan prinsip yang membentuk pola pikir dan cara kerja tertentu. Akan tetapi, di balik kesederhanaan itu, adopsi Agile memang tidak mudah. Pemahaman yang tidak tepat terhadap Agile menjadi salah satu kendala utamanya. Dengan mempertimbangkan keenam hal di atas, proses adopsi Agile dalam organisasi akan semakin optimal.

AMIR SYAFRUDIN (Praktisi Agile) Email: [email protected]

z_wei/iStock

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.