Rumah-rumah di Atap Langit Korowai

Kita bisa menemui mereka setelah menempuh perjalanan yang berliku dan cukup melelahkan.

Intisari - - Front Page - Penulis: Irfan Ramdhani, di Depok Fotografer: Eva Fauziah

Suku ini baru terungkap pada 1974 oleh misionaris Belanda. Saya harus berterima kasih untuk penemuan tersebut, karena akhirnya saya mengenal mereka. Saya cukup beruntung, karena berawal dari sekadar tahu, kemu- dian mendapat kesempatan untuk mengunjunginya.

Menyusuri jalan setapak untuk tiba ke Kampung Danowage, merasa hempasan angin yang berembus ke tubuh saya semakin membawa semangat yang menggelora

untuk lebih dekat dengan masyarakat suku Korowai.

Iring-iringan pemandangan yang tampak hijau di pelupuk mata, semilir angin yang berembus ke tubuh saya, hingga kicauan burungburung serta binatang yang saling bersautan menghiasi perjalanan dengan jalan setapak.

Tak terasa, setelah berjalan selama lima belas menit pada akhirnya saya tiba di perkampungan warga. Saya menginap di rumah Mama Monim Oit bersama dua anaknya,

rumah panggung dengan tinggi satu meter dari tanah. Alas dan dinding berasal dari kayu pohon besi dan beratapkan daun sagu yang telah dikeringkan. Tidak ada kamar mandi di dalam rumah, saya harus pergi ke sungai yang berjarak sekitar 50 meter untuk buang air atau mandi.

Suara jangkrik yang saling bersahutan menemani malam yang sunyi di Danowage. Tidak ada listrik yang menerangi perkampungan, listrik hanya berasal dari bandara dan rumah seorang pastor yang bekerja untuk Gereja di Indonesia (GIDI).

Untuk penerangan, warga jarang beraktivitas pada malam hari, mereka lebih senang di dalam rumah dan berisitirahat untuk melanjutkan kegiatan esok pagi. Saya tidur cepat untuk mengistirahatkan badan, seketika mengingat perjalanan hari ini yang begitu luar biasa.

Ketika hendak pulas saya sempat dibangunkan suara anak babi. Orang-orang Korowai di Kampung Danowage memiliki kebiasaan

memelihara anak anjing dan babi di dalam rumah, setelah dewasa baru mereka dilepaskan.

Menghindari roh jahat

Kita mungkin mengenal rumah pohon dalam cerita Tarzan. Tapi di Papua, rumah pohon itu benarbenar ada dan ditinggali suku Korowai. Ya, mereka saat ini masih ada dan tinggal di tengah belantara hutan Papua yang masih sangat luas.

Sebelum ditemukan oleh misionaris, suku Korowai benar-benar tidak mengenal orang di luar kelompoknya. Tidak seperti suku Papua lain yang membangun rumah Honai sebagai tempat hunian, mereka justru tinggal di rumah pohon atau biasa disebut Rumah Tinggi.

Rumah itu setinggi 15-30 m. Sengaja dibuat begitu dengan tujuan menghindari binatang buas dan gangguan roh jahat ( Swanggi). Dalam kepercayaan mereka, semakin tinggi rumah maka akan semakin jauh dari gangguan rohroh jahat.

Kedua bola mata saya sempat memicingkan ke langit seraya tertegun

melihat birunya awan yang sedang beriringan seakan menyambut kami dengan penuh tatapan kasih sayang. Bahan-bahan untuk membuat rumah pohon berasal dari hutan dan rawa di sekitar mereka, seperti kayu, rotan, akar dan ranting pohon.

Rumah pohon mereka sangat alamiah. Semua bahan terbuat dari alam, kerangka terbuat dari batang kayu kecil-kecil dan lantainya dilapisi kulit kayu. Dinding dan atapnya menggunakan kulit kayu atau anyaman daun sagu. Untuk mengikat, semua menggunakan tali dari serat rotan. Semua proses pembuatan rumah dilakukan dengan menggunakan tangan.

Bermacam kualitas sagu

Suku Korowai memang banyak meninggalkan cerita yang sepatutnya dibagikan untuk khalayak ramai. Salah satu contohnya larva semut di sana masih dipercaya bisa menyembuhkan batuk.

Saya melihat sendiri bagaimana jari-jemari Sapira (9 Tahun) yang sedang tidak memakai baju itu

memasukkan kumpulan semut yang dipegangnya. Dengan tangan kirinya, ia memasukkan perlahanlahan semut yang berukuran kecil ke dalam mulutnya.

Kearifan lokal yang masih sangat terjaga membuat saya berpikir bahwa Indonesia sangat akan kaya budaya di dalamnya. Saya berharap pemerintah Indonesia bisa terus menjaga dan melestarikan budaya Korowai yang ada di Kampung Danowage.

Tatanan sistem mata pencaharian suku Papua, mengenal tiga usaha po- kok, yaitu memancing ikan atau udang di danau, meramu sagu, dan berladang. Pada setiap usaha pokok mata pencaharian tersebut diserahkan urusannya kepada masing-masing marga yang diberi kepercayaan untuk mengerjakannya.

Tanaman sagu menurut orang Sentani dikenal dalam beberapa jenis yang menjadi andalan secara khusus pada acara-acara adat dan paling sering dikonsumsi. Jenisjenis tersebut dibedakan berdasarkan daun, isi empulur, batang, dan duri pada tanaman sagu.

Orang Sentani menyebut jenisjenis sagu tersebut adalah rando, para, yepah, folo, monggin, ruruna, yakalope,manno dan panne. Masingmasing jenis sagu ini ada kualitasnya. Misalnya sagu jenis para merupakan sagu yang memiliki kualitas baik sehingga lebih banyak dikhususkan bagi pembayaran anak perempuan.

Sedangkan sagu jenis yepah juga merupakan salah satu jenis sagu dengan kualitas baik yang sering dimanfaatkan pada acara-acara besar saja. Sementara sagu jenis panne adalah jenis pohon sagu yang tinggi besar tetapi jika dipanen hasilnya kurang begitu bagus dan tidak banyak menghasilan pati sagu. Oleh sebab itu bagi orang Sentani sagu jenis ini lebih banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan jamur sagu dan ulat sagu.

Berbagi tugas

Untuk memperoleh tepung sagu tentu bukan hal mudah. Perlu waktu dan tenaga ekstra, serta alat khusus pula. Proses awalnya dimulai dengan pemilihan pohon sagu secara

usia sudah cukup untuk dipanen. Biasanya usia pohon 15 tahun.

Batang pohon kemudian dibersihkan dari sisa-sisa pelepah daun dan tanaman lain yang tumbuh disekitar pohon sagu. Baru kemudian pohon ditebang.

Batang pohon kemudian dikupas kulitnya sampai terlihat serat (empulur) yang didalamnya mengandung pati sagu. Serat itulah yang diambil dan diproses untuk menghasilkan tepung sagu.

Serat diambil dengan cara memangkur untuk memisahkannya dari batang pohon. Saat proses itu berlangsung, dibuat pula tem- pat peremasan untuk menaruh empulur. Serat itu kemudian ditempatkan ke dalam tempat peremasan, diaduk dengan air, sehingga terjadi pemisahan antara pati sagu dengan empulur tersebut.

Pati sagu yang terpisah akan terbawa oleh air ke dalam wadah yang telah tersedia dan dibiarkan mengendap. Endapan itulah yang diambil menjadi tepung sagu dan siap diolah menjadi makanan.

Kaum lelaki dan perempuan berbagi tugas dalam mempersiapkan sagu. Lelaki menebang dan mengambil serat, sedangkan perempuan membantu memangkur

sagu. Butuh waktu paling tidak satu minggu atau lebih untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

Untuk menenebang pohon sagu biasanya digunakan kapak yang juga digunakan untuk menguliti kulit batang pohon sagu. Sedangkan untuk memangkur atau menokok digunakan alat penokok yang terbuat dari dari kayu atau batu dan dikat dengan rotan. Ujung alat penokok sagu dibuat dari satu gelang besi agar dapat menghancurkan serat batang. Proses menokok sagu masih sangat tradisional tanpa ada mesin.

Noken sebagai kenangkenangan

“Anak, kamu jangan pergi sudah di sini saja.” Mama Monim Oit berkata kepada saya.

“Tidak Mama, saya harus pulang keluarga saya menunggu di rumah.”

“Ya sudah, doakan anak Mama agar bisa menjadi polisi ya. Agar bisa mengubah hidup keluarga Mama.”

Sebelum meninggalkan Kampung Danowage, saya berpamitan dengan Mama Monim Oit. Mama salah satu orang yang sangat berjasa untuk perjalananku kali ini. Ia telah memberikan tempat untuk tinggal selama beberapa hari. Tidak hanya itu, Mama Monim mengajak saya menuju lebatnya hutan di Suku Korowai untuk menokok sagu, mengajarkan cara membakar sagu, dan memancing di sungai.

Begitu banyak kenangan yang tercipta bersama orang-orang Korowai yang begitu ramah dan baik hati kepada orang asing. Setelah berpamitan, saya melihat matanya yang basah. Ia memberikan sebuah Noken sebagai hadiah kepada saya. Mama Monim berpesan untuk kembali lagi di lain kesempatan. Saya mewujudkan permintaannya dan memeluk Mama sebagai tanda perpisahan.

Seakan langkah kaki enggan untuk pergi meninggalkan Kampung Danowage. Hati merasa bergetar hebat tetapi apa daya kami semua harus meninggalkan Korowai dengan segala keasrian yang masih melekat dengan alam. Perjalanan selama beberapa hari bersama suku Korowai membuat semakin mengerti apa arti bahagia karena menurut saya tidak ada yang lebih megah dibandingkan rasa syukur.

Mutiara Kata

“Sepuluh persen dari hidup ini adalah tentang apa yang terjadi pada dirimu. Dan 90% sisanya adalah tentang bagaimana caramu bereaksi terhadapnya.” Charles R. Swindoll, Penulis asal AS

Binatang peliharaan seperti anjing dan babi yang dibiarkan hidup di dalam rumah.

Potret anak-anak Suku Korowai yang terbiasa tidak menggunakan alas kaki.

Salah satu aktivitas warga Korowai yang sedang ingin menangkap ikan di Sungai Diram.

Proses memeras hasil endapan sagu.

Sagu yang telah dibakar dan siap disantap.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.