Instagram Bikin Kamera Analog Hidup Kembali

Intisari - - Front Page -

Sewaktu bersepeda ke Pekalongan tahun 2010, saya terkejut melihat anak-anak muda usia 20-an tahun menggemari sepeda onthel. Kini, saya merasa

de javu melihat kaum langgas membangkitkan kembali kamera analog. Media sosial tak dipungkiri menjadi salah satu pemantiknya.

Sekarang kan masih banyak yang makai sabun batangan daripada sabun cair kan?” kata Wahyudin (28) , menanggapi maraknya penggunaan kamera analog beberapa tahun belakangan ini. Bekas fotografer salah satu media nasional ini kini menggeluti bisnis di balik layar populernya kamera analog.

Banyak temuan menarik yang diungkap Wahyudin seputar kembalinya kamera analog ini. Meski menurutnya sekarang ini grafiknya sedikit menurun dibandingkan dua tiga tahun silam. Toh geliatnya masih terasa sampai sekarang.

Di beberapa kota, komunitas penggiat kamera analog bermunculan. Seperti di Semarang dengan Komunitas Smg35mm yang terbentuk pada 2015. Smg merujuk ke singkatan Semarang, sedangkan 35mm adalah kode yang berkonotasi dengan rol film.

Jangan kaget jika banyak pengguna kamera analog ini adalah kaum langgas ( millenial). “Hampir pelanggan kami adalah kaum milenial,” kata Wahyudin yang membuka jasa cuci film LabRana di kawasan Kemang ini.

Kehadiran media sosial semacam Instagram dilihat Wahyudin sebagai pemicu gairah kaum langgas bermain analog. Di samping beberapa artis kondang macam Kim Kardashian, Kendall Jenner, dan artis-artis Korea yang mulai menggunakan kamera analog.

Salah satu kaum langgas itu adalah Gemilang Rachmad. Seperti diceritakan situs berita Hai, mahasiswa Universitas Prasetya Mulya ini memang sudah menggemari fotografi sejak SMP. Namun ia semakin menggilai fotografi justru ketika menjauh dengan kamera digital. “Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang.

Mampu menangkap emosi

Akan tetapi berbeda dengan generasi sebelumnya yang memang adanya kamera analog ( kalaupun kamera digital sudah muncul harganya masih mahal), kaum langgas ini masih tak bisa lepas dari dunia digital. Dalam artian, mereka hanya nyuci filmnya saja dan tak mencetaknya. “Negatif filmnya pun banyak yang tidak diambil,” kata Wahyudin sambil menunjukkan berkasberkas film yang menumpuk di lemari penyimpanan.

Para kaum langgas ini memang tak butuh cetakan dan menatanya dalam sebuah album layaknya generasi X atau baby boomers. Kedekatan mereka dengan media sosial macam Instagram membuat mereka tak mau repot-repot dengan hasil jepretan di atas kertas “Kodak Color Paper”. Hasil cuci film mereka pun dikirim lewat layanan komputasi awan, semacam Google Drive.

“Jadi, begitu selesai dicuci, negatifnya kami pindai dan foto dalam bentuk digital kami unggah di Google Drive dan pelanggan tinggal mengunduhnya,” tutur Wahyudin sambil menambahkan bahwa karyawannya harus mengosongkan kapasitas penyimpanan di komputer mereka setiap bulan padahal sudah berkapasitas 1 TB.

Nah, ketika sudah dalam bentuk digital, foto tadi diunggah ke Instagram oleh kaum langgas. Jika kita mencermati tagar-tagar di Instagram, banyak tagar yang mengacu ke fotofoto hasil jepretan kamera analog. Biasanya ada embel-embel 35mm semisal #indo35mm, #35mmphoto, atau #35mmportrait (35mm adalah

format film kecil dengan ukuran bagian sensitif cahaya 24x36mm untuk setiap pengambilan, walaupun beberapa kamera memiliki kemampuan untuk membaginya dua untuk keperluan efisiensi).

Di luar prosesnya yang sedikit njlimet dibandingkan dengan kamera digital, film analog tetap memiliki keunggulan yang belum bisa disaingi film digital. Ketajaman warna analog susah untuk dilawan. Oleh sebab itu, Wahyudin berani berpendapat bahwa analog gak pernah mati.

“Sama seperti vinyl (piringan hitam). Sampai sekarang masih dicari orang. Hanya saja, bedanya dengan ( kamera) analog, setiap orang bisa memotret. Berbeda dengan vinyl yang tak semua orang bisa mendengarkannya,” kata Wahyudin.

Jika masih belum percaya, dengar omongan Homer Harianja di beritasatu.com berikut ini. “Medium film tidak hanya menghasilkan foto yang lebih baik pada warna dan kedalaman, tapi juga mampu menangkap emosi dari kehidupan yang saya potret,” kata pegiat street

photography yang selalu menggunakan analog ini.

Begitu juga denganTompi, dokter sekaligus penyanyi. “Dengan film, foto jadi memiliki kualitas yang enggak bisa didapat dari kamera digital paling mahal sekalipun. Gue udah pernah nyobain kamera (digital) paling mahal sekalipun, belum ada yang ngalahin hasil foto 135mm dari segi dimensi, depth of field, gradasi hitam-putih, detail shadow, dan lain-lain. Kalau dengan kamera analog tuh, kadang kondisi yang flat aja somehow jadi ada mood- nya,” kata Tompi yang kini menawarkan jasa foto profesional di bidang fashion, produk dan portrait dengan kamera analognya.

Risiko terbakar

Di masa awal tren kamera analog, orang memilih kamera analog karena belum sanggup membeli kamera digital yang sekelas. Waktu itu dengan uang Rp200 ribu sudah bisa memperoleh kamera analog bagus. Film masih berkisar di harga Rp10.000 – Rp15.000, sementara proses cuci Rp9.000 -Rp15.000.

Sekarang, kamera analog dipilih sebagai pendamping kamera digital yang sudah dimiliki sebelumnya. Beberapa dari mereka memperoleh kamera analog karena warisan dari orangtuanya. Seperti pengalaman Maria Anneke (29), jurnalis sebuah teve nasional. Ia memperoleh kamera analog Canon AE-1 dari ayahnya yang sudah tidak dipakai lagi.

Canon AE-1 itu lalu menjadi pendamping kamera digital Olympus Pen 7. Anneke sendiri baru setahunan ini menjajal analog. Alasan jatuh cinta dengan analog, “Hasilnya ngegemesin! Stroke dan warnanya alami banget. Enggak bisa tergantikan dengan digital mana pun. Bisa sih kalau digitalnya diedit atau dikasih filter, tapi tetap hasil analog lebih mahal dan bikin penasaran saja. Kita juga jadi

terlatih menghargai setiap jepretan, karena ada harga yang harus dibayar. Enggak bisa asal foto kayak di digital.”

Kamera warisan juga yang memperkenalkan kembali Ghina Nurvita (22) dengan kamera analog. Ia menemukan kamera neneknya yang sudah lama banget, kamera Yashica dan Olympus. Beruntung di Bandung kala itu masih ada lab foto Seni Abadi. “Dari situ gue mulai konsisten main analog lagi sampai sekarang,” katanya.

Kini ia selalu membawa kamera analog berisi film ke mana pun ia pergi. Ghina pertama kali kenal analog saat kelas 5 SD, dengan selalu membawa kamera plastiknya ke sekolah untuk dipakai foto-foto. Sejak itu, kesukaannya terhadap kamera analog terus melekat.

Jika Anneke gemes dengan hasil kamera analog, Ghina memilih kata-kata ajaib dan mengejutkan. “Mengeksplor tonal foto analog itu lebih menarik, sih. Gue bisa lihat tonal yang beda-beda dari setiap kamera, rol film, dan lab. Terkadang gue amaze sendiri sama hasil foto. ‘Kok bisa yah foto gue seasyik ini?’,” katanya.

Meski bisa bikin gemes dan terkejut, mengakrabi analog berarti mengakrabi segala risikonya. Hal ini karena hasilnya tak bisa langsung terlihat. Tersimpan di dalam rol film yang baru terlihat kala dicuci dan kemudian dicetak atau didigitalkan. Belum lagi saat memasang rol film tak semudah memasukkan memori penyimpan seperti microSD. Tak jarang kaitan rol belum nyantol sempurna sehingga rol film tidak berputar.

Hal lain yang perlu dicermati adalah cahaya. Negatif film sangat sensitif dengan cahaya. Jika terlalu banyak cahaya masuk, hasilnya akan “terbakar”. Hasil foto akan putih. Ghina pernah mengalami hal ini sampai empat kali. Padahal hunting fotonya sudah niat banget. Toh kejadian itu tak membuatnya kapok pakai analog. Ia jadi makin hati-hati dan menghargai momen.

Soal kebakar ini pun dialami Anneke juga. Di waktu awal-awal ia pernah membuka penutup filmnya. “Aku kira nyangkut filmnya, enggak

mau muter filmnya.” Akibatnya bisa ditebak. Cerita Wahyudin lebih memprihatinkan lagi. “Ada yang bawa 10 rol film, hanya dua rol yang ada hasilnya.”

Investasi: pengalaman

Bisa jadi pembaca bertanyatanya, dari mana mereka memperoleh film? Apakah masih ada yang memproduksi? Di tengah maraknya media digital, serta berubahnya lab-lab foto, pertanyaan itu memang wajar-wajar saja. Tapi hukum pasar selalu mengalir di setiap kondisi: ada permintaan tentu ada pemasok. Di Jakarta, Anneke dan Ghina memperoleh pasokan negatif film dari Soup n Film di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Sementara Gemilang di Jelly Playground.

Jika tak menemukan toko fisik, maka bisa mencari toko daring. Wahyudin dulu jualan rol film secara daring sebelum tiga bulan terakhir buka toko fisik LabRana di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Selain menjual rol film, LabRana juga menerima jasa cuci film, sekaligus mendigitalkan. Namun di toko ini kita tak harus membeli. Bisa juga sekadar nongkrong sembari mendengar musik atau main game.

Karena konsumennya kaum langgas yang sudah akrab dengan layanan digital, makanya tak perlu repot-repot harus menyerahkan rol film ke LabRana. “Ada yang ngirim pakai Go- Send, ada juga yang pakai jasa paket,” kata Wahyudin. Alhasil, saat Intisari menyambangi toko itu di suatu malam, hanya ada satu anak muda yang datang menyerahkan rol. Akan tetapi kesibukan di dapur cuci plus digitalisasi berdetak dengan rancak. Sebulan bisa memroses ratusan rol.

Wahyudin memperhatikan bahwa ada perbedaan antara generasi langgas dan generasi sebelumnya, dikaitkan dengan royalnya kaum langgas membeli rol film. “Investasi mereka di pengalaman. Tidak seperti generasi sebelumnya yang lebih suka berinvestasi di alat. Jadi misalnya kita dapat uang Rp10 juta. Generasi sebelumnya akan beli alat fotografi, sementara generasi

sekarang beli tiket untuk berwisata ke Bali misalnya. Di sana mereka bisa puas-puasin foto.”

Sepengamatan Wahyudin penggemar kamera analog kiwari memang generasi langgas yang hampir tidak bersentuhan dengan kamera analog. “Saya lihat kebanyakan berusia 30-an tahun ke bawah.” Ini selaras dengan survei yang dilakukan Ilford Photo di penghujung 2014.

Dengan sampel 1.000 konsumennya dari 70 negara, Ilford

Photo menjumpai fakta bahwa 30% dari pengguna kamera analog adalah mereka yang masih di bawah 35 tahun, 60% dari konsumen muda itu baru menggunakan kamera analog tidak lebih dari lima tahun.

Terungkap juga sebanyak 84% dari responden mempelajari kamera analog secara autodidak dengan bantuan buku dan internet. Ada 49% yang mencuci cetak filmnya sendiri di kamar gelap.

Penulis: Yds Agus Surono Fotografer: Ali Qital

Berburu rol film jadul dan berjamur.

Habis dicuci didigitalisasi.

Proses digitalisasi film.

Maria Anneke

Di (Lab)rana selain cuci foto atau membeli peralatan kamera digital juga bisa main game.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.