Anak Kecil Boleh Berolahraga Ekstrem!

Intisari - - Front Page - Penulis: Yds Agus Surono

Beberapa orangtua seperti ketakutan dengan risiko yang akan terjadi manakala sang buah hati menggemari olahraga ekstrem. Namun, selain memiliki beberapa keuntungan, olahraga ekstrem ternyata risikonya lebih tertakar dibandingkan olahraga populer lainnya karena justru risikonya yang tinggi itu. Alhasil, peralatan pendukung pun mampu meminimalkan risiko.

Namanya Kevin. Waktu itu usianya sekitar 15 tahun. Namun dengan senangnya ia bolak-balik mengantre flying fox di objek wisata Umbul Sidomukti Ungaran. Saya sendiri ngeri mencobanya. Hanya karena penasaran dan embel-embel sebagai yang tertinggi di Indonesia (70 meter dari permukaan) maka saya memberanikan diri mencoba.

“Anaknya memang bandel dari kecil. Sudah berapa ‘tato’ menempel di kakinya. Untung anak laki-laki,” kata bapaknya. Meski waswas, sang bapak hanya bisa berpesan untuk berhati-hati.

Tak banyak anak seperti Kevin. Sedari kecil sudah tertarik dengan aktivitas pemicu adrenalin. Iklim di Indonesia juga belum cocok dengan keberadaan anak seperti Kevin. Membimbingnya, memberi arahan, melatihnya. Lalu muncullah juara dunia di cabang olahraga ekstrem.

Tidak seperti di AS, yang meski sekarang ini kebebasan anak-anak terbatas atas nama keselamatan, anak-anak bisa berpartisipasi dalam olahraga ekstrem kapan saja di usia yang lebih muda. Seperti Jett Eaton yang pertama kali diundang untuk berkompetisi di Mega-Ramp (olahraga ekstrem untuk skateboard atau sepeda BMX)dalam acara Big Air di ESPN X Games ketika ia berusia 13 tahun.

Dalam kompetisi itu pula, dua dari enam penghuni papan atas berusia di bawah 16. Bahkan, Chloe Kim, seorang snowboarder, meraih medali emas termuda Winter X Games pada usia 14.

Merasa bebas

Tapi sekarang ini mengharapkan anak bermain di luar ruang saja sudah susah, apalagi mengharapkan melakukan hal-hal yang ekstrem. Tak hanya di Indonesia, bahkan di Inggris pun, survei The National Trust pada 2016, menunjukkan, anak-anak menghabiskan separo dari waktu orangtua mereka saat kecil untuk bermain di luar.

Survei yang dipublikasikan di The Guardian itu juga menyimpulkan, sementara lebih dari empat perlima (83%) orangtua mempertanyakan seberapa penting anak-anak mereka belajar menggunakan teknologi, 90% dari mereka lebih suka anak-anaknya menghabiskan masa kecil di luar rumah, berinteraksi dengan alam.

Dari 1.001 orangtua yang memiliki, anak berusia antara empat dan 14 yang ditanyai, hampir semua (96%) menganggap interaksi anak dengan lingkungan dan bermain di luar ruangan penting buat perkembangan anak.

Lalu, berapa lama sih, separo dari waktu permainan anak-anak dibandingkan dengan waktu milik orangtua mereka?

Hasilnya tak jauh dari angka empat jam per minggu. Bandingkan dengan 8,2 jam seminggu waktu yang dihabiskan orangtua mereka saat masih kanak-kanak dulu. Lantas, ke mana larinya separo waktu itu? Apalagi kalau bukan ke gawai.

Padahal, beraktivitas di alam, apalagi yang termasuk ekstrem, memiliki banyak keuntungan. Menurut seorang psikolog anak, salah satu alasan mengapa anakanak tertarik dalam olahraga ekstrem karena mereka merasa lebih bebas.

Olahraga tim yang populer seperti bola basket atau sepakbola sudah sangat umum sehingga dimasukkan dalam kurikulum sekolah, yang berarti bahwa mereka sangat diatur dan dikendalikan. Hanya ada sedikit ruang untuk kebebasan berekspresi.

Mereka yang gerah dengan kekangan berekspresi ini dipaksa memilih antara sepakbola, bola basket, atau tidak sama sekali. Banyak dari mereka akhirnya kehilangan minat dalam olahraga dan menjadi

Salah satu alasan anak-anak tertarik olahraga ekstrem karena mereka merasa bebas.

tidak aktif sejak usia muda. Ini bisa dicegah jika orangtua lebih terbuka terhadap olahraga ekstrem.

Jauh dari narkoba

Menurut para ahli olahraga, panjat tebing, kayak, atau ski adalah cara yang bagus untuk membangun ketahanan dan kekuatan fisik. Dari perspektif psikologis, mereka bisa menghilangkan stres, meningkatkan fokus, serta membangun kedisiplinan dan ketekunan.

Anak-anak yang tumbuh dewasa dengan melakukan olahraga eks- trem belajar untuk lebih percaya diri dan mengekspresikan individualitas mereka melalui aktivitas fisik. Jauh dari menjadi “pemberani” atau “pemberontak”, mereka cenderung berisiko lebih rendah putus sekolah atau terperosok dalam kecanduan narkoba.

Menurut teori yang terperinci dalam buku The Development of Criminal and Antisocial Behavior: Theory, Research, and Practical Applications (2015), salah satu alasan mengapa begitu banyak remaja menjadi pencari sensasi adalah

karena orangtua mereka terlalu protektif dan melarang mereka mengekspresikan diri melalui kegiatan fisik saat masih anak-anak.

Pada 1990-an, sebuah program unik diluncurkan di Norwegia untuk mengatasi persoalan remaja yang bermasalah dengan narkoba. Mereka disuruh menjalani olahraga ekstrem seperti terjun payung, panjat tebing, dan kayak. Setelah beberapa bulan, tak hanya masalah dengan narkoba yang berkurang, tetapi juga prestasi di sekolah meningkat dan tidak lagi menampilkan kecenderungan antisosial atau bertindak kriminal.

“Jika Anda tumbuh dengan banyak pengalaman yang berkaitan dengan permainan ekstrem, periode remaja lebih mudah dikontrol. Anda akan lebih realistis dalam penilaian risiko Anda,” kata psikolog asal Norwegia Ellen Sandseter.

Lebih aman

Tentu saja ada hal yang harus diperhatikan jika membolehkan anak menjajal olahraga ekstrem. Keselamatan menjadi alasan utama orangtua tidak mengizinkan anakanak melakukan olahraga ekstrem. Meski ada yang bilang, alasan yang

Sepak bola termasuk olahraga rentan cedera.

Tumbuh dengan permainan ekstrem membuat periode remaja lebih mudah dikontrol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.