CEDERA LEBIH BANYAK PADA OLAHRAGA POPULER

Intisari - - Dinamika - (USA Today)

Sampai ada penelitian lebih lanjut, susah untuk mengatakan bahwa hampir semua olahraga untuk anak-anak (seperti terdaftar di bawah ini) benar-benar lebih berbahaya dibandingkan olahraga alternatif.

Olahraga tim menimbulkan lebih banyak cedera bukan karena olahraganya, tapi banyaknya anak-anak yang berpartisipasi. Banyak anak-anak lebih suka main olahraga populer seperti bola basket, misalnya, dibandingkan skateboard.

Benar bahwa anak-anak bisa cedera saat berolahraga apa pun, namun beberapa jenis olahraga memiliki risiko cedera lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Oleh karena itu, jika anak-anak Anda bermain olahraga tinggi risiko ini, perlu usaha ekstra untuk menjaga keamanan anak-anak.

Anak-anak cedera paling banyak dalam enam olahraga berikut ini:

Bola

basket

Sepakbola

Bisbol

Sofball

Sepak bola Amerika

Senam.

Sementara itu ada dua jenis cedera dalam olahraga: cedera berulang atau penggunaan yang berlebih secara kronis dan cedera akut. Yang pertama bisa menyebabkan fraktur stres, robekan otot, atau deformitas tulang secara progresif. Pada cedera kedua terjadi akibat kontak atau benturan dengan kekuatan utama, menyebabkan patah tulang, dislokasi, dan cedera tulang belakang atau saraf otak yang lebih serius.

Sebelum usia pubertas, risiko cedera yang berkaitan dengan olahraga sama antara laki-laki dan wanita. Saat usia akil balik, remaja pria bertambah kuat dan tinggi/ besar, namun menjadi lebih sering cedera dan lebih serius dibandingkan dengan remaja wanita. Setelahnya, remaja laki-laki ternyata tiga kali lebih berisiko terkena cedera dibandingkan remaja perempuan.

Keseriusan cedera antara dua jenis kelamin itu meningkat seiring bertambahnya umur dan tingkat kompetisi. Anak yang kurang terlatih saat bertanding melawan anak yang lebih dewasa berada dalam situasi yang lebih besar risikonya untuk mengalami cedera.

Dari sekitar 65 ribu anak-anak yang menerima perawatan medis akibat cedera bermain inline skating setiap tahunnya, hampir separonya mengalami patah tulang dan 7.000 mengalami cedera pada kepala atau wajah.

Skaters paling banyak cedera pada pergelangan tangan dan siku mereka. Pelindung pergelangan tangan dan bantalan siku memberikan perlindungan yang maksimal (85 persen), mirip dengan pelindung kepala pada pesepeda.

sebenarnya adalah ketakutan dari orangtua sendiri.

Perlu diingat, dalam setiap olahraga mengandung risiko. Bahkan olahraga yang kita kira minim risiko justru termasuk peringkat atas dalam hal risiko ( lihat boks: Cedera Lebih Banyak pada Olahraga Populer.) Namun, ketika olahraga ekstrem itu dilakukan dalam lingkungan yang sudah dikelola, di bawah pengawasan ahlinya, kemungkinan mengalami cedera sama seperti ketika ia main sepakbola.

Bahkan dalam beberapa kasus, olahraga ekstrem lebih aman karena mereka menggunakan alat pelindung. Seperti pada panjat tebing dalam ruangan, anak-anak “diamankan” dengan tali pengaman dan matras di bagian bawah. Kondisi ini tentu lebih aman dibandingkan dengan kepala terkena tendangan bola sepak yang bisa mencapai kecepatan 60-an km per jam.

Intinya, kecelakaan dan cedera adalah bagian dari olahraga apa pun, dan selama anak-anak melakukan aktivitas ekstrem dalam lingkungan yang dikondisikan, di bawah pengawasan ketat, kemungkinan mendapat cedera serius sangat tipis.

Toh tak ada salahnya untuk melakukan beberapa langkah yang bisa meminimalkan risiko kecelakaan pada anak saat menjalani olahraga ekstrem. Pertama, bicarakanlah dengan anak soal risiko mengikuti olahraga ekstrem itu. Anak-anak lebih penasaran dan berani daripada

orang dewasa karena tidak sepenuhnya memahami risiko sejak awal. Itulah sebabnya instruktur olahraga ekstrem memulai dengan beberapa teori pada awalnya dan menjelaskan kepada anak-anak bahwa olahraga ekstrem dapat menjadi berbahaya jika tidak dilakukan dengan serius.

Kedua, berinvestasi dalam peralatan olahraga yang dibuat khusus untuk anak-anak. Peralatan seperti helm pelindung, bantalan lutut, dan kacamata untuk anak-anak sangat penting ketika melakukan olahraga ekstrem.

Terlepas dari ini, Anda perlu berinvestasi dalam peralatan olahraga tingkat pemula yang khusus dibuat untuk anak-anak, seperti kayak berduduk tandem,

sepeda motor trail khusus anakanak, atau papan selancar yang sesuai untuk tinggi badan mereka.

Terakhir, harus ada orang profesional yang mengawasi aktivitas anak Anda saat melakukan olahraga ekstrem. Entah anak Anda memiliki pelatih pribadi atau ia bagian dari sebuah klub olahraga ekstrem, Anda harus memastikan bahwa mereka diawasi oleh para profesional. Jangan biarkan anakanak mencoba olahraga ekstrem tanpa pengawasan, karena risiko cedera dalam situasi ini sangat tinggi.

Dengan nilai lebih olahraga ekstrem tadi, apakah masih waswas melepas anak mengikuti olahraga ekstrem?

Di bawah pengawasan ketat, kemungkinan cedera serius sangat tipis.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.