CIUM HIDUNG TANDA KESOPANAN

Intisari - - Jeda - Chanigia Everest A.M.)

Ada satu kebiasaan unik pada masyarakat Kupang dan beberapa kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur yaitu cium hidung. Ya, hidung dengan hidung saling beradu atau berciuman. Sebuah pemandangan yang lazim terjadi pada acara pernikahan, kematian atau sekadar silaturahmi antarsanak keluarga.

Cium hidung atau cium idong dalam bahasa setempat, konon adalah tradisi asli suku Sabu. Suku yang berasal dari Pulau Sabu,

terletak di Laut Sawu, antara Pulau Sumba dan Pulau Rote. Namun dalam perjalanannya, tradisi ini dipraktikkan suku-suku lain di NTT.

Dr. Petrus Ly, M.Si do Hawu, dosen sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang mengungkapkan bahwa dalam adat masyarakat Sabu, cium hidung dilakukan dalam tiga keadaan. Yakni, memberi makna salam hangat, dalam praktik adat perkawinan, dan dalam penyelesaian konflik.

Makna salam hangat sendiri terbagi dalam dua kondisi. Pertama, cium hidung orang muda kepada yang lebih tua. Semua ciuman dapat dilakukan baik dengan sesama jenis atau lawan jenis. Mereka yang muda harus berinisiatif mencium yang lebih tua baik dalam acara resmi maupun pertemuan biasa. Jika tidak, akan dianggap kurang ajar.

Kedua, ciuman hidung dari orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Hal ini bisa terjadi kalau orang yang lebih muda ada dalam kondisi tertentu, seperti jadi pengantin, sedang sakit atau sedang berduka.

Cium hidung juga dilakukan dalam pernikahan adat Sabu. Prosesi yang dilakukan pada momen akhir upacara pernikahan ini bermakna kerendahan hati dari keluarga mempelai laki-laki untuk bersatu dengan keluarga mempelai perempuan. “Bermakna sebuah pesan bahwa telah terbentuk suatu keluarga besar baru antara keluarga mempelai laki-laki dan perempuan,” tutur Petrus yang kebetulan juga berasal dari suku Sabu.

Ada pula cium hidung pada saat konflik yang menandai adanya perdamaian. Pihak yang merasa bersalah harus mendatangi dan berinisiatif melakukannya. Tindakan ini bermakna permohonan maaf serta pemberian maaf yang tulus dari kedua belah pihak.

Di luar negeri, tradisi cium hidung bisa kita temui antara lain di Selandia Baru dan Arab. Suku Maori yang merupakan penduduk asli negeri itu menyebutnya hongi yakni sebuah tradisi penyambutan tamu. Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Selandia Baru, Maret 2018, penyambutan semacam ini juga dilakukan.

Sedangkan di Arab, cium hidung jadi salah satu cara menyapa. Setelah berciuman hidung, masih ada cium pipi dan jabat tangan. Hanya saja, di Arab, cuma dilakukan antarpria. (

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.