Kiprah Laskar Tionghoa dalam Pertempuran Surabaya

Intisari - - Front Page - Penulis: Yds. Agus Surono

Tarmizi Taher (Menteri Agama pada era Suharto) pernah berujar bahwa tanpa John Lie sejarah Indonesia bisa berbeda sekali dengan yang kita tahu sekarang. Ibarat gunung es, John Lie adalah puncaknya. Di bawahnya ada banyak orang Tionghoa yang berjuang merebut dan menegakkan kemerdekaan RI.

Pendoedoek Tionghoa Membantoe Kita”. Begitulah judul artikel di majalah Merdeka pada 17 Februari 1946 dalam rangka memperingati enam bulan kemerdekaan RI. Salah satu paragrafnya adalah, “Rakjat Tionghoa poen insjaf akan hal ini. Dengan bekerdja bersama, bahoemembahoe dengan bangsa Indonesia, rakjat Tionghoa toeroet berdjoeang di Soerabaja oentoek Indonesia Merdeka.”

Ya, artikel itu berkaitan dengan pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang kelak kemudian hari ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Kota Surabaya pun ditabalkan menjadi Kota Pahlawan.

Artikel itu menarik karena membahas soal keterlibatan etnis Tionghoa dalam pertempuran yang memakan banyak korban. Situs berita Tirto.id menuliskan bahwa korban dari Indonesia mencapai enam ribu orang, sementara korban dari Inggris sekitar 600 orang. (Pertempuran ganas itu berlangsung tiga minggu. Kerugiannya luar biasa besar. Akhir November, kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris sepenuhnya. Para pejuang republik yang babak belur terpaksa mengungsi ke luar kota bersama pengungsi-pengungsi lain.)

Korban yang besar dari pihak Indonesia karena sebagian besar pejuang Indonesia (sekitar 100 ribu) adalah pemuda non-militer.

Sementara jumlah tentaranya hanya 20 ribu. Bandingkan dengan pihak Inggris yang dari 30 ribu adalah tentara semua, dengan persenjataan lengkap.

Nah, di antara seratusan ribu pejuang Indonesia itu, terselip ratusan orang Tionghoa seperti yang tersurat dalam salah satu paragraf artikel yang ada di majalah Merdeka tadi.

Palang Biru dari Malang

Dalam buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran, Sejak Nusantara sampai Indonesia karangan Iwan Santosa diterangkan, pada 10 November 1945 pukul 22.00, seorang Tionghoa berpidato dalam bahasa Mandarin mengatakan betapa besar korban jatuh di kalangan penduduk Tionghoa. Ia mendesak perlunya pembentukan TKR Tionghoa. Sementara pidato dalam bahasa Inggris dilakukan oleh seorang gadis Tionghoa yang meminta perhatian Pemerintah Chungking (Republik Tiongkok) tentang kekejaman militer Inggris di Surabaya.

Banyaknya korban akibat serbuan militer Sekutu itu dilansir Kantor Berita Reuters, yang menyebut angka ribuan. Lelaki, perempuan, sipil maupun militer, dewasa maupun anak-anak. Ikut menjadi korban juga orang Tionghoa, Indo-Belanda, dan India. Tetapi panglima Sekutu, Jenderal Christison, tak suka jumlah korban pembunuhan massal itu dibesar-besarkan. Menurutnya, jumlah korban tak mencapai 1.000 orang. Berapa korban di pihak Inggris juga tidak diberitakan. Korban-korban itu dirawat di rumah sakit yang tersebar di seantero Surabaya.

Kenyataan inilah yang kemudian memunculkan semangat warga Tionghoa untuk terjun ke kancah pertempuran. Misalnya saja Barisan Palang Merah Tionghoa di Surabaya. Mereka dengan giat memberikan pertolongan kepada para korban. Tidak hanya menolong korban-korban dari masyarakat Tionghoa, tetapi dari segala suku bangsa. Pada mobil Palang Merah berkibar bendera Chungking dan bendera Sang Merah Putih.

Saat pertempuran terjadi, banyak pemuda dan laskarlaskar yang ada di Surabaya belum tahu cara melempar granat. Mereka tidak paham kalau sebelum dilempar, granat harus dicabut picunya terlebih dahulu.

Sementara dari Malang diberangkatkan Angkatan Muda Tionghoa (AMT) dan Palang Biru. AMT didirikan untuk mendukung kemerdekaan RI. Pemberangkatan tersebut, mengacu ke Siauw Giok Tjhan penulis buku Renungan Seorang Patriot Indonesia, atas persetujuan Dokter Imam pimpinan RS Militer di Malang dan wakilnya Dokter Sumarno. Baik AMT maupun Palang Biru mendapat tugas memasok ransum bagi para pemuda yang bertempur di garis depan. Mereka beroperasi hingga kawasan Jembatan Merah dalam Pertempuran Surabaya.

Anggota Palang Biru juga mengangkut korban Pertempuran Surabaya ke garis belakang di Mojokerto yang dikuasai penuh Republik Indonesia. Mereka juga dipercaya mengatur pemberangkatan kereta api Palang Merah yang berangkat dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Dalam satu peristiwa, kereta api yang sudah diberi tanda Palang Merah di atapnya itu ditembaki ( straffing) pesawat tempur Inggris. Siauw Giok Tjhan mencatat beberapa pemuda Tionghoa kemudian mendapat “Bintang Gerilya” karena peran lebih lanjut dalam menghadapi Agresi I dan II dalam Perang Kemerdekaan di Malang Raya.

Beberapa pemuda Tionghoa Malang juga bergabung langsung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo. Beberapa di antaranya adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek. Nama terakhir adalah ahli pyroteknik (ahli amunisi dan peledak) yang didapatnya saat ikut berperang di Tiongkok melawan Jepang. Ada lagi pemain sepak bola The Djoe Eng yang bergabung dalam Laskar Merah, sementara beberapa pemuda Tionghoa asal Minahasa menggabungkan diri dalam Kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

Helm mirip Nazi

Narasi keterlibatan orang Tionghoa dalam pertempuran Surabaya dikuatkan pula oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia jilid I (1945) yang mengutip tulisan wartawan Merah Putih. Disebutkan, merespon pidato tokoh Tionghoa tentang kekejaman militer Inggris terhadap Rakyat Surabaya, Radio Chungking menganjurkan agar pemuda Tionghoa turut bertempur di samping rakyat Indonesia melawan keganasan tentara Inggris.

Begitu pula Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta mengabarkan orang-orang Tionghoa turut bertempur bersama rakyat Indonesia melawan Inggris di Surabaya. “Dalam aksinya mereka mengibarkan bendera Kebangsaan Tiongkok dan itu dibenarkan oleh Pemerintah Chungking. Juga kaum wanita Tionghoa bahu membahu dengan para pemudi Indonesia bergiat di barisan Palang Merah

Indonesia,” demikian siaran RRI tanggal 13 November 1945.

Adapun Radio Pemberontak di Surabaya mewartakan, “Pemboman yang membabi buta itu meminta amat banyak korban di kalangan penduduk terutama penduduk Tionghoa yang tinggal di Kramat Gantung. Oleh karena itu pemimpinpemimpin tentara pemberontakan rakyat menyeru kepada penduduk Tionghoa seluruh Jawa untuk menyusun suatu ‘Tentara Keamanan Penduduk Tionghoa’ dan mengibarkan bendera Tiongkok sebagai panjipanji Perang.”

Radio Pemberontak menegaskan perbedaan sikap pemerintah Inggris dan Tiongkok dalam situasi di Indonesia. Wilayah selatan, Indo-China dan Indonesia yang diurus Inggris dalam keadaan kacau-balau karena sepak terjang militer Inggris. Untuk itu didesak perlunya dibentuk laskar TKR Tionghoa yang diakui pemerintah Chungking.

Sayangnya, menurut sejarawan Didi Kwartanada, soal “laskar Kuomintang” ini sumbernya sangat sedikit. “Setahu saya hanya dua foto yang sekarang viral itu saja (sumbernya). Saya malah meragukan apa betul ada itu ‘Laskar Kuomintang’. Mungkin hanya simpatisan kemerdekaan Republik Indonesia yang warga Tiongkok. Jadi mereka bawabawa bendera Kuomintang.”

Buku karangan Iwan Santosa yang mengutip Merdeka menyebut ada empat foto yang menyertai artikel itu. Salah satu foto yang beredar di media sosial terasa sangat humanis, yakni menampilkan pejuang Indonesia dan laskar Tionghoa berbagi api rokok.

Selain bersisi humanis, foto itu menunjukkan “keganjilan”. Helm yang dikenakan TKR Tionghoa merupakan helm mirip helm Nazi. Menurut Didi, kemungkinan ada dua sumber asal helm itu. Pertama dari dinas perlindungan dari bahaya udara (LBD) Hindia Belanda. Kedua dari Tiongkok, yang saat itu Chiang Kaishek memakai peralatan militer dari Jerman.

Terlepas dari mana sumber helm dan minimnya informasi soal laskar Kuomintang itu, satu hal yang jelas bahwa ada peranan masyarakat Tionghoa dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Pertempuran Surabaya menjadi salah satu pertempuran yang paling tidak ingin diingat oleh Pasukan Sekutu, terlebih Inggris. Soalnya, di pertempuran ini pasukan elite Inggris dipaksa menyerah.

Pertahanan dibangun di manamana, di gedung-gedung, di jalanjalan, di rumah-rumah. Semua pemuda dan rakyat Surabaya bangkit mengangkat senjata. Foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950_Penerbit Almanak_hlm 70

Pemuda-pemuda KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) yang gagah perwira. KRIS merupakan kesatuan yang disegani pada awal revolusi kita, terutama di front Jakarta dan Jawa Barat. Foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950_Penerbit Almanak_hlm 29

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.