Rumah Suku Using, Kesederhanaan yang Mengundang Wisatawan

Intisari - - Daftar Isi - Penulis dan Fotografer: Ujang Sarwono di Jember

Bagi sebagian orang, keberadaan Suku Using ini memang terasa asing. Peninggalan dari suku di ujung timur Pulau Jawa itu kini antara lain mewujud dalam arsitektur rumah peninggalan para leluhur sejak ratusan tahun silam. Bentuk asli yang masih sederhana, justru melahirkan potensi wisata.

Butuh sedikit usaha untuk bisa menjumpai rumah Suku Using yang masih asli di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Pasalnya, rumah mereka tidak bisa lagi kita jumpai begitu saja di sepanjang jalan utama. Banyak masyarakat telah mengubah rumah Suku Using menjadi lebih modern dengan alasan mengikuti perubahan zaman.

Bertanya kepada warga merupakan salah satu cara ampuh untuk menemukannya. Setelah memasuki gapura utama Desa Kemiren, pencarian saya tertuju pada Balai Desa Kemiren untuk mendapatkan informasi terkait rumah adat yang masih bertahan dengan keasliannya. Rumah dengan bilik, arsitektur yang unik, dan lantai tanah menjadi bayangan yang terus mengganggu saya selama pencarian itu.

Benar saja. Bangunan khas berbahan dasar kayu dengan warna cokelat tua membuat saya berhenti untuk menggali informasi awal sebelum “berkenalan” dengan rumah adat ini. Itulah kantor Desa Kemiren yang berarsitektur khas Suku Using. Saya tak menyia-nyiakan waktu untuk segera bertanya kepada seorang warga yang kebetulan ada di sana.

Berbekal petunjuk singkat dari warga itu, saya mulai menyusuri salah satu gang di Desa Kemiren untuk menuju kampung tempat rumah-rumah asli itu berada. Jalan menuju kampung itu tidaklah lebar seperti gang pada umumnya. Hanya sepeda motor saja yang masih bisa digunakan untuk menyusuri setiap liku di dalam gang.

Belum jauh saya menyusuri gang menuju kampung, perhatian saya sudah terhenti pada deretan rumah yang bagi saya terlihat menarik. Semua bentuk atap rumahnya nyaris sama. Seperti ada sebuah kesepakat-

an dalam pembuatannya. Uniknya, rumah-rumah tersebut masih bertahan dengan dinding berbahan bambu.

Bahan dasar kayu hanya digunakan untuk rumah bagian depan. Sementara bagian sisi samping kiri dan kanan rumah, masih bertahan dengan bahan bambu.

Mereka yang selalu ramah

Saat saya singgah di salah satu rumah, seorang nenek yang tampak sedang menyapu bagian samping rumah, tiba-tiba masuk ke dapur. Sambil terus berjalan masuk, nenek tersebut berkata-kata dalam bahasa Using yang kurang lebih artinya sedang tidak mau menerima tamu.

Saya lebih menangkap rasa takut dari nenek penghuni rumah daripada tidak mau bertemu saya sebagai orang baru. Berbekal kemampuan bahasa Using yang terbatas, saya berusaha menjelaskan kedatangan saya.

“Isun sing biso ngomong bahasa Indonesia le, isun iki wong ndeso. Ngomong nggawe boso Using byaen yo?”( Saya tidak bisa bicara menggunakan bahasa Indonesia Nak, saya ini orang desa. Bicara menggunakan bahasa Using saja ya), begitu pinta nenek yang ternyata bernama Sutrani.

Sutrani tampak sehat meski usia telah senja. Belum lama berbincang, nenek dengan kerut wajah yang tampak jelas tersebut sudah menawarkan kopi pada saya. Cukup lama kami berbincang di samping rumahnya yang masih beralaskan tanah.

Lantai tanah, rumah berdinding bambu, kayu bakar yang ditumpuk di samping rumah, dan dipan yang saya duduki membuat rasa damai menyelimuti sepanjang perbincangan. Entah mengapa rasa kesederhanaan dan kedamaian datang bersamaan menghampiri.

Tidak lama kemudian, Samsuri, suami Sutrani ikut bergabung. Walaupun telah renta, saya masih melihat tubuh yang sehat dan semangat terpancar dari sosok lelaki tua itu. Ketika saya mencoba bertanya tentang rumah asli Suku Using, Samsuri berusaha menjelaskan. “Umah isun iki asli suku Using, delengen magih asli kabeh (Rumah saya ini asli suku Using. Lihat, semua masih asli),” tutur dia.

Lebih dari setengah jam saya berbincang dengan pasangan usia senja itu, banyak hal yang tiba-tiba menjadi bahan perenungan. Mulai dari cara mereka memperlakukan orang lain yang teramat ramah, hingga senyum dan tawa yang selalu terpancar. Seolah tidak ada beban hidup yang dirasakan.

Tiga jenis rumah

Hari masih terbilang pagi saat saya akhirnya tiba di sebuah kampung dengan sematan “Cagar Budaya Desa Kemiren”. Semua rumah adat Suku Using yang ada di sini masih mempertahankan keasliannya. Hanya bagian gebyok saja yang dibuat seragam dengan bantuan dana dari pemerintah desa setempat.

Menurut pemerhati rumah adat suku Using, Arif Wibowo, berdasarkan bentuk atapnya rumah masyarakat Using dibedakan atas tiga

bagian. Pertama, rumah tipe tikel balung. Rumah jenis ini didasarkan pada empat bidang atap. Setiap bidang atap ( rab) menggambarkan jumlah anggota keluarga penghuni rumah. Semakin banyak jumlahnya, tikel balung- nya juga bertambah.

Bentuk kedua, baresan, sebenarnya hanya penyederhanaan dari tikel balung. Perbedaannya ada pada jumlah bidang atap yang hanya terdiri atas tiga bagian. Ketiga, cerocogan, adalah yang paling sederhana. Kebanyakan rumah jenis ini tidak difungsikan sebagai bagian utama dalam sebuah rumah. Pemanfaatannya hanya sebagai pawon (dapur).

Arif juga menjelaskan, bentuk rumah Suku Using merupakan cikal bakal dari rumah tradisional Jawa. “Atap paling sederhana yang berkembang di rumah Jawa berakar da- ri tipe atap cerocogan yang ada dalam rumah Suku Using,” terang Arif.

Dalam arsitektur Jawa tipe atap seperti ini disebut panggang pe (rumah yang berdenah persegi panjang dengan atap yang terdiri dari satu sisi atap miring). Menurut Arif, atap model ini telah mengalami modifikasi seiring perkembangan peradaban masyarakat.

Mengutamakan kebersamaan

Kesan lain yang segera tertangkap dari kunjungan saya hari itu, rumah masyarakat Suku Using juga setia bertahan dalam kesederhanaan. Ketika berada di kampung adat Suku Using, saya bertemu Mbah Ning, salah satu pemilik rumah adat. Lagilagi, komunikasi harus dilakukan dengan bahasa Using, karena Mbah Ning tidak bisa berbahasa Indonesia.

Saya beruntung berkesempatan masuk dan melihat seisi rumah milik Mbah Ning. Apalagi Mbah Ning tidak berbeda dengan masyarakat suku Using yang selalu ramah. Bahkan, Mbah Ning meminta izin untuk berganti baju adat sebelum berbincang dengan saya. Pakaian ini merupakan salah satu cara masyarakat setempat memperlakukan tamu.

Dalam keterbatasan, Mbah Ning berusaha bercerita tentang rumahnya. Berbilik bambu, memiliki teras yang khas, ruang tamu lebar, dan tungku berbahan tanah liat yang menyatu dengan dapur merupakan ciri yang ada di rumah Using.

Ruang tamu yang lebar ternyata menggambarkan masyarakat suku Using yang lebih mementingkan kepentingan bersama. “Kadung pas ono dayoh akeh makne sing upekupekan, paran maning kadung ono tahlilan (Ketika ada banyak tamu agar lebih leluasa, terutama saat ada pengajian),” terang Mbah Ning. Demikian juga teras, digunakan untuk tempat bersantai setelah beraktivitas di sawah.

Meski bagian rumah depan atau gebyok telah mendapat bantuan dari pemerintah daerah, masih terlihat sisa-sisa keaslian dari rumah ini. Bilik bambu, lantai tanah, dan tungku dari tanah liat sekali lagi menggambarkan kesetiaan masyarakat Using pada kemurnian budaya.

Kayu berganti batu

Menurut Arif Wibowo, arsitek yang rajin mendokumentasikan rumah Using, banyak rumah asli Using yang berubah. Warga setempat mengganti material kayu dan bambu dengan batu bata. “Rumah berbahan kayu dan bambu sebenarnya hanya dimiliki oleh masyarakat yang belum mampu mengganti bangunan,” cerita Arif.

Beruntung, perkembangan pariwisata di Banyuwangi yang pesat justru membuat rumah-rumah asli Suku Using dicari wisatawan. Walhasil, Desa Kemiren yang menjadi tempat Suku Using tinggal selalu ramai oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Hal ini juga yang akhirnya membuat roda perekonomian masyarakat setempat seolah berputar lebih cepat.

Berbagai makanan khas Suku Using, homestay berarsitektur Using, tarian, dan berbagai budaya adat Using menjadi daya jual yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Akhirnya, masyarakat Suku Using yang setia mempertahankan budaya bak pahlawan tanpa tanda jasa dalam perkembangan pariwisata.

Seperti yang sempat saya temui di salah satu rumah warga dalam

perjalanan pulang meninggalkan Desa Kemiren. Beberapa ibu tampak bekerja sama menghidangkan berbagai menu makanan khas Suku Using kepada wisatawan.

Berbagai makanan khas seperti pecel pitik (olahan ayam kampung dengan parutan kelapa), sayur daun kelor, sego tempong, dan olahan daun semanggi tersaji di teras rumah. Ada sekelompok wisatawan yang memesan khusus berbagai menu tersebut sebagai bagian dari paket wisata di Desa Kemiren.

Kini, semakin banyak masyarakat Using yang sadar betapa penting mempertahankan warisan budaya dari nenek moyang. Telah terbukti, rumah adat, makanan, dan keramahan memiliki nilai jual di zaman yang terus berkembang.

Rumah asli yang didominasi kayu dan bambu.

Ruang tamu di rumah Mbah Ning.

Arif Wibowo

Tikel balung Baresan Cerocogan Bentuk atap rumah masyarakat Using

Tak hanya bangunan, kuliner khas Suku Using juga memiliki nilai jual.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.