Air Saleh, Kampung Orang Jawa di Rawa Sumatra

Intisari - - Daftar Isi -

Kerepotan itu akan bertambah, bila kita hendak duduk di bagian tengah. Tidak adanya jalur untuk melangkah, membuat kita terpaksa harus melangkahi kursikursi kayu yang melintang. Wajar jika banyak penumpang yang kesulitan, apalagi mereka yang bertubuh gendut atau membawa tas besar.

Setelah penumpang terisi penuh, perahu yang kami tumpangi pagi itu mulai menyalakan mesin. Bunyinya menderu-deru dan gerakan baling-balingnya mulai memecah air. Semakin kencang air terbelah, gerak perahu semakin kencang.

Sungai paling sibuk

Lepas dari Dermaga BKB, Jembatan Ampera, perahu bergerak begitu cepat. Seperti anak panah yang lepas dari busur, speed boat melintas di antara kapal-kapal besar.

Dari perjalanan itu, tak salah jika ada yang mengatakan, Sungai Musi adalah sungai tersibuk di Indonesia. Di atas airnya yang coklat, terapung berbagai macam kapal seperti kapal niaga, kapal tambang, sampai kapal kargo. Baik berbadan besi maupun kayu.

Di antara kapal-kapal besar yang buang jangkar di tengah dan di pinggir sungai, terlihat berbagai macam perahu milik masyarakat

seperti beraneka speed boat, kapal klotok, dan sampan. Semua hilir mudik di atas sungai yang total memiliki panjang 750 km itu.

Arus Sungai Musi yang saat itu naik turun, membuat perut speed boat yang kami tumpangi berbenturan dengan permukaan air. Akibatnya kadang timbul suara keras bahkan goncangan. “Jedug… Jedug… Jedug…” demikian kira-kira bunyi benturannya.

Perahu terus melaju. Beberapa di antara penumpang sampai harus berpegangan ketika perahu bergoncang atau berbelok. Tingginya kecepatan perahu membuat jarak yang ditempuh jadi terasa singkat. Pulau

Kemaro yang bila ditempuh dengan kapal angkut bisa memakan waktu satu jam, saat itu cukup sekitar 15 menit saja.

Sepanjang perjalanan, di tepian Sungai Musi terlihat selain pabrik, gudang, rumah tradisional yang berjajar, juga hutan bakau yang belum berpenghuni. Hutan bakau itu berdiri kaku menahan hempasan ombak sungai yang dibuat oleh perahu saat melaju.

Perjalanan semakin menantang, ketika speed boat mulai memasuki anak sungai atau biasa disebut “Jalur”. Meski lebar sungai semakin mengecil, laju kecepatannya tetap. Hanya sesekali diturunkan ketika berpapasan dengan kapal-kapal lain saja. Tujuannya agar tidak terjadi gelombang yang mengguncang perahu.

Lamunan di antara deru mesin speed boat jadi menjadi buyar ketika perahu kami akhirnya tiba di Dermaga Desa Saleh Makmur, Kecamatan Air Saleh, Kabupaten Banyuasin. Dermaga yang berada di Jalur 8 itu tampak masih menjadi tempat pemberhentian apa adanya. Untuk menuju ke desa, sebuah penghubung berupa jembatan kayu yang tampak sudah lapuk.

Tidak ada plat nomor

Dermaga Desa Saleh Makmur merupakan salah satu pintu masuk

ke Desa Air Saleh. Di Jalur 8, kata seorang penduduk, ada sekitar lima dermaga, yakni selain di Desa Saleh Makmur, ada di Saleh Agung, Saleh Mukti, dan dua berada di Bintaran.

Untuk menuju ke Air Saleh bisa juga melalui Jalur 6 dan 10. “Jarak antar jalur itu sekitar delapan kilometer,” ujar salah satu perangkat kecamatan yang saya temui. Jalurjalur itulah yang merupakan pintasan untuk masuk wilayah yang lebih dalam di Air Saleh.

Sebenarnya untuk menuju Air Saleh, dari Palembang bisa ditempuh juga lewat jalan darat. Namun jalur itu hanya bisa dilewati saat kemarau atau musim kering. Pada musim hujan, jalan antardesa kondisinya becek dan berlumpur. Kemungkinan belum diaspal, saya juga kurang tahu.

Kalau mau nekat, jalur darat bisa ditempuh dengan sepeda motor. Tentu butuh upaya yang cukup berat kalau memang mau melakoninya. Mungkin yang akan membuat kita agak malas, umumnya sepeda motor yang menghubungkan antar desa itu tidak memiliki plat nomor polisi. Motor curian? Entahlah.

Air Saleh pada tahun 1980-an merupakan daerah transmigrasi. Kecamatan itu terdiri atas 14 desa. Sebagai daerah transmigrasi, tak

heran bila mayoritas penduduk di sana berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu ada juga pendatang dari Bali, Bugis, dan Ogan Ilir.

Banyaknya orang Jawa membuat bahasa Jawa lazim dipakai. Bahasa warisan nenek moyang itu diajarkan turun temurun. Karena itu wajar jika penggunaannya sehari-hari tidak terlalu sempurna. Contoh, mereka hanya bisa mengucapkannya saja tanpa bisa menuliskan. Jenis bahasa yang digunakan juga tergolong kasar.

Merasa masih orang Jawa, namun sesungguhnya mereka rata-rata sudah terputus hubungan dengan kerabat mereka di Jawa. Salah seorang warga yang saya temui misalnya, mengaku keturunan orang Jombang, Jawa Timur. Namun ternyata ia malah tidak pernah menginjak tanah leluhurnya.

Warga Air Saleh umumnya memang merupakan generasi kedua dan ketiga dari orang Jawa pertama kali datang menetap. Bahkan ada pula orang Jawa yang tinggal di kabupaten lain di Sumatra Selatan, pindah ke tempat ini.

Sebagai daerah transmigrasi, Air Saleh dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan pesat terutama dalam sektor pertanian. Daerah yang dulu rawa-rawa, sekarang jadi lumbung pangan. Di desa Upang Marga ada hamparan sawah ribuan hektare.

Salah satu perangkat kecamatan mengungkapkan, ada sekitar 60.000 hektare sawah di kawasan itu. Kepemilikan sawah oleh petani dari 1 hingga 4 hektare bahkan lebih. Mariati, salah seorang penduduk setempat mengatakan, hasil panen dari sawah mencapai 6-7 ton per hektare. “Di sini hasilnya bagus,” ujar dia.

Kuda lumping modifikasi

Air Saleh tidak hanya ada hamparan sawah, melainkan juga perkebunan kelapa sawit serta karet. Di pekarangan rumah penduduk juga ditanam pohon buah-buahan seperti rambutan, pisang, mangga, dll. “Hasil pertanian itu dijual ke Palembang,” ujar Mariati yang setiap hari menjajakan cabai keliling desa itu.

Akan tetapi sebagai wilayah yang terbilang masih “terisolasi”, penduduk setempat masih

merasakan hal-hal yang terasa berat. Contoh, harga bensin 1 liter bisa sampai Rp10.000. Untuk berbelanja dalam jumlah yang besar, warga setempat harus ke Palembang menggunakan speed boat bertarif Rp70.000 sekali jalan.

Tahun 2011 listrik akhirnya masuk ke Air Saleh. Dari sinilah mereka bisa melihat televisi. Selama ini, hiburan mereka selain televisi adalah kesenian lokal. Banyaknya warga keturunan Jawa membuat kesenian setempat juga berasal dari tanah leluhur seperti kuda lumping, reog ponorogo, dll.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat melihat penduduk setempat memainkan kuda lumping. Meski namanya kuda lumping, namun kalau diamat-amati tampilannya mirip perpaduan kesenian dari Banyuwangi, Bali, dan Ponorogo. Kesenian lokal ini biasanya tampil kalau ada kegiatan desa, kecamatan, kabupaten, atau kalau menyambut tamu dari Jakarta.

Tak harus berlama-lama berkunjung ke Air Saleh. Ketiadaan penginapan membuat saya cukup sehari saja untuk mengenalnya.

Perahu berjajar menanti penumpang.

Rumah penduduk di Air Saleh.

Jembatan di tengah kampung di Air Saleh.

Jalan desa umumnya masih beraspal tipis.

Setiap petani memiliki sedikitnya 1 hektare sawah.

Kartografer: Warsono Sumber: Badan Informasi Geospasial

Kesenian yang dibawa dari tanah leluhur.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.