Pulau Natal Bioskopnya “Misbar”

Intisari - - Daftar Isi -

Dari Jakarta, jarak Pulau Christmas memang tidak begitu jauh, yakni sekitar 492 km. Jika ditempuh dengan pesawat terbang, hanya sekitar satu jam saja. Kira-kira setara penerbangan ke Yogyakarta.

Sejak 1957, Christmas resmi jadi negara bagian dari Australia di wilayah Australia bagian Barat. Kalau dari Negeri Kangguru itu, pulau ini malah harus ditempuh lewat Perth dengan transit di Pulau Cocos Keeling yang berada di selatan Christmas.

Penduduk Christmas kebanyakan berasal dari etnis Melayu dan Tionghoa. Etnis Melayunya tidak hanya dari Malaysia, ada juga orang-orang Indonesia. Namun yang saya dengar, hanya ada sekitar 6-7 orang Indonesia di tempat ini.

Selain itu tentu saja ada masyarakat yang berasal dari Perth atau negara-negara bagian Australia lainnya. Bahkan, ada masyarakat kulit putih perantauan dari Eropa. Sebagian besar pen-

duduk bekerja untuk pemerintah seperti guru, polisi, petugas imigrasi, petugas bandara, dokter, perawat, dll.

Karena pulau ini juga merupakan daerah wisata yang menarik, maka sebagian masyarakat juga berbisnis bidang pariwisata. Seperti memiliki usaha penginapan, kafe, restoran, persewaan menyelam, dsb. Selain hutan yang lebat, pulau seluas sekitar 135 km2 ini juga memiliki beberapa spot menyelam yang menarik.

Keberadaan wisata bawah laut menjadi daya tarik utama para turis. Antara lain yang cukup terkenal adalah melihat hiu paus, serta “atraksi” kepiting merah dan kepiting besar yang disebut Robber Crab.

Sehari-hari, masyarakat bergaul dalam berbagai bahasa. Bahasa Inggris, tentu yang utama. Di samping itu Bahasa Melayu ataupun beberapa dialek Tionghoa tetap digunakan oleh masingmasing etnis.

Situasi itu membuat pulau ini terasa unik. Bahkan, saya melihat, orang-orang asal Indonesia di pulau ini memilih saling berbicara berbahasa Indonesia. Katanya sih, alasannya karena mereka rindu untuk berbicara dan mendengar bahasa kita.

Pusat judi teramai

Banyak orang mengira, nama Christmas diambil dari banyaknya kepiting yang muncul saat musim hujan pada awal Desember. Pada penghujung tahun, pinggiran pantai pulau ini memang akan berwarna kemerahmerahan karena dihuni ribuan kepiting kecil. Kepiting ini sebenarnya hidup di hutan yang kemudian pergi ke laut untuk menetaskan telurnya.

Akan tetapi nama Christmas bukan dari kepiting. Sejarahnya, pulau ini dinamai Captain William Mynors pada Desember 1643, saat Natal. Dari situlah, nama Christmas muncul.

Di masa silam, masyarakat internasional mengenal Christmas sebagai pusat perjudian terbesar di Asia Tenggara, era 90-an. Ramai orang-orang kaya dari negara-negara Asia Tenggara dan belahan dunia lain datang. Namun tak semua orang datang berjudi. Ada pula yang bekerja mencari penghidupan.

Ada banyak cerita asal muasal kedatangan masyarakat di pulau ini. Salah satu yang saya temui, Tan (nama disamarkan), pegawai rumah sakit di pulau ini. Asalnya Singapura dan datang karena ikut orangtuanya naik kapal. Orangtuanya kemudian memilih untuk menetap. Ia malah sudah lupa, kapan persisnya.

Ada pula orang-orang Eropa yang sudah lama tinggal di pulau cantik ini. Mereka mengaku cinta dengan keindahan dan ketenangan hidup di Christmas, sehingga memutuskan untuk menetap.

Dalam riwayat perjalanannya, pulau ini mengalami perubahan drastis setelah tempat perjudian paling ramai di dunia ini tutup tahun 1998. Gara-garanya, krisis ekonomi yang melanda sejumlah negara Asia.

Sejak penutupan itu, Christmas yang kebetulan kaya dengan hasil bumi berupa fosfat ( bahan pembuat pupuk) mengandalkan ekspor hasil buminya itu ke beberapa negara. Pertambangan dan pabrik fosfat ini juga memiliki banyak pekerja yang menjadi bagian dari masyarakat pulau ini.

Lokasinya yang terpencil juga membuat Christmas menjadi pulau tempat pengasingan narapidana dari Australia dan Selandia Baru. Pulau ini juga dihampiri oleh kapal-kapal yang berlayar serta

perhentian bagi kapal tentara angkatan laut Australia atau kapalkapal besar Australia yang butuh pasokan logistik.

Pulau ini dijadikan pula tempat penampungan sementara para pengungsi dari berbagai belahan dunia. Mereka umumnya ditampung sementara oleh pemerintah Australia dalam barak-barak khusus sebelum mendapat negara yang mau menampung mereka sebagai warga negara.

Bioskop “misbar”

Satu hal yang menarik dari Pulau Christmas adalah menyaksikan aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Selain bekerja di bidang masing-masing, ketika waktu luang mereka punya aktivitas yang menarik.

Masyarakat setempat punya kebiasaan memancing, marathon di tengah hutan, pergi ke pantai, makan di kafe atau restoran, membaca di perpustakaan, atau berkaraoke. Sebagian lain terlihat pergi

ke tempat rekreasi untuk olahraga ataupun bersantai dengan teman dan keluarga.

Fenomena menarik lainnya, ada bioskop yang disebut Under the Stars Cinema atau bioskop di bawah bintang-bintang. Nama tersebut sangatlah cocok, mengingat bioskop ini ada di alam terbuka sehingga bintang-bintang di langit terlihat jelas. Bahkan bunyi debur ombak terdengar sampai ke dalam.

Dari kondisinya, kita di Indonesia mungkin pernah tahu istilah bioskop “misbar” alias gerimis bubar. Bioskop semacam ini pernah ada di Indonesia sebelum tahun 1990-an.

Sederhana memang, tapi tetap ada tempat duduk serta tata suara yang cukup mumpuni. Kalau penonton ingin bawa kursi sendiri juga tak dilarang. Karena itu kita bisa melihat ada yang berbagai kursi berkemah, bean bag, maupun karpet untuk sekadar lesehan di rumput.

Di bioskop yang hanya buka pada akhir pekan ini, penonton datang membawa kudapan masing-masing. Bisa juga kalau membeli di sekitar bioskop. Suasananya tampak guyub dan bersahaja.

Film yang diputar berasal dari para sumbangan koleksi penduduk sendiri. Jadwal dan judul filmnya bisa dilihat di majalah bulanan yang beredar di pulau. Sebenarnya tak hanya film. Acara apa pun dan siapa yang terlibat di pulau ini bisa kita lihat di majalah komunitas itu.

Sekilas saya amati, kehidupan masyarakat setempat terlihat cukup baik. Segala fasilitas umum cukup baik dan rumah-rumah penduduk sesuai dengan standar bangunan dari pemerintah Australia. Terdapat satu supermarket dan beberapa toko lain tempat masyarakat membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Masyarakat Christmas tinggal berkelompok berdasarkan etnis mereka. Kebanyakan etnis Melayu tinggal di pinggir pantai yang disebut Flying Fish Cove, etnis Tiong- hoa menempati bagian atas atau sekitar bukit, sedangkan orangorang Barat tinggal di pusat kota.

Sebagian pekerja dari luar pulau diberikan rumah dinas atau apartemen gratis oleh pemerintah selama mereka bekerja di pulau ini. Meski hidup dengan kelompok etnis masing-masing, hubungan satu sama lain tetap harmonis. Acara atau hari besar masing-masing etnis dirayakan bersama-sama.

Ada sebuah museum yang bisa dikunjungi dan menyimpan banyak sejarah tentang sejarah Pulau

Christmas. Bangunan museum ini sebenarnya rumah pertama yang berdiri pulau ini. Seperti halnya rumah penduduk yang mengelompok, area pemakaman pun dibuat mengelompok berdasarkan etnis.

Dilarang makan kepiting

Hidup di pulau terpencil, kadang kesulitan bahan pangan segar bisa saja terjadi apabila cuaca buruk dan pesawat sulit mendarat. Aneka bahan pangan segar seperti susu, sayuran, dan daging memang dikirimkan ke pulau dari udara setiap dua minggu.

Mengingat pulau tersebut dikelilingi laut, pemerintah mendirikan perusahaan yang memproses air laut menjadi air tawar untuk konsumsi masyarakat setempat. Hasil pemrosesan disalurkan ke rumah-rumah dan menjadi tap water yang dapat langsung diminum, seperti layaknya pelayanan air bersih di Australia.

Air hasil desalinasi ini rasanya memang agak berbeda dari air tawar biasa, tapi tidak berbahaya dan layak diminum. Namun apabila ada yang tidak suka dengan rasanya, biasanya mereka akan membeli air minum kemasan.

Menariknya, Pemerintah Australia sangat menjaga alam dan lingkungan yang ada di Christmas. Terutama kepiting yang menjadi salah satu ikon pulau ini. Ada sanksi berat, seperti membayar denda, kalau ketahuan melukai atau memakan “Si Robber Crab”.

Ya, pastilah dilindungi. Masa sih, ikon suatu daerah mau dijadikan santapan makan malam.

Mutiara Kata “Batu pondasi untuk kesuksesan yang seimbang adalah kejujuran, karakter, integritas, keyakinan, cinta, dan kesetiaan.”

Zig Ziglar (1926-2012), Penulis Amerika

Pemandangan cantik di Lily Beach.

Wilayah Flying Fish Cove yang menjadi tempat tinggal etnis Melayu.

Boleh diabadikan tapi jangan dimakan.

Kepiting merah yang dilarang untuk dimakan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.