Memetik Manfaat dari Sahabat Berkaki Empat

Intisari - - Daftar Isi - Penulis & Fotografer: Rahmi Fitria pencinta olahraga berkuda di Bogor

Berkuda merupakan satu-satunya cabang olahraga yang melibatkan hewan sehingga memiliki kekhasan tersendiri. Melalui interaksi timbal-balik antara kuda dan penunggangnya, olahraga ini bukan cuma mampu mengasah kekuatan fisik, tetapi juga aspek mental dan emosi. Berkuda bahkan dapat menjadi salah satu metode terapi bagi anak berkebutuhan khusus.

There is something about the outside of a horse that is good for the inside of a man,” kata Winston Churcill, Perdana Menteri Britania Raya pada masa Perang Dunia II. Churcill meyakini, berkuda memiliki manfaat terhadap mental manusia.

Sepintas terlihat mudah, namun berkuda sebetulnya perlu berbagai keterampilan yang mumpuni terkait fisik dan mental penunggangnya. Berkuda bukan cuma duduk di atas punggung kuda lalu memberikan sejumlah instruksi seperti jalan, belok, atau berhenti. Prak-

tiknya, kegiatan ini sangat kompleks, melibatkan koordinasi antara tubuh, pikiran dan emosi penunggangnya.

Kesiapan mental merupakan modal awal dalam berkuda. Penunggang kuda ( rider) harus punya keberanian dan ketenangan sekaligus. Berani menghadapi tantangan dan tenang menghadapi persoalan. Pasalnya olahraga ini memiliki risiko tinggi.

Neurogical Focus, sebuah jurnal di Amerika Serikat memuat: berkuda merupakan olahraga yang paling banyak menyebabkan kelumpuhan yang disebabkan benturan pada otak yakni sebesar 45,2%, disusul oleh sepakbola yang hanya 20,2%.

Akan tetapi Anda jangan buruburu merasa ngeri. Instruktur berkuda dari Anantya Riding Club, Destriawan Pamungkas, mengatakan aspek mental berkontribusi sekitar 25% mengurangi risiko kecelakaan dalam berkuda.

Selain mental, ketahanan fisik juga harus prima karena penunggangnya harus bergerak sesuai irama kuda yang melibatkan nyaris semua bagian tubuh, terutama kaki, perut, bahu dan tulang belakang. Dalam buku Body for Life for Women, Dr. Pamela Peeke menjelaskan, satu menit berkuda bisa membakar lima kalori.

Selain kesiapan penunggang, berkuda juga butuh keterampilan berkomunikasi dengan kuda. Pasal- nya, kuda sama seperti manusia, yakni punya karakter dan temperamen masing-masing.

Olahraga ini menuntut kemauan untuk terus belajar karena setiap sesi berkuda akan menawarkan pengalaman yang berbeda serta pengetahuan baru. Bahkan atlet berkuda setingkat olimpiade pun masih harus tetap berlatih untuk memperkaya pengetahuan dan pengalamannya. Pembelajaran terus-menerus ini dapat melatih saraf-saraf otak agar tetap aktif dan memperkuat daya ingat.

Harus membangun chemistry

Kuda merupakan hewan sahabat manusia sejak ribuan tahun lalu dan membantu berbagai aktifitas kehidupan. Sekitar 5.000 tahun silam, kuda mulai dijinakkan agar mudah dikendarai. Berdasarkan penelitian pada fosil gigi kuda, pada masa itu mulut kuda dipasangi sejenis corong berbahan logam agar bisa dikendalikan.

Awalnya hanya alat transportasi, berkuda kemudian jadi kegiatan olahraga dan rekreasi. Pada Olimpiade tahun 1900, berkuda sudah dipertandingkan. Menariknya, inilah satu-satunya cabang olahraga di mana pria dan wanita berkompetisi setara.

Di Indonesia, olahraga berkuda lebih dikenal sebagai pacuan kuda. Bangsa Belandalah yang berperan,

karena sering mengadakan pacuan kuda pada hari-hari pasar atau perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Sementara olahraga ketangkasan berkuda mulai dikenal ketika rutin digelar lomba lompat rintangan ( show jumping) oleh pasukan kavaleri berkuda di Cimahi, Jawa Barat.

Menurut Destriawan, olahraga pacuan kuda sebetulnya berbeda dengan ketangkasan berkuda ( equestrian). Pacuan kuda murni hanya mementingkan kecepatan lari kuda, sedangkan equestrian melibatkan sejumlah keterampilan dan teknik yang menitikberatkan pada keserasian antara kuda dan penunggangnya.

Olahraga berkuda memang istimewa karena melibatkan interaksi antara manusia dan hewan, sehingga memerlukan kedekatan ( chemistry) antara kuda dan penunggangnya.

Instruktur berkuda dari Kentauros Horse Riding School yang juga atlet berkuda, Heru Kuswara, mengatakan, mereka yang ingin menekuni olahraga berkuda harus menyayangi dan mengenal kudanya, “Harus pedekate dulu supaya

bisa kenal karakter kuda dan menjalin chemistry. Kuda dan penunggangnya ibarat partner, harus bisa bekerjasama secara harmonis,” tutur dia.

Menurut Heru, kuda punya berbagai macam karakter dan temperamen sehingga pendekatannya pun berbeda-beda. Apabila chemistry telah terbangun, akan jauh lebih mudah mengendalikannya.

Ketenangan adalah kunci

Berkuda dapat meningkatkan rasa percaya diri seiring mening- katnya kemampuan rider mengendalikan kuda. Latihan berkuda menumbuhkan keberanian untuk bisa melewati setiap tahapan dan menaklukkan setiap tantangan.

Awalnya, mungkin, menyentuh kuda saja takut. Lama-kelamaan berani, kemudian sampai bisa mengendalikannya. Setiap kemajuan dalam latihan akan membangkitkan rasa percaya diri penunggangnya.

Berkuda juga melatih ketenangan dan fokus. Kuda mudah gelisah dan sulit diatur jika emosi penung-

gangnya tidak stabil. Kuda pun mudah bingung apabila penunggangnya tidak memiliki perencanaan yang baik dalam mengarahkan gerak kuda. Rider harus memiliki fokus dan perencanaan yang baik ketika hendak mengarahkan kuda.

“Tujuan sudah harus diset dalam pikiran lalu diproyeksikan pada penglihatan kita. Pada saat bersamaan, seluruh anggota tubuh mengikuti, mulai dari kaki, badan dan tangan,” kata Destriawan.

Kuda dan penunggangnya dapat saling mempengaruhi, baik itu secara positif maupun negatif. Kuncinya ada pada rider. Jika penunggangnya mampu bersikap positif maka kuda akan ikut positif. “Penunggang yang nervous akan membuat kuda gelisah atau bertingkah semaunya,” kata Destriawan.

Karena itulah jika reaksi kuda yang dirasakan berlebihan atau di luar kebiasaan, maka yang perlu dicek adalah penunggangnya. Apakah ia diliputi emosi negatif tertentu seperti khawatir, takut, marah atau ragu-ragu. Jika ya, segera perbaiki.

Setiap perbaikan dari rider akan memperoleh feedback dari kudanya. Jika tidak, maka persoalan ada pada kuda. Tugas rider untuk menenangkan kuda dan membuatnya patuh mengikuti instruksi. Kuda adalah hewan yang mudah diatur asalkan pendekatannya tepat yakni dengan menunjukkan kepemimpinan, bukan kekerasan.

Lantaran kompleksitasnya, perlu waktu bertahun-tahun untuk mahir berkuda. Banyak hal yang perlu dibangun dan dibentuk, mulai dari aspek fisik seperti postur tubuh yang tegak dan rileks, kekuatan otot kaki, perut dan punggung dan keseimbangan tubuh; aspek mental seperti fokus, keberanian dan ketenangan; sampai penguasaan aspek teknis dan keterampilan yang sangat beragam.

Perlu waktu panjang untuk bisa naik dari satu level ke level berikutnya. Karenanya, latihan berkuda menuntut kesabaran dalam menjalani setiap proses. Kadang kuda pun tak serta-merta dapat menangkap keinginan penunggangnya, sehingga rider harus mengulang-ulang perintah tersebut dengan sabar sampai kuda mengerti.

Berkuda juga melatih sikap pantang menyerah karena tak ada hal yang instan. Prinsip dalam berkuda adalah selalu bangkit saat terjatuh dan kembali mencoba. Baik itu saat benar-benar terjatuh dari atas kuda ataupun saat gagal menaklukan suatu tantangan.

Terapi anak berkebutuhan khusus

Bocah lelaki itu mencengkeramkan tangannya kuat-kuat pada handle di ujung sadel, sementara tubuhnya bergerak berayun mengikuti irama kuda. Ia tampak menik- mati sesi berkudanya pagi itu. Sementara pada jarak empat meter di sampingnya, sang pelatih sibuk memberikan instruksi sembari memegang tali panjang untuk mengatur arah gerak kuda.

Ada pula seorang sidewalker yang setia mendampingi tepat di samping kuda untuk membantu memegangi tubuh sang bocah. Kira-kira seperti itulah sesi latihan berkuda therapeutic riding di Anantya Riding Club.

Therapeutic riding adalah terapi yang dikhususkan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang melibatkan kuda dalam aktifitas terapi untuk memperbaiki aspek kognisi, fisik, emosi dan hubungan sosialnya. Menurut Selby dan Orborne dalam Journal of Health Psychology interaksi antara manusia dan kuda sangat bermanfaat dalam membangun hubungan sosial, rekreasi, terapi, dan olahraga.

Sesi latihan terdiri atas tiga bagian yakni pra- on horse, on horse dan pasca- on horse. Sebelum menunggang, anak dipandu untuk membersihkan dan menyiapkan kuda. Pada bagian ini, anak dilatih menjalin hubungan yang baik dengan kudanya.

Pada saat menunggang kuda maka mulai dilakukan terapi. Anak dilatih bergerak mengikuti irama kuda yang terus berjalan sembari menjaga keseimbangan dan

fokus. Pada bagian ini dilakukan juga aneka permainan seperti melempar bola dari atas kuda ke keranjang atau menebak gambar yang dipasang di sepanjang lintasan berkuda.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan kognisi dan komunikasi anak, serta melatih kemampuan untuk memahami instruksi. Setelah menunggang kuda maka anak akan dibawa berjalan mengelilingi area stable untuk relaksasi dan rekreasi.

Memang, tidak semua bagian tadi harus dilakukan dalam satu sesi latihan. Instruktur akan mempertimbangkan dan merancang kegiatan sesuai dengan kondisi, kemampuan dan emosi anak.

Latihan berkuda terbukti efektif melatih fokus dan keseimbangan, dua hal yang umumnya tidak dimiliki oleh ABK. Sebagaimana yang diakui Amelia Allen, ibu yang anaknya pengidap asperger’s syndrome dan high-functioning autism. “Dia ingat kalau di atas kuda enggak fokus, maka enggak seimbang dan bisa jatuh. Kesadaran itu dia bawa ke sekolah saat mengikuti pelajaran.”

Awalnya, Amelia hanya memilih terapi okupasi sensori integrasi untuk anaknya. Namun ia merasa perkembangannya kurang signifikan, sehingga ia mencoba terapi berkuda. Dalam empat kali pertemuan, Amelia sudah melihat perubahan signifikan pada anaknya, terutama menyangkut keseimbangan dan fokus.

Saat ini sudah masuk tahun kedua dan Amelia melihat banyak perubahan positif. Anaknya lebih bertanggung jawab, berempati dan berani mencoba hal-hal baru. Belakangan, malah bukan cuma ingin bermain bersama kuda tapi juga bisa menunggang kuda. “Di sini dia melihat banyak anakanak yang kursus berkuda sehingga dia termotivasi,” kata Amelia.

Ikut memandikan kuda

Sebelum ingin berlatih dengan kuda, orangtua perlu mengingat, tidak semua ABK cocok dengan terapi berkuda. Perlu rekomendasi dari psikolog untuk menilai kemampuan dan kesiapan anak. Pihak keluarga juga harus terlibat mendampingi anak dan memberi masukan kepada pelatih terkait perkembangan kondisi anak.

Meski sama-sama memakai kuda, metode dalam therapeutic riding memang berbeda dengan latihan berkuda umumnya. Terutama soal teknik komunikasi antara pelatih dan murid.

“Latihan untuk ABK pendekatannya lebih personal, karena masalah setiap anak bisa berbeda.

Saya pun lebih detail dalam memberikan instruksi secara visual, sesekali juga harus menyentuh anak untuk mengingatkan kalau dia melamun atau membetulkan posisi tubuhnya,” kata Destriawan.

Suasana latihan dalam therapeutic riding juga harus menyenangkan seperti bermain. Karena itu, kegiatan di kandang, seperti memberi makan atau memandikan kuda juga jadi salah satu materi latihan.

Terkadang latihan juga perlu dilakukan di area khusus yang terpisah. Terutama pada ABK yang pernah trauma psikis. “Misal, anak yang punya pengalaman jatuh, maka ketika berkuda akan takut dan mudah panik. Karenanya, area tempat dia berlatih sebisa mungkin harus steril dari gangguan,” kata Destriawan.

Meski begitu, menurut Amelia, terapi bagi ABK sebaiknya bervariasi dan tidak mengandalkan satu metode saja. Sehingga selain berkuda, anaknya juga tetap menjalankan terapi okupasi sensori integrasi dan terapi berenang.

Kuda dan penunggangnya ibarat partner yang harus bekerja sama.

Kuda punya berbagai macam karakter dan temperamen.

Penunggang bersikap positif maka kuda akan mengikutinya.

Berkuda terbukti efektif dalam melatih fokus dan keseimbangan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.