Generasi Milenial, Antara Kopi dan Investasi

Intisari - - Daftar Isi - EKO ENDARTO Financial Planner di Finansia Consulting @kokiduit

Saya sedang ngopi di salah satu kafe sambil menunggu klien ketika WA grup di mana saya bergabung di dalamnya, ramai membahas pernyataan Ibu Menkeu, Sri Mulyani. Seperti kita tahu, beberapa waktu lalu Ibu Menteri menyarankan agar generasi milenial mengurangi kebiasaan ngopinya. Dan mulai memikirkan soal masa depan.

Sebutan generasi konsumtif

Sindiran Menkeu tentang kopi ini mungkin didasari oleh sebuah penelitian yang menyebutkan, generasi milenial lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli kopi dibandingkan dengan menabung guna masa depan mereka.

Ditambah lagi dengan kenyataan bagaimana kebiasaan menabung anak-anak saat ini sebagian besar digunakan untuk urusan konsumtif dibandingkan untuk masa depan atau lebih keren lagi: investasi. Travel ke berbagai belahan dunia, nonton konser artis atau band idola, membeli hobi adalah beberapa tujuan utama mereka menabung. Tidak sampai 40% yang menjawab bahwa tujuan menabungnya adalah untuk masa depan.

Sebutan “generasi konsumtif” mau tidak mau melekat dan seolah menjadi identitas bagi generasi milenial ini. Kopi yang dalam perencanaan keuangan bukanlah kebutuhan yang harus diikuti, apalagi menjadi kewajiban yang tanpa alasan harus dilakukan, menjadi simbol mudah untuk

menjelaskan bagaimana kebiasaan konsumtif itu.

Harus disadari kebiasaan konsumtif memang bukan hal yang baik. Kesadaran untuk memikirkan masa depan memang harus ditanamkan sejak dini karena selain untuk kebaikan mereka masing-masing, hal ini juga untuk kebaikan negara. Sebab dengan berinvestasi artinya dana tersebut tersimpan untuk jangka waktu panjang sehingga menjadi sarana untuk bisa digunakan secara tidak langsung untuk kemajuan negara.

Ngopi tidak dilarang tetapi dari pada kebiasaan konsumtif semakin dipelihara, lebih baik mulai berinvestasi.

Bukan angka yang kecil

Mungkin agak terdengar ganjil ketika membahas bahwa secangkir kopi bisa menentukan masa depan

seseorang apalagi bisa membantu negara. Apalah arti secangkir kopi dalam sebuah negara yang begini besar dan luas ?

Sebagai ilustrasi, komposisi masyarakat usia produktif di Indonesia(usia 14-64) pada tahun 2018 mencakup lebih dari 50% populasi. Artinya dari 260-an juta rakyat Indonesia, lebih dari 130 juta di antaranya adalah mereka yang masuk kategori produktif.

Asumsikan 50% di antaranya adalah mereka yang berusia lebih muda atau generasi milenial artinya ada sekitar 65 juta orang. Selanjutnya, katakan 20% di antaranya adalah mereka yang disindir oleh Menkeu sebagai kaum pencinta kopi, maka ada 13 juta orang yang gemar ngopi.

Katakan mereka memiliki tradisi secangkir kopi per hari selama lima hari. Misalnya harga secangkir kopi saat ini rata-rata adalah Rp25 ribu. Seorang pencinta kopi tadi menghabiskan lima hari dalam seminggu untuk membeli kopi kegemarannya setiap pagi. Maka ia akan menghabiskan dana Rp125 ribu per minggu, Rp500 ribu per bulan dan Rp6 juta per tahun.

Seperti saya ungkap di atas, ada 50% dari 130 rakyat produktif Indonesia adalah milenial dan 20%-nya adalah pencinta kopi. Artinya akan ada 13 juta generasi milenial yang gemar kopi tiap tahun. Mereka akan menghabiskan dana pembelian kopi sebesar 13 juta penggemar kopi dikalikan Rp6 juta pengeluaran untuk membeli kopi mereka tiap tahun.

Dari hitung-hitungan itu, maka ada Rp78.000 miliar atau Rp78 triliun dana yang mereka keluarkan untuk keperluan tadi. Nah, terlihat kan secangkir kopi tiap hari dalam lima hari ternyata bukan angka kecil lagi.

Investasi masa pensiun

Semisal mereka mampu mengurangi kegemarannya katakan tidak lima hari tapi hanya tiga hari saja per minggu dan kemudian dua hari sisanya mereka simpan untuk masa depan mereka, yuk kita hitung berapa dananya.

2 hari kopi = Rp50 ribu per minggu, Rp200 ribu per bulan dan Rp2,4 juta per tahun.

Jumlah dana yang dikumpulkan oleh kaum milenial tiap tahun adalah 13 juta generasi milenial x Rp2,4 juta menjadi Rp31.200 miliar atau Rp31,2 triliun.

Bila dana tadi diendapkan untuk investasi masa pensiun mereka selama katakan 25 tahun ( karena rata-rata kaum milenial usianya sekitar 20 tahun) maka dana tadi akan terkumpul sebesar Rp31,2 triliun x 25 tahun = Rp780 triliun.

Sedangkan untuk masa depan mereka, katakan mereka menginvestasikan dana Rp2,4 juta tiap tahun pada produk yang bisa memberikan hasil rata-rata 15% per tahun; yang setara dengan keuntungan investasi di IHSG dalam 10 tahun terakhir dan selama 25 tahun.

Maka Rp2,4 juta selama 25 tahun dan memberikan hasil 15% per tahun, total dana yang dikumpulkan menjadi sebesar Rp79 jutaan. Mungkin tidak terasa besar, tapi bila dibandingkan dengan dua cangkir kopi dan tidak menabung sama sekali, saya kira angka Rp79 juta jauh lebih baik.

Memiliki masa depan yang baik dan berperan dalam membangun negara memang bisa dengan beragam cara. Baik secara langsung maupun tidak. Gerakan penghematan kopi yang dicanangkan oleh Menkeu mungkin terdengar sederhana. Namun ketika hitunghitungan tadi dibuat dalam satu kertas kerja, maka kopi tadi bisa membantu masa depan kita dan negara.

Secangkir kopi bisa menentukan masa depan.

Dana yang diendapkan untuk investasi masa pensiun terlihat kecil namun sebetulnya penting.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.