Atribut Kedua

Intisari - - Daftar Isi -

pekerja dan orang-orang yang habis berbelanja menunggu Vaporetfo, semacam bus air yang akan membawa mereka pulang.

Seperti biasa gelombang pasang yang tengah beranjak naik menghanyutkan sampah. Namun, sore itu tak hanya sampah plastik, tapi juga sebuah peti kayu besar tampak terayun mengambang di permukaan air danau.

Meski dengan susah payah, peti itu berhasil diangkat ke atas dermaga. Tatkala tali pengikat dilepas dan tutupnya dibuka, tampak sebuah buntalan besar plastik berwarna biru dan dua buah boneka besar teronggok di dalamnya. Dengan sebuah pisau lipat, seseorang mencoba membedah buntalan itu.

Betapa kaget orang-orang waktu bungkusan yang terbelah itu menampakkan wajah seorang wanita berparas ayu dengan rambut ikal cokelat tua. Kedua matanya melotot menatap mereka yang mengerumuninya. Wanita itu bukan sedang marah, dan tak mungkin bisa marah, sebab ia sudah tak bernyawa lagi.

“Tewas lebih dari 24 jam yang lalu kira-kira,” kata dr. Giuseppe Rosso, penasihat medis pada bagian penyelidikan kriminal kepolisian Venesia. “Karena dicekik,” tambahnya. Setelah dikeluarkan dari peti, mayat tanpa busana itu dibaringkan di atas selembar plastik.Dengan hati-hati para petugas laboratorium kepolisian membongkar-bongkar barang yang ada di dalam peti.

“Kenapa tidak langsung saja dikirim ke kamar mayat?” tanya Inspektur Dario Geraldi. Dr. Rosso menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu.”

Para petugas tidak menolak. Mayat dibungkus dengan plastik, lalu dibawa dengan perahu polisi, diikuti dr. Rosso yang akan melakukan autopsi. Inspektur menghampiri anak buahnya yang sedang mengamati para petugas yang masih sibuk dengan peti itu.

“Apa isinya?” tanya Inspektur sambil menunjuk sejumlah buntalan. Ada selusin bungkusan kertas berwarna cokelat yang digelar di atas plastik di dermaga.Buntalanbuntalan itu terikat oleh pita plastik tahan air.

“Paku, Pak,” ujar Sersan DeMarco Cristetto. “Enam bungkus paku sekiloan. Pasti dipakai untuk pemberat,” lanjutnya. “Belum bisa diketahui,” ujar Inspektur.

Bukan kota kriminal

Angka pembunuhan di kota berpenduduk 350.000 jiwa ini memang tidak tinggi.

Itu antara lain karena suasana bahagia tinggal di salah satu kota paling menyenangkan di dunia, mobil tidak ada, atau penduduk taat beragama. Terlihat juga dari banyaknya gereja yang berdiri di sana.

Sementara itu Inspektur Dario Geraldi punya teori sendiri. Yang jadi penyebab adalah transportasi. Di Venesia tidak ada jalan yang bisa dilalui kendaraan beroda. Satu-satunya jalan yang ada untuk mengangkut mayat hanya lewat air. Bisa dengan gondola, perahu, atau vaporerto. Semua alat angkut ini serba terbuka. Karena itu, orang yang berniat melakukan pembunuhan terpaksa membawa calon korban ke tempat lain.

Data statistik mendukung pemikiran Inspektur. Pembunuhan yang terjadi di Venesia umumnya dilaku- kan tanpa rencana, sehingga si pelaku tak sempat berpikir untuk menyingkirkan mayat korbannya. Jadi, pembunuhan dengan korban wanita dalam peti itu merupakan kasus yang tidak lazim terjadi. Soalnya, pembuangan mayat disiapkan dengan sangat rapi.

Satu-satunya kesalahan si pelaku ialah kurang paham dengan selukbeluk pasang surut air laut. “Aku beranggapan, si pembunuh bukan orang Venesia,” kata Inspektur. “Sebab, setiap penduduk asli Venesia tahu bahwa apa pun yang dibuang ke danau di tepi pantai itu

Tak banyak pembunuhan di kota ini, sekalinya terjadi sungguh tragis caranya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.