PEMBUKA SURAT TEWASKAN SANG MAESTRO

Intisari - - Ilustrasi Ii -

Mayor Pol. Budi Budiman bergegas meninggalkan Polsek. “Cepat, San!” teriaknya pada rekannya, Serma Rudi Budiyin. “Ini kasus nasional. Pemusik sebesar dia adalah aset bangsa.”

“Siap Komandan. Tapi Ndan, apa dirigen tuli itu sekenamaan itu?”

“Iya. Dia pemusik klasik. Meskipun tuli, karyanya sudah diakui dunia.”

Marah Asmara, pemusik klasik eksentrik berusia 72 tahun, tewas tadi pagi di kediamannya. Ia ditemukan tergeletak di sofa ruang kerja, dengan pungung tertusuk besi runcing pembuka surat. Istri dan anak tunggalnya telah meninggal, sementara cucu tungalnya tinggal di pinggir kota.

“Coba ceritakan kejadiannya,” kata Budi pada wanita setengah baya, asisten rumah tangga Marah bernama Bu Saida.

“Sa-sa-saya baru mau mengantarkan roti dan kopi. Bapak selalu sarapan di ruang kerjanya pukul 07.00. Begitu pintu saya buka..astaga.. Bapak sudah..” kata Bu Saida terbata-bata. “Saya langsung panik dan teriak, sampai muncul Mas Andari,” lanjutnya sambil menunjuk seorang pria berpakaian rapi.

“Anda Pak Andari, yang tadi menelepon polsek?”

“Betul Pak. Saya sekretaris pribadi Pak Marah. Perkiran saya kejadiannya sekitar pukul 06.30. Saya selalu datang menjelang waktu itu. Biasanya langsung ke dapur, ngopi atau sarapan. Dasril mencuci mobil, Sirman mengurus taman,”

“Anda kok bisa memperkirakan waktu kejadiannya?”

“Ya, saya tadi dengar bunyi weker dari arah ruang kerja Bapak. Beberapa

saat kemudian mati. Saya masih di dapur ketika Bu Saida menemukan Bapak sudah..”

Budi mengalihkan pertanyaan pada Bu Saidi. “Apa yang berantakan sudah dibereskan?”

“Belum, Pak. Mas Andari melarang, katanya penting untuk penyelidikan polisi. Bapak bisa lihat. Darah di manamana; meja kerja, piano, biola. Laci-laci terbuka, isinya berantakan dan hilang. Si pelaku pasti mendadak kaya raya Pak, karena uang dan hampir semua barang berharga Pak Marah ada di situ. Semuanya hilang,” ujar Bu Saida.

“Hah, uang dan barang berharga?” tanya Budi.

“Iya, Bapak memang tak percaya bank,” tukas Andari.

“Hmm..beliau memang seniman eksentrik,” kata Budi sambil mengamati ruangan, sementara Rudi sibuk dengan catatan dan handy-talkie. “Tapi Anda harus ikut kami untuk penyidikan. Andalah tersangka kasus ini,” kata Budi sembari mendekati Andari.

“Hah!” Seisi ruangan terperanjat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.