MELACAK JEJAK PORTUGIS DI NUSANTARA

Intisari - - Jeda - Penulis & Fotografer: Lily Wibisono

Bila menyebut “penjajah”, yang muncul di ingatan kita adalah Belanda, karena mereka bercokol di Tanah Air kita selama 350 tahun. Pendahulu mereka, yaitu Portugis cenderung terabaikan. Barangkali karena “rasanya” sedikit sekali peninggalan mereka yang tersisa. Benarkah demikian?

Tahun lalu, saat sarapan di sebuah hotel di Portugal, di atas meja tersaji roti dan kelengkapannya, termasuk mentega kemasan kecil dengan tulisan besar: manteiga. Dalam perjalanan, rombongan singgah di sebuah toko snack di Fatima, saya menemukan “roti mari” ( biskuit mari), dengan brand “Maria”. Pada labelnya ditulis: bolacha Maria ( bolacha = biskuit).

Ternyata itu baru permukaan dari gunung es warisan Portugis di Nusantara. Itu dimungkinkan, karena pada abad ke-15, 16, dan 17, Portugal adalah salah satu negara adidaya. Bahkan merekalah yang memulai “lomba” pencarian sumber rempah-rempah, komoditi paling top pada masa itu. Oleh karena itu, jejak mereka tertinggal di mana-mana. Termasuk di Indonesia.

Berdirinya imperium bisnis bernama Portugal

Hari ini, populasi Portugal kirakira sama dengan Jakarta, sekitar 10 juta. Itu pun akhir-akhir ini menciut, karena seperlima penduduknya memilih tinggal di luar negeri. Pantaslah jika negara ini memiliki tingkat emigrasi tertinggi di Uni Eropa. Pada tahun 2011, Portugal termasuk negara berma-

salah yang diberi suntikan dana sebesar € 78 miliar oleh Uni Eropa. Sungguh, bukan potret kejayaan sebuah negara.

Akan tetapi lima abad lalu beda benar kondisinya. Jajahannya di mana-mana dan di akhir abad ke15 hingga pertengahan abad ke-16, kemaharajaan maritim Portugal mempunyai pos perdagangan, benteng, dan gereja, di tiga benua.

Negara paling barat benua Eropa ini, pada tahun 1418, memulai ekspedisi mengarungi Samudera Atlantik, menyusuri pantai barat benua Afrika yang seakan tak berujung itu. Tujuh puluh tahun kemudian, sebuah ekspedisi di bawah pimpinan Bartolomeus Diaz berhasil mencapai ujungnya, yang mereka namai Tanjung Harapan. Temuan itu seolah membuka pintu lebar-lebar menuju dunia luas untuk menemukan yang mereka cari: rempah-rempah.

Prestasi itu dilampaui oleh Vasco da Gama sembilan tahun kemudian. Ia lanjutkan perjalanan ekspedisinya mencapai India. Pada tahun 1510, Goa diduduki. Dengan demikian berdirilah kerajaan bisnis Portugal yang akhirnya mengglobal. Apalagi setelah Alfonso d’Albuquerque menundukkan Malaka pada tahun 1551.

Pelabuhan-pelabuhan Portugis tersebar dari Brazil sampai Jepang, sepanjang pantai Afrika, India dan Cina. Namun tetap saja, mereka kesulitan SDM, karena populasi mereka waktu itu hanya 1,5 juta jiwa ( Dari Gereja Portugis ke GPIB Jemaat Sion, BPK Gunung Mulia: 2015). Dari sana datang kebutuhan akan budak-budak. Lewat penyebaran agama Katolik mereka juga meninggalkan jejak yang nyata di Kep. Maluku, termasuk Ternate dan Tidore, Flores dan Timor.

Si Jagur, Nyai Sitomi, dan Pulau “Keliru”

Antonio Pinto da Franca, Konsul Portugal di Indonesia (1965 - 1970), dalam Portuguese Influence in Indonesia (Gunung Agung: 1970) menelusuri berbagai jejak Portugis di Indonesia. Orang Portugis dan Spanyol terkenal ahli dalam soal kartografi dan navigasi.

Pada zaman itu, sudah banyak kali orang Portugis menggambar peta Pulau Sumatra. Tentang nama Pulau Enggano di Kep. Nias, begini kisahnya. Kata “enggano” dalam bahasa Portugis berarti “keliru”. Maka nama pulau terse- but kemungkinan lahir akibat terjadinya kekeliruan navigasi.

Pakaian pengantin laki-laki Minang mirip sekali dengan jas lakilaki Portugis di abad ke-17. Nama Natal, kota pelabuhan di Mandailing yang dulu merupakan pelabuhan penting, adalah kata Portugis.

Di Museum Nasional Jakarta, tersimpan sebuah padrão (tiang batu) yang didirikan oleh orang Portugis di Jakarta pada tahun 1522, setelah mereka menandatangani perjanjian dengan perwakilan dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Juga ada sebuah genta dengan inskripsi dalam bahasa Portugis: “Genta

ini dibuat atas perintah Wakil Raja Portugal di India untuk raja Mataram pada tahun 1633”.

Si Jagur sudah lama menjadi salah satu “ikon” di Museum Fatahilah. Meriam ini selama berpuluh tahun menjadi tempat para ibu “minta anak”. Meriam itu memiliki desain tangan tergenggam dengan ibu jari diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah.

Bagi orang Portugis, sikap tangan semacam itu (disebut Figa) mengisyaratkan harapan baik untuk kesuksesan. Sementara bagi bangsa-bangsa lain, termasuk kita, malah tabu. Faktanya: meriam tersebut adalah meriam Portugis yang diangkut oleh Belanda dari Malaka setelah mereka menaklukkan Malaka pada tahun 1641.

Gereja Portugis di Jln. P. Jayakarta, Jakarta, adalah sebuah gereja Protestan dengan gaya Belanda dari abad

ke-17. Padahal Portugis adalah pemeluk Katolik. Bagaimana mungkin?

Menurut catatan A. Heuken dalam Gereja-gereja Tua di Jakarta ( Yayasan CLC Jakarta: 2003), Gereja Portugis selesai didirikan pada tahun 1695 untuk menggantikan sebuah pondok kayu terbuka yang sangat sederhana dan tidak memadai lagi bagi para umat Portugis Hitam. Jemaat besar ini merupakan tawanan Portugis yang miskin dan budak-budak yang dibeli di India.

Banyak dari mereka menyandang nama Portugis karena nama baptis yang diberikan oleh wali baptis mereka. Mereka umumnya orang India, lebih sering Bengal atau Sri Lanka. Mereka dijanjikan kebebasan oleh Belanda dengan syarat mau bergabung dengan Gereja Reformasi (Protestan).

Karena itulah mereka disebut Mardijker (orang-orang yang dimerdekakan). Sejak tahun 1946 Gereja Portugis yang beralamat di Jln. P. Jayakarta no. 1 kini dikenal sebagai Gereja Sion.

Kata “roa” dalam nama jalan Roa Malaka di Jakarta Utara (“Rua Malaka” dalam buku Portuguese Influence in Indonesia) dalam bahasa Portugis artinya “jalan”. Meskipun ada versi lain, versi yang lebih mungkin adalah bahwa dulu di situ merupakan permukiman orang-orang Portugis yang ditangkap di Malaka.

Orang Portugis Hitam

Sedikit berbeda dengan versi Heuken, menurut Portuguese Influence in Indonesia, pada

abad ke-17 VOC membebaskan banyak tahanan Portugis yang dipenjarakan di Batavia. Orangorang inilah yang disebut kaum Mardijker.

Pada tahun 1661 mereka pindah ke agama Kristen Protestan. Atas bantuan Gereja Portugis, mereka diberi permukiman di pinggiran Jakarta. Di sanalah mereka membangun Kampung Tugu. Di kampung itu, bahasa dan budaya Portugis dipertahankan, walaupun sudah merupakan budaya Mestizo (campuran).

Mereka bicara dalam dialek Portugis, India, dan Melayu. Menurut catatan buku Dari Gereja Portugis, komunitas Kristen Tugu berdiri pada tahun 1673. Penduduknya terdiri atas 23 keluarga Kristen yang berdarah Bengali dan Coromandel. Pada tahun 1735, di Kampung Tugu pernah hidup sekitar 800 jiwa. Hari ini, warga Tugu masih menggunakan namanama Portugis, tapi tak banyak lagi yang menguasai bahasa Creole Portugis ( https://travel.detik.com).

Di abad ke-18 dan 19, orang Tugu memberikan warna budaya yang kuat di Jakarta. Terbukti dengan adanya istilah “Keroncong Morisko” ( Mourisco berarti “berasal dari orang-orang Moor”). Kata “nina” dalam lagu keroncong lama, “Nina Bobo”, yang biasa dinyanyikan untuk menidurkan

anak, adalah kependekan dari menina, kata Portugis untuk “anak perempuan kecil”.

Kelompok musisi dari Tugu juga memiliki grup Tanjidor, yang dulu suka bernyanyi berkeliling membawakan lagu-lagu Portugis.

Di Solo, di Istana Susuhunan Surakarta, ada sebuah meriam yang dipandang sebagai pusaka, disebut Nyai Sutomi, dan dianggap sebagai pasangan meriam di Batavia bernama “Sitomo”. Sebuah legenda melengkapi kepercayaan ini. Faktanya, pada meriam terdapat sebuah inskripsi berbunyi: “São Tomé - Domine lux salvationis” (St. Tomas - Oh Tuhan, Cahaya Keselamatan). Rupanya dari sanalah asal-usulnya nama Sutomi.

“Roti Mari” versi Portugis

Manteiga adalah mentega

Petunjuk arah menuju gereja

Gereja Sion, dahulu Gereja Portugis, kini termasuk situs purbakala yang dilindungi. Kini Penggunanya umat Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB).

Kampung Tugu, asal-usul Keroncong Morisko.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.