CAREER NOTES Managing Ego

Intisari - - Daftar Isi - ALEXANDER SRIEWIJONO, Psikolog & The Founder of Daily Meaning

Keinginan untuk menjelajah Lasem sudah sejak dulu ada. Referensi demi referensi terus dikumpulkan supaya bisa betul-betul kawin dengan perjalanannya nanti. Dan saat yang dinanti itu akhirnya tiba.

Namun ada pengalaman unik saat berkoordinasi dengan pemandu yang direkomendasikan empat hari sebelum keberangkatan. Kalau ego tidak berhasil diatur, bisa bubrah perjalanan yang sudah diidamkan tahunan ini.

Pembelajaran mengatur ego inilah yang saya akan sharing, supaya kita bisa sama-sama menikmati hari-hari kita, di kehidupan maupun di pekerjaan.

Ketika Ego (Bisa) Terkena

Peran pemandu penting buat saya, karena dia yang akan menghidupkan perjalanan lewat cerita yang dimilikinya mengenai tempattempat tersebut, dan bisa saya kawinkan dengan hasil riset saya sebelumnya. Apalagi untuk Lasem, yang penuh dengan kekayaan sejarah sejak zaman prasejarah, Hindu, Buddha, Islam, masa Kolonial, hingga akulturasi yang luar biasa kaya dengan budaya Cina.

Sang pemandu yang direkomendasikan menginfokan bahwa pada tanggal trip saya, yang bersangkutan tidak ada di lokasi, namun akan berkoordinasi dengan timnya. Sehari sebelum eksplorasi Lasem dilakukan, saya belum menerima jadwal perjalanan, yang buat saya penting untuk bisa dicocokkan dengan minat saya, termasuk bila ada yang perlu diriset lagi.

Pemandu kedua bertanya mau dijemput jam berapa. Saya menyampaikan belum terima arahan susunan jadwal perjalanan dari

pemandu pertama. Saya hargai pemandu pertama, karena dialah yang direkomendasikan dan (seakan-akan) dialah yang menggerakkan timnya.

Saat saya tanyakan kembali kepada pemandu pertama. Yang bersangkutan kemudian merespons dengan kalimat, “Kok banyak komplain”. Bahkan kata yang digunakan sudah “komplain”, bukan “banyak maunya”, atau “nuntut”.

Situasi seperti ini sangat bisa menyerang ego, dan merusak suasana bila tidak bisa diatur. Pernahkah Anda mengalami dalam situasi kerja, di mana tibatiba Anda dipersalahkan atau dipermasalahkan untuk sesuatu yang Anda merasa tidak demikian?

Hati-hati merespons situasi dan ucapan yang terasa menyerang ego. Lawan interaksi kita juga punya pandangan dan dasar atas sikapnya.

Lawan Benar Bukan Salah

Saya pernah membaca tulisan Gobind Vashdev, bahwa lawan benar bukanlah salah, melainkan kebenaran yang lain. Itu benar sekali. Ego akan semakin tersulut kalau kita merasa benar, dan konflik semakin terjadi bila masingmasing pihak merasa benar, dan lawannyalah yang salah.

Versi benar saya adalah, karena saya menggunakan jasa pemandu, saya merasa berhak mendapatkan susunan jadwal perjalanan. Saya berkoordinasi dengan pemandu pertama karena yang bersangkutan sendiri menyampaikan koordinasinya lewat dia saja.

Tentunya saya juga tidak bertanya apakah dia akan mendapatkan bagian dari pembayaran atau tidak, karena tentunya tidak etis. Namun semua angkanya saya dapatkan dari dia. Jadi kalau dia “hanya membantu” dan ini tidak terhitung bisnis, ya serba salah juga.

Bagaimana dengan versi benarnya pemandu pertama? Bisa saja

karena dia sedang sibuk dan “hanya membantu”, permintaan saya terasa mengganggu kesibukannya.

Kalau situasi ini diperpanjang, tidak akan selesai, karena masingmasing pihak bisa merasa benar. Jadi istilah lawannya benar bukanlah salah, melainkan kebenaran lain dari versi pihak lain, adalah sangat tepat.

Pindahkan Fokus

Lalu bagaimana supaya ego semakin tidak tersiram bensin? Saat terjadi konflik semacam ini, jangan fokus pada siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi fokus pada apa solusinya.

Saya kemudian lebih tidak bergantung pada penantian akan susunan jadwal perjalanan dari pemandu pertama. Saya mulai menyusun sendiri berdasarkan apa yang saya ketahui informasinya. Masalah nanti akan datang jadwal perjalanan, tinggal dicocokkan.

Bila ada rasa “tapi kan kita bayar? Ini kan bukan memintaminta bantuan?” Itu berarti kembali mundur ke soal benar- salah. Satu hal yang membuat saya bisa dengan mudah beralih fokus ke solusi, karena keseruan trip di Lasem jauh lebih berharga daripada sekadar urusan benarsalah.

Di akhir trip Lasem, yang ingin saya dapatkan adalah betapa menjadi lebih kayanya saya dengan mempelajari sejarah dan keindahan budaya yang ada. Jadi merasa lebih benar atas orang lain tidak menjadi bagian dari “jadwal acara” trip saya.

Selamat menikmati perjalanan Anda masing-masing.

Lawannya benar bukanlah salah, melainkan kebenaran yang lain. Saat terjadi konflik, jangan fokus pada siapa yang benar dan siapa yang salah, namun fokus pada apa solusinya.

Bila tidak diatur, ego bisa merusak suasana ke depan.

Saat terjadi konflik, fokus pada solusi, bukan siapa yang benar atau salah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.