Pelukis-Pelukis dengan Media Unik

Kreativitas seniman tidak bisa dibatasi. Mereka berkarya dengan media apa pun. Contohnya tiga pelukis ini, Icha Dechapoe, Yoes Wibowo, dan Anggik k Suyatno. Mereka berkarya dengan ”bantuan” media yang unik. Daun jati, kopi, dan media campuran.

Jawa Pos - - Lifestyle -

LUKISAN FANTASI MIXED MEDIA

REBORN atau terlahir kembali. Itulah yang Icha katakan ketika ditanya mengenai arti nama belakangnya, Dechapoe. Nama itu berhubungan dengan profesinya saat ini sebagai pelukis mixed media.

Perempuan yang mengaku dahulu gonta-ganti bidang pekerjaan itu sudah lama menggilai hal-hal yang berkaitan dengan fantasi. Sebut saja novel, film, termasuk tokoh dan gambar yang ada di dalamnya.

”Dari kecil suka gambar-gambar aneh. Seperti matahari bersayap dan gunung berwarna pink,” ucapnya saat ditemui di daerah Rungkut. Pelukis surealis dan fantasi itu tidak patah arang walau mendapat kritik karena gambarnya nyeleneh. ”Nilai pelajaran gambarku dulu selalu jelek karena guruku nggak bisa menerima itu,” tutur perempuan 33 tahun tersebut.

Untuk menjadi pelukis mixed media, papar Icha, ada banyak kendala. Di antaranya, harus memahami karakter berbagai bahan yang digunakan. Lulusan Sistem Informatika Stikom Surabaya itu harus bisa melihat benda secara detail. ”Setelah dilihat detail, divisualisasikan ke dalam karya,” jelasnya sambil menunjukkan beberapa lukisan mixed media di studionya.

Dari hobi membaca dan nonton film, Icha membuat karya seni kontemporer dengan menggabungkan banyak ilmu. Salah satunya dapat dilihat pada lukisan mixed media yang berjudul Androcrypt Bionic. Lukisan yang dibuat pada Mei 2016 itu menggunakan cat akrilik, kayu, manikmanik, rantai bekas, bubur kertas, dan lain-lain. Lukisan berukuran 55x75 cm tersebut menyinggung cara manusia hidup dan bekerja dalam dunia informatika serta teknologi. (esa/c11/jan)

EFEK WARNA KOPI TAK TERDUGA

SEBAGAI perupa dengan media watercolor, Yoes Wibowo kerap hunting. Kalau ’’nemu’’ spot menarik, dia berhenti dan mengeluarkan alat lukis dari dalam tas selempangnya.

Dia kerap melukis ditemani secangkir kopi. Suatu ketika, Yoes –sapaannya– salah celup. Kuas yang seharusnya dicelupkan di cat, eh kok masuk ke cangkir kopi. ” Yawes, tak

lanjutkan aja,” katanya sambil menggoreskan kuas di atas kertas merang. Makin dilihat, kata dia, warna dari kopi yang tidak sengaja ada di kuasnya itu muncul. Hasilnya bagus.

Hari berikutnya, anggota Sketser Sidoarjo Porong Surabaya (Sketsapora) tersebut sengaja menggunakan kopi lagi. ”Kok ternyata warnanya lebih awet dan penyebarannya di kertas itu bagus,” ucapnya. Dari situ, muncul ide untuk mendalami karakter kopi sebagai media lukis. Menurut dia, warna yang timbul dari larutan kopi bergantung tingkat keenceran. ”Asal bisa mengendalikan air, efek yang dihasilkan tidak terduga dan pasti tidak bisa ditiru,” terang pelukis asal Sidoarjo tersebut.

Saat membuat lukisan kopi, Yoes juga memasukkan elemen warna alami lain seperti kunyit, pinang, daun pandan, gambir, dan arang. Yoes berkarya di atas kertas merang. Lukisan kopinya tersebut sudah terjual hingga ke Swiss dan Guangzhou, Tiongkok. (esa/c20/jan)

GUNAKAN KEKUATAN DAUN JATI

DI depan Anggik Suyatno banyak tumpukan daun jati kering. Bukan sampah. Daun-daun jati itu merupakan bahan utama untuk membuat lukisan. Sang pemilik adalah mantan petani yang alih profesi menjadi pelukis bermedia daun jati.

’’Kagum dengan kekuatan daun jati yang tidak gampang hancur saat tumpukan daun lain remuk karena terinjak-injak,’’ ujar pria 39 tahun itu saat ditanya alasannya memilih daun jati sebagai media lukis. Kemudian, Anggik menceritakan awal mula membuat lukisan daun jati. Pria yang pernah tinggal di Blora tersebut kerap melihat tumpukan daun jati di sekitar rumahnya. Dari situ dia terinspirasi untuk memanfaatkan sampah organik tersebut menjadi sebuah karya. ’’Aku senang

nggambar. Yowes tak jadikan lukisan aja,’’ tuturnya sambil membersihkan lukisan yang sudah hampir jadi.

Tahun 2010 Anggik mulai bereksplorasi dengan daun kering. Dia mengamati kekuatan daun dan cara supaya sampah daun menjadi awet serta tidak mudah hancur. Melukis menggunakan media yang tidak lazim tentu kerap mendapatkan kendala. Beberapa kali dia mencoba, lukisan yang dibuat di atas daun jati itu mengelupas saat disimpan.

Namun, dia tidak jera mencari cara. Salah satunya menggunakan tripleks atau alas lukis yang berkualitas. ’’Harus pakai bahan yang bagus supaya daun dan tripleks bisa merekat sempurna,’’ jelas pria yang mengaku tidak tamat SMA itu. Sudah lebih dari 20 lukisan dari daun jati yang dibuat olehnya. (esa/c15/jan)

GHOFUUR EKA/JAWA POS

CAMPURAN: Icha Decaphoe merampungkan lukisan Androcrypt Bionic menggunakan rantai bekas dan manik-manik.

GALIH COKRO/JAWA POS

FAVORIT: Anggik Suyatno merapikan lukisannya dari daun jati.

ANGGER BONDAN/JAWA POS

AWET: Yoes Wibowo menggunakan kopi untuk mewarnai lukisannya. Warna kopi akan berbeda-beda, bergantung tingkat keencerannya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.