Menjaga Tradisi Boxing Day

Jawa Pos - - Jawa Pos -

LONDON – Ketika berkuasa saat Natal, biasanya Chelsea mengakhirinya dengan juara Premier League. Itulah yang terjadi pada Natal 2004, 2005, 2009, dan 2014. Mereka bahagia di momen Natal dan pada akhir musim lebih bahagia karena pesta gelar. Nah, pada Natal kali ini, Chelsea masih berkuasa. Mereka memimpin klasemen sementara dengan 43 poin alias unggul enam angka atas pesaing terdekatnya. Mereka juga selalu menang dalam 11 laga terakhir. Dan, tampaknya, Bour ne- mouth menjadi korban berikutnya malam ini (siaran langsung beIN Sports 3 pukul 22.00 WIB).

Memang, melawan Bournemouth, pelatih Chelsea Antonio Conte terpaksa mengubah the winning team

nya. Dia kehilangan N’Golo Kante dan Diego Costa yang terkena akumulasi kartu. Tapi, dengan tren hebat selama dan plus bermain di Stamford Bridge, tampaknya, tiga angka bisa digapai.

’’Saya rasa ini bagus. Saya tidak percaya jika orang-orang berkata: penting untuk berada di belakang dan akan ada tekanan jika berada di puncak. Saya lebih suka tekanan memuncaki klasemen, sungguh. Kami sudah mendapatkan posisi ini. Sekarang yang terpenting bagaimana kami menjaganya,’’ kata Conte kepada The Independent.

Tidak hanya menjaga asa untuk memberikan gelar pertama Conte di Inggris, satu kali kemenangan mampu mencatatkan rekor baru dalam klub London Barat tersebut. Pada 17 pekan pertama Premier League, Chelsea sudah 11 kali menang beruntun. Menang 12 kali beruntun akan menjadi rekor baru dalam sejarah Chelsea.

Musim lalu The Cherries –julukan Bournemouth– me nga lahkan Chelsea di Stamford Bridge. Terle pas dari itu, di atas kertas Chelsea

selalu menang lima kali dari tujuh pertemuan terakhir dengan Bournemouth. Lagi pula, Chelsea tidak pernah sekali pun tumbang selama Boxing Day sejak 2003. Hanya, yang menjadi pertanyaan, bagaimana Chelsea mampu menghindari petaka dari Bournemouth lagi? Apalagi, malam nanti WIB formasi 3-4-3 Conte tidak sempurna. Kante dan Costa absen karena akumulasi kartu. Ini untuk kali pertama Chelsea bermain tanpa Kante dan Costa. Lalu, siapa yang akan menjadi penggantinya? Untuk Kante, besar kemungkinan Conte memasukkan Cesc Fabregas di posisi Kantelele –julukan Kante. Conte sekali saja pernah melakukannya saat Chelsea bermain melawan Leicester City dalam babak ketiga Piala Liga 21 September lalu.

Di Premier League, Fabregas pernah bermain sebagai gelandang ketika Nemanja Matic absen. Fabregas dua kali berpasangan dengan Kante sebagai starter. Dari statistik Whoscored, tekling dan intersepnya saja yang membedakan Kante dengan mantan pemain Arsenal tersebut.

Kante membuat 31 tekel per laga, sedangkan Fabregas 0,8. Kante melakukan 2,8 intersep per laga, sedangkan Fabregas hanya 0,6. Bedanya, Fabregas lebih unggul saat memberikan

passing, key passes, umpan terobosan, dan pergerakan dengan bola. Kemampuan tekling yang tidak sekuat Kante itu ditutup oleh Matic.

Yang lebih sulit mencari pengganti sepadan itu adalah absennya Costa. Berbeda di balik absennya Kante, tanpa Costa, Conte mesti memaksimalkan Michy Batshuayi. Pemain termahal Chelsea di bursa transfer musim panas tersebut belum sekali pun dicoba sebagai starter di Premier League.

Total 78 menitnya di Premier League hanya berstatus pengganti. Dari skill yang dimiliki, Batshuayi tidak lebih garang daripada Costa. Lemah dalam duel udara, lalu lemah juga ketika menguasai bola. Dalam jebakan offside pun, dia kurang awas. Akurasi tembakan 67 persen bisa menjadi nilai plusnya.

Meski, untuk mendapatkan satu gol, dia sampai membutuhkan enam kali tembakan. Jika melihat gayanya, pemain Belgia tersebut bisa mengancam dari indirect set piece. Pada Euro 2016 lalu, satu golnya berawal dari set piece. Tembakan kaki kanan kerap menjadi senjata Batshuayi. (ren/c19/ham)

ANNA GOWTHORPE/AP

Cesc Fabregas

EPA/FACUNDO ARRIZABALAGA

TAJAM: Eden Hazard menjadi tumpuan daya dobrak Chelsea saat Diego Costa absen melawan Bournemouth malam nanti. Musim ini dia telah menyarangkan delapan gol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.