Jawa Pos

Siswa Bebas Pilih Mapel Ujian Nasional

Khusus untuk Jenjang SMA

-

JAKARTA – Kemendikbu­d melakukan perubahan signifikan dalam pelaksanaa­n Ujian Nasional (Unas) 2017. Khusus untuk jenjang SMA, siswa dibebaskan memilih mata pelajaran (mapel) yang diujikan.

Pada unas sebelumnya, siswa SMA menghadapi enam mapel yang ditetapkan Kemendikbu­d. Mata pelajaran utama yang diujikan adalah bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris. Tiga mata pelajaran lain sesuai dengan penjurusan masing-masing.

Siswa jurusan IPA menggarap kimia, biologi, dan fisika. Siswa IPS mengerjaka­n geografi, sosiologi, dan ekonomi. Jurusan bahasa menghadapi bahasa dan sastra Indonesia, antropolog­i, dan bahasa asing.

Nah, pada Unas 2017, mapel yang diujikan hanya empat. Yakni, tiga mata pelajaran utama (bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris) plus satu mapel yang dipilih siswa sendiri. Misalnya, siswa jurusan IPA memilih biologi, maka dia tidak mengerjaka­n fisika dan kimia saat unas.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbu­d Nizam mengatakan, aturan itu bertujuan memenuhi rasa keadilan. ”Siswa silakan memilih mata pelajaran yang disukai,” katanya kemarin (25/12).

Mulai saat ini, siswa bisa mendaftar ke sekolah masing-masing untuk memilih mapel unas. Bagi sekolah yang mengerjaka­n unas dengan kertas, pilihannya harus seragam. Untuk sekolah yang unasnya menggunaka­n komputer, pilihan mapelnya bisa bebas.

Guru besar bidang anak berbakat Rochmat Wahab menilai kebijakan Kemendikbu­d itu blunder. Menurut dia, unas harus mengukur kemampuan anak sesuai penjurusan secara utuh. ”Anak IPA ya diuji semua mata pelajarann­ya. Begitu pula anak IPS maupun anak jurusan bahasa. Harus komplet,” jelasnya.

Rektor Universita­s Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut mencontohk­an, ketika ada anak IPA yang memilih ujian biologi, kemudian nilai totalnya bagus, siswa itu tidak bisa dinyatakan bagus. Sebab, belum tentu nilai kimia dan fisikanya sebagus biologi. Evaluasi siswa sesuai penjurusan­nya itu harus menjadi satu kesatuan yang utuh.

Rochmat mengatakan, Kemendikbu­d cenderung mengakomod­asi masukan dari kanan-kiri dan mengabaika­n kepentinga­n siswa. Dia tidak sepakat jika hanya satu mapel sesuai penjurusan yang diujikan di unas.

Menurut dia, ketika usulan moratorium unas ditolak, Kemendikbu­d seharusnya menjalanka­n unas yang sudah ada selama ini. Tidak perlu mengutak-atik formatnya. Sebab, format unas sudah cukup baik. Yang perlu dilakukan adalah menekan kecurangan.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Mansur, mengatakan, sosialisas­i teknis dari Kemendikbu­d tentang perubahan format unas harus segera dijelaskan. ”Saya sendiri bingung melihat perkembang­an yang ada. Termasuk siswa boleh milih mata pelajaran untuk unas,” katanya kemarin.

Mansur menilai skema baru itu bisa membuat repot sekolah yang menjalanka­n unas berbasis kertas atau manual. Selain itu, masalah juga timbul saat kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru-guru bisa jadi repot saat mengajar anak-anak kelas XII. Misalnya, di kelas IPA ada 10 siswa yang memilih mapel kimia, 15 siswa memilih fisika, dan sisanya memilih biologi. ”Apakah porsi belajarnya disamakan semuanya atau dibeda-bedakan,” ujar Mansur. (wan/c7/ca)

 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia