Leicester Waswas Memori 2015

Virus Piala Afrika 2017 Serang Klub Eropa Gema Piala Afrika memang tidak sedahsyat turnamen regional seperti Euro maupun Copa America. Meski begitu, klub-klub elite Eropa selalu khawatir jika pemainnya berlaga dalam turnamen dua tahunan terakbar di Benua

Jawa Pos - - Total Football -

RODA terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Filosofi itu benar-benar dialami Leicester City. Promosi ke Premier League kali pertama setelah satu dekade pada 2014–2015, Leicester secara mengejutkan mampu merebut juara pada musim berikutnya atau musim lalu (2015–2016).

Musim ini, The Foxes –julukan Leicester– kembali merasakan sulitnya bertahan di level atas. Hingga pekan ke-17, Wes Morgan dkk terjerembap ke peringkat ke15. Upaya pasukan Claudio Ranieri untuk bangkit pun mendapat tantangan berarti seiring absennya empat pemain ke Piala Afrika 2017 di Gabon pada 14 Januari sampai 5 Februari mendatang.

Mereka adalah duo Aljazair, Riyad Mahrez dan Islam Slimani, serta duo Ghana, Daniel Amartey dan Jeffrey Schlupp. Berdasar regulasi FIFA, klub diminta melepas pemainnya sejak 2 Januari. Walhasil, seandainya Ghana dan Aljazair sama-sama menembus final, Ranieri bisa kehilangan empat anak asuhnya sampai sebulan.

Kuartet Leicester itu memang absen sebelum duel melawan Sevilla di babak 16 besar Liga Champions pada 23 Februari dan 15 Maret. Tapi, setidaknya ada lima laga Premier League yang mereka lewatkan plus duel kontra Everton di putaran ketiga Piala FA (7/1).

’’Mulai Boxing Day sampai Januari–Februari adalah festive period dan Anda tentu tidak berharap kehilangan banyak pemain baik karena cedera maupun nasionalisme (membela timnas, Red),’’ kata Ranieri sebagaimana dilansir

Ranieri juga memperlihatkan kekhawatirannya mengacu pengalaman The Foxes pada musim 2014–2015. Meski hanya kehilangan Mahrez ke Piala Afrika 2015 (Mahrez belum menjadi bintang seperti sekarang), Leicester kelimpungan di liga. Empat laga tanpa pemain terbaik Inggris 2015–2016 tersebut, Leicester kalah terus.

’’Saya tak suka melihat pemain saya murung atau tak bergembira lantaran kehilangan kesempatan membela negaranya di Piala Afrika. Jadi, saya hanya menyampaikan pesan klub untuk kembali tanpa cedera,’’ tutur Tinkerman –julukan Ranieri– sebagaimana diberitakan Ghana Web.

Secara terpisah, Mahrez mengungkapkan, membela Aljazair di Piala Afrika adalah satu kegembiraan tersendiri. Meski, hati pemain 25 tahun itu juga ingin tetap bersama Wes Morgan dkk yang posisinya sedang terpuruk di Premier League. ’’Saya tahu Piala Afrika tak sebesar Euro, apalagi Piala Dunia. Namun, peta persaingan di antara negara Afrika yang merata justru menjadi tantangan sendiri,’’ katanya.

Dibandingkan Ranieri yang harus melepas empat pemainnya, tactician Liverpool Juergen Klopp sejatinya hanya kehilangan satu penggawa ke Piala Afrika 2017. Tapi, Klopp lumayan cemas karena pemain tersebut adalah Sadio Mane. Winger asal Senegal itu merupakan top scorer The Reds –sebutan Liverpool– musim ini dengan 8 gol plus 4 assist.

Setidaknya ada sepuluh laga yang dilewati Mane kalau Senegal melangkah sampai final. Beberapa di antaranya adalah big match di Premier League seperti menghadapi Manchester United (15/1) dan Chelsea (31/1). ( dra/c17/dns)

OLI SCARFF/AFP

African Football. TUGAS NEGARA: Dua bintang Leicester City, Riyad Mahrez (kanan) dan Islam Slimani, akan membela Aljazair pada Piala Afrika 2017. Leicester kehilangan empat pemainnya dalam ajang dua tahunan itu.

FRANCK FIFE/AFP

TERBANYAK: Yassine Benzia (kiri) dan pelatih Lille Patrick Collot. Benzia adalah satu di antara tujuh pemain Lille ke Piala Afrika.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.