KUE RANGI

Jawa Pos - - For Her -

Adonan dasarnya kelapa yang diparut kasar dicampur tepung sagu, dimasukkan ke dalam cetakan. Lalu, di atasnya dioleskan semacam selai yang terbuat dari sagu aren, gula merah, dan hunkue. Dimasak sebentar hingga matang. Enak disantap selagi hangat.

Meski namanya bir, minuman ini tidak mengandung alkohol. Sejarah penamaannya bermula pada zaman pendudukan Belanda di Jakarta. Budaya orang Belanda minum bir. Tahu bir memabukkan, masyarakat Betawi membuat ”bir tandingan” yang tidak mengandung alkohol dan justru menyehatkan.

Mereka menyebutnya bir pletok. Bir dari kata bi’run atau abyar yang berarti sumber mata air, sedangkan pletok diambil dari suara yang muncul ketika minuman ini diaduk dengan es batu dalam wadah bambu untuk menghasilkan busa.

Bir pletok cukup banyak dijumpai di Jakarta. Salah satu yang patut dicoba di Kedai Dang Hiang, kawasan Kemandoran, Jakarta Barat. Mereka membuat bir pletok dengan komposisi jahe merah, cabai, kayu manis, cengkih, lada hitam, gula batu, dan rempah lainnya. ”Prosesnya kurang lebih tujuh jam, mulai mencuci bahan, meracik, hingga merebusnya,” papar Ahmad Iqbal.

Setelah itu, disaring dan siap disajikan. Pengunjung bisa memilih panas atau dingin, sesuai selera. Kekhasan bir pletok Dang Hiang menarik perhatian salah satu jaringan supermarket besar untuk menjualnya di outlet mereka. Harga per porsi Rp 8 ribu. Manfaatnya bisa sebagai minuman relaksasi, penyegar, dan penghangat tubuh. Mencegah dan mengurangi gejala masuk angin, pusing, melancarkan peredaran darah dan metabolisme tubuh.

IMAM HUSEIN/JAWA POS

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.