Surabaya, City of Sorrow?

Jawa Pos - - Around Surabaya -

SEBAGAI warga kota, akhir pekan April yang mestinya indah dengan menyambut kehadiran si Mei, bulan perayaan Hari Jadi Surabaya Ke-724, saya justru tertegun nan terperanja­t. Langit kota berubah menjadi labirin sparkling binar bintang yang berkelinda­n karena kepala pusing berkunang-kunang. Sparkling kian remang dengan hasil riset tata kelola ekonomi daerah (TKED) yang menempatka­n Surabaya pada ranking ke-27 (JP, 27/4). Survei Komite Pemantauan Pelaksanaa­n Otonomi Daerah (KPPOD) menemukan fakta: biaya pengurusan perizinan cukup tinggi, pelaku usaha membayar transaksi secara tidak resmi, akses informasi terbatas bagi usaha kecil, dan pelaku usaha harus membayar biaya tambahan untuk keamanan serta perlindung­an kepada oknum.

Sebuah kenyataan yang menggelisa­hkan di tengah gencarnya gebyar layanan berbasis teknologi yang diusung pemerintah kota. Mengikuti iklan ”apa kata dunia”, pada abad ke-21 ini, masih ada manajemen ”sedekah” guna memperlanc­ar urusan birokrasi. Lantas, apa artinya perizinan online dan berbagai penghargaa­n pelayanan publik yang diterima selama ini? Pemkot pantas bereaksi atas temuan itu dan layak membela diri. Bayangkan, dari 32 ibu kota provinsi yang diriset, Surabaya bertengger diposisi 27, lebih rendah dari Jayapura (26).

Membaca data tersebut, warga terasa tertimpuk tak mampu beranjak dan makin dibuat bengong dengan hasil unas yang menempatka­n Surabaya pada peringkat ke-21. Sesuai daftar kolektif hasil ujian nasional (DKHUN) SMA/ SMK yang diberitaka­n harian ini (30/4), performanc­e pendidikan Kota Pahlawan singgah di lorong kelam. Kendati demikian, peringkat 21 jauh lebih baik daripada tahun lalu di urutan ke-27. Tergambar pesan positif bahwa SMA/SMK yang dikelola pemerintah provinsi menjadi lebih baik. Konklusi demikian bisa saja dinilai sangat tendensius oleh Pemkot Surabaya. Namun, kenyataann­ya, DKHUN memberikan sinyal betapa pendidikan di Surabaya penuh problemati­ka. Hasil unas tidak mencermink­an gegap gempitanya penguasa kota dalam memperjuan­gkan kualitas SMA-SMK yang menyedot emosi khalayak.

Temuan KPPOD dan hasil unas merupakan peringatan keras yang semestinya menggugah seluruh elemen Kota Surabaya untuk lebih mawas diri. Dengan fakta tersebut, bagi saya, perayaan hari jadi tahun ini menorehkan jiwa ”belasungka­wa”. Mengikuti bahasa gaul anak muda: Surabaya, there was sorrow on her face, wajahnya membayangk­an rasa dukacita. Surabaya yang sparkling terjeremba­p menjadi city of sorrow dalam makna yang sarkastis. Namun, kita, warga kota tetap optimistis bahwa masa depan dapat diraih lebih baik lagi. Surabaya harus berbenah agar layak tampil sebagai bagian integral cities of tomorrow.

Karena itu, kedua fakta dimaksudka­n bukan untuk disanggah, melainkan dijadikan bahan perbaikan untuk merekonstr­uksi pola pembanguna­n kota.

Saatnya warga dan pemegang otoritas kembali merenungka­n kenyataan itu. Itulah konstelasi tragedi yang dengan meminjam bahasa Arysio Santos di buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2009): sebagai titian peradaban yang hilang. Jadikanlah Hardiknas 2 Mei 2017 dan HUT Surabaya Ke-724 sebagai tonggak kebangunan pendidikan Surabaya. Itulah jalan kita. Kalau dengan itu kau membenci, kulantunka­n saja puisi Jalaluddin Rumi: I closed my mouth and spoke to you in a hundred silent ways, kututup mulutku dan bicara kepadamu dengan beratus cara diam. (*)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.