Kompak Berbaju Hitam, Sempat Dikira Cari Orang Hilang

Mahasiswa pencinta alam selalu dekat dengan petualanga­n di alam terbuka. Mahasiswa sastra budaya tak bosan-bosan berkutat dengan teks sejarah purbakala. Bagaimana jika keduanya dilakukan bersama?

Jawa Pos - - For her - DEBORA DANISA SITANGGANG, Surabaya

SUNGAI Brantas menjadi saksi kejayaan Kerajaan Majapahit. Membentang sejauh 320 kilometer membelah Jatim, tentu ada banyak peninggala­n yang bisa ditelusuri di sepanjang sungai tersebut. Itulah yang berusaha dicari sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Kapalasast­ra, kegiatan mapala Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogjakarta.

Selama tujuh hari, mereka menyusuri Sungai Brantas. Tidak semua disusuri, hanya sepanjang 200 kilometer. Dengan kekuatan mendayung perahu secara manual, mereka berhasil menuntaska­n ekspedisi yang dimulai pada 29 Oktober itu Sabtu lalu (4/11).

Dari 13 anggota tim, tidak semua turun ke sungai. Hanya empat orang yang menjadi bagian dari tim arung sungai. Sisanya menjadi tim peneliti dan tim support.

Nurdin Nasyir Gusfa dipercaya sebagai ketua tim ekspedisi kali ini. Dia sendiri ikut mendayung di sungai, mulai Blitar hingga Surabaya. Mengapa Sungai Brantas? ’’Karena sungai ini merupakan cerminan dari kemegahan Majapahit zaman dulu. Kami ingin melihat bagaimana kondisinya sekarang,” jelas Nurdin ketika baru tiba di Gunungsari, Surabaya.

Sambil beristirah­at setelah mendayung tujuh hari, Nurdin dan kawan-kawannya menceritak­an ekspedisi mereka. Sejak berangkat dari Blitar, aliran Sungai Brantas cukup tenang. Saking tenangnya, mereka harus mengerahka­n tenaga ekstra jika ingin cepat sampai di tujuan.

Nurdin dan ketiga kawannya menaiki perahu serupa kano. Tidak ada mesin. Dalam sehari, mereka membatasi waktu mendayung selama delapan jam saja. ’’Berangkat pukul 08.00. Pukul 16.00 sudah sampai di kamp,” tutur mahasiswa asal Banjarnega­ra, Jawa Tengah, itu.

Tempat peristirah­atan atau kamp mereka bisa di mana saja, asal ada tempat lapang untuk istirahat. Sembari melepas lelah, biasanya ada saja orang-orang yang mampir dan bertanya apa yang mereka lakukan. Ketika masih di daerah Blitar hingga Kediri, warga sering mengira mereka sedang mencari orang hilang.

’’ cuma satu-dua kali. Hampir semua tanya begitu. Nyari orang hilang ya, Mas, Mbak?” tutur Hanung Galih Wigati, satu-satunya perempuan dalam tim arung sungai.

Gara-garanya, mereka memang kompak memakai baju warna hitam selama mendayung. Selama pengarunga­n sungai, Nurdin dan kawankawan melakukan plotting atau pemetaan. ’’ Yang kami petakan adalah jumlah penambanga­n,” ujar Nurdin.

Sebab, lanjut dia, berdasar literatur, penambanga­n atau perahu tambang menjadi salah satu penggerak ekonomi penting zaman Kerajaan Majapahit. Dulu saja, sudah ada 34 penambanga­n di sepanjang sungai. ’’Menariknya, desa yang punya penambanga­n itu bebas pajak,” lanjut Nurdin sebagaiman­a yang dia baca dari teks tentang Prasasti Nitiprades­a.

Saat ini, berdasar hasil penelusura­n Kapalasast­ra, Sungai Brantas punya kurang lebih 60 titik penambanga­n. Mereka sendiri belum bisa menarik kesimpulan dari hasil ekspedisi tersebut. ’’Dilaporkan dulu ke dosen, kemudian didiskusik­an,” jelas Nurdin. (*/c17/diq)

foam Nggak GUSLAN GUMILANG/JAWA POS FINIS: Kapalasast­ra FIB UGM saat berada di Gunungsari, Surabaya, Sabtu lalu (4/11).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.