Jawa Pos

Rekonstruk­si Cerita Kakek

Seni Instalasi oleh Maharani Mancanegar­a

-

SURABAYA – Maharani Mancanegar­a, 27, sayang sekali terhadap sang kakek, mendiang Soegriwo Joedodiwir­djo. Besarnya cinta itu terlihat dalam pameran Parodi Partikelir di Visma Arts & Design Gallery mulai hari ini (30/11).

Ada delapan karya seni instalasi karya Rani –sapaan akrab Maharani Mancanegar­a– yang didedikasi­kan khusus kepada kakek tercinta. ’’Saya belum pernah bertemu dengan beliau (Soegriwo Joedodiwir­djo, Red). Tapi, saya bangga kepada kakek,’’ ungkap seniman kelahiran Padang yang tinggal di Bandung tersebut kemarin (29/11).

Semua bermula saat Rani tidak sengaja menemukan buku harian sang kakek. Catatan pribadi itu membawanya ke masa lampau ketika sang kakek masih hidup. Khususnya pada 1960– 1978. Saat itu aktivisme dan kekritisan Soegriwo menghadapk­annya pada tuduhan keterlibat­an di dalam tubuh Partai Komunis Indonesia (PKI). ’’Beliau termasuk tapol (tahanan politik, Red),’’ ujar Rani.

Tuduhan tanpa pengadilan itu membawa Soegriwo pada perjalanan hidup dari penjara ke penjara. Soegriwo pernah dipenjara di Koblen (1966–1971), lalu ke Nusakamban­gan (1971– 1975), dan berakhir di Pulau Buru (1975–1978). ’’Di antara beberapa penjara itu, saya memang sengaja ambil bagian di Koblen,’’ kata Rani.

Dalam melahirkan karya-karya yang dipamerkan tersebut, Rani melakukan riset selama enam bulan. Bersandar pada buku harian sang kakek, perempuan kelahiran Padang, 28 September 1990, itu mulai hunting serpihan-serpihan cerita lainnya. ’’Kakek menulis ceritanya lengkap sekali. Hampir setiap hari ada cerita. Tapi, saya perlu riset lebih lanjut,’’ tuturnya.

Rani pun harus bolak-balik ke Surabaya. Dia menelusuri jejak cerita di Koblen yang berlokasi di Bubutan tersebut. Selain itu, Rani bertemu dengan Oei Hiem Hwie, pemilik Perpustaka­an Medayu Agung yang pernah menjadi tapol. ’’Saya cerita-cerita banyak dengan Pak Hwie,’’ jelasnya.

Rani merasa terbantu. Dia seperti menemukan bagian cerita yang hilang dari coretan pribadi sang kakek. Karena itu, Rani juga mengundang Oei Hiem Hwie dalam pembukaan pameran perdananya di Surabaya.

Rentetan perjalanan seniman muda yang memiliki banyak pengalaman mengikuti pameran di dalam dan luar negeri itu dituangkan­nya dalam seni instalasi. Dia kembali merekonstr­uksi cerita tersebut dalam media kayu jati dan kain. Pada Warta Pijar, dia membuat instalasi dari kain berukuran 5,5 meter x 60 sentimeter. Ada empat lembar kain dengan tulisan-tulisan Rani. Coretan yang dibentuk seperti koran itu berkaitan dengan Koblen. Ada berita yang pernah ditulis di beberapa media. Ada pula cerita karangan Rani. ’’Saya ambil beberapa sumber dari media koran maupun online,’’ terangnya.

Tentu Rani tetap menampilka­n ciri khasnya. Karya yang menggeliti­k seperti judul proyeknya, Parodi Partikelir, dibumbui dengan gambar grafis oleh Rani.

Selain bentuk koran itu, Rani ni menciptaka­n papan dari kayu u jati. Ada 39 papan yang berukuran n total 150 x 400 cm. Papan-papan n tersebut memuat cerita dari buku u harian sang kakek saat dipenjara. a. Rani menuliskan curhatan n kakeknya itu dengan kapur r pada papan hitam.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Perhimpuna­n Indonesia Tionghoa (Inti) Jawa Timur Gatot Seger Santoso memberikan apresiasi kepada Rani. Setelah melihat karyanya, Gatot merasa kan rasa sayang luar biasa dari cucu kepada kakeknya. (bri/c14/jan)

 ??  ?? WARTA PIJAR: Maharani Mancanegar­a di antara salah satu karyanya yang dipamerkan di Visma Arts & Design Gallery mulai hari ini hingga awal Januari.
WARTA PIJAR: Maharani Mancanegar­a di antara salah satu karyanya yang dipamerkan di Visma Arts & Design Gallery mulai hari ini hingga awal Januari.
 ?? ARYA DHITYA/JAWA POS ?? DARI KAYU JATI: Karya Rani, Ethical Allegory.
ARYA DHITYA/JAWA POS DARI KAYU JATI: Karya Rani, Ethical Allegory.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia