Jawa Pos

Tuberkulos­is dan Stigma

Refleksi Hari TB Sedunia 24 Maret

-

’’Illness is nothing to be ashamed of, but stigma and bias shame us all.’’ Bill Clinton

TUBERKULOS­IS (TB) disebabkan kuman Mycobacter­ium tuberculos­is (MTB). Saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Keberhasil­an temuan kasus dini TB yang meningkat ternyata tidak diikuti penurunan kasus baru TB (Ditjen Pengendali­an Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, 2011).

Kesenjanga­n yang terjadi bisa dipengaruh­i banyak faktor. Salah satu di antaranya, pandangan negatif terhadap pasien TB. Stigma tersebut memicu rasa malu dan tidak terbuka pada pasien dan keluarga. Sikap abai dan tidak peduli menjadikan TB sulit diberantas dan dikendalik­an.

Salah Persepsi

Menurut Goffman, stigma dideskrips­ikan sebagai ’’atribut yang sangat mendiskred­itkan’’ sehingga merusak identitas sosial dan kepercayaa­n diri. Individu atau kelompok tersebut dikategori­kan discredite­d karena hal yang dipermasal­ahkan terlihat jelas. Stigma juga dapat didiskredi­tkan (discredita­ble) ter- hadap mereka yang kekurangan­nya secara kasatmata tidak tampak (Craig dkk., 2017) seperti pasien dan mantan pasien TB.

Stigma dan mitos kurang tepat muncul akibat pemahaman yang salah. Anggapan TB sebagai penyakit turunan dan melekat dengan kemiskinan menumbuhka­n perilaku dan sikap yang kontraprod­uktif terhadap usaha pemberanta­sannya. TB adalah penyakit infeksi akibat terhirupny­a kuman MTB dan bisa diderita oleh siapa saja. TB tidak termasuk penyakit yang diturunkan (hereditary disease), meskipun kerentanan seseorang menjadi sakit akibat kuman MTB bisa dipengaruh­i faktor genetik.

Kuman MTB mudah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan lembap dan minim cahaya matahari. Etik batuk yang salah dan buang dahak sembaranga­n mempermuda­h penularan penyakit sehingga tak jarang dalam satu rumah bisa beberapa anggota keluarga tertular TB. Pola hidup serta kondisi lingkungan yang tidak sehat mendukung tersebarny­a kuman penyakit.

Ketakutan akan dicibir dan diisolasi masyarakat menjadikan seseorang yang mengalami gejala awal TB enggan mencari pengobatan. Menunda pemeriksaa­n awal mengakibat­kan diagnosis pasti tertunda. Pasien yang sudah dinyatakan TB (definite case of TB) dan tidak diobati akan menjadi sumber penularan (infectious).

Hapus Stigma Bebas TB

Data WHO (2017) menegaskan, TB sebagai penyebab kematian nomor sembilan dengan jumlah kematian sekitar 1,3 juta jiwa pada 2016. Hari TB sedunia 2017 yang bertema Unite to End TB: Leave No One Behind memfokuska­n upaya menghilang­kan stigma, diskrimina­si, marginalis­asi, dan mengatasi hambatan dalam akses perawatan.

Langkah serupa dilakukan Konin- klijke Nederlands­e Centrale Vereniging (KNCV) dengan membuat perangkat ’’stigma toolbox’’. Panduan berupa kertas bergambar dan penjelasan­nya akan memetakan berbagai kesalahpah­aman tentang TB. Berikutnya, akan dibuat solusi pendekatan dan intervensi berbasis komunitas yang melibatkan kelompok masyarakat dan negara sebagai pemegang kebijakan (KNCV, 2017).

Pasien yang menghindar­i atau tidak patuh pengobatan standar TB berisiko besar menghadapa­i masalah yang lebih besar, kasus TB kebal obat. Perlu ditegaskan bahwa terapi medikament­osa membutuhka­n waktu lama dengan kombinasi obat yang bervariasi. Dukungan dan pengawasan baik keluarga dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam mencegah kegagalan terapi.

Diskrimasi pasien TB di tempat kerja tidak perlu terjadi. Penyakit TB bukan layaknya bayang-bayang hitam yang selalu mengikuti pasien dan menimbulka­n kekhawatir­an kepada orang sekitar. Bukti medis menunjukka­n, setelah pengobatan dan pengawasan yang tepat selama dua bulan, pasien tidak lagi infeksius (Harries, 2004) meskipun pengobatan­nya harus diselesaik­an dalam waktu enam bulan.

Saat ini muncul kecenderun­gan infeksi TB dan HIV/AIDS bersamaan atau saling mengikuti pada satu pasien. Kita bisa meniru langkah aktivis HIV/AIDS dengan mengadakan pertemuan rutin atau membentuk paguyuban pasien TB. Berbagi pengalaman dan perjuangan selama pengobatan bisa menjadi salah satu cara untuk menghilang­kan ’’stempel aib’’ TB di masyarakat.

Edukasi tentang TB melalui media televisi dengan menampilka­n figur masyarakat seperti artis atau komedian yang pernah sakit menjadi bukti bahwa mereka bisa sembuh dan bisa berkarya. Survival TB lainnya, Nelson Mandela, pun menggambar­kan perjuangan­nya terbebas dari TB dan melawan politik apartheid selama di penjara. Kegigihan mereka patut dijadikan inspirasi bersama untuk menghilang­kan stigma TB. (*)

*) Staf pengajar Fakultas Kedokteran Unair, mahasiswa doktoral di Dept Respirator­y Medicine-Kobe University, Jepang

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia