Cara Cerdas Jadi Pengusaha

Penting Mengerti Branding dan Marketing

Jawa Pos - - MODERN WEST -

SURABAYA – Peluang usaha ditangkap oleh yang tanggap. Strategi cerdas membidik pasar menjadi topik hangat yang dibahas pada acara Marketing & Branding Talkshow di auditorium Universita­s Ciputra kemarin (23/3). Acara yang diselengga­rakan I’m Marketing Communicat­or Competitio­n (IMAC) itu menarik perhatian 165 mahasiswa, pelaku bisnis, serta masyarakat umum.

Adalah dosen visual communicat­ion design Shienny Megawati Sutanto yang memaparkan pentingnya branding dan marketing. Sebelum memulai usaha, target pasar penting diketahui. ’’Mau yang mana dulu. Jangan terlalu general pokoknya, bikin produk tanpa pertimbang­an,’’ ucap perempuan yang juga dikenal sebagai komikus Indonesia yang menghasilk­an manga-manga bergaya shoujo itu.

Dia mencontohk­an lewat perumpamaa­n sosok Anton dan Nina. Anton adalah laki-laki bertubuh gendut, sedangkan Nina merupakan perempuan cantik, langsing, dan memiliki gaya hidup tinggi. ’’Si Anton naksir nih sama Nina yang cantik. Nah, bagaimana caranya mendekati? Tentunya si Anton harus mempelajar­i selera Nina,’’ jelasnya.

Untuk bisa mempelajar­i kesukaan cewek incarannya, Anton harus mengikuti hobi Nina. Misalnya, Nina suka membaca buku biologi. ’’Oh, enggak apa-apa, aku juga suka buku science fisika. Bisalah sambung-sambungin,’’ ungkapnya.

Jadi, Anton bisa pergi ke perpustaka­an agar ketemu Nina. Strategi tersebut dilakukan untuk mempelajar­i target sehingga kemudian bisa mengetahui selera konsumen.

Cara lain untuk mem-branding produk adalah membuat logo yang menarik. ’’Amit-amit ya, jangan buat logo asal. Harus dipikirkan bentuk dan makna di dalamnya supaya orang ingat,’’ tegas Shienny.

Sharing tentang usaha kreatif juga dipaparkan pemilik Kerupuk Bocah Tua, Levina Nathania Susilo. Lulusan desain interior itu memulai bisnis dengan personal selling dan door-to-door pada 2014. ’’Saya desainer, tapi kok jualan kerupuk?’’ katanya.

Levina merintis PT Indosnack Makmur Abadi yang menaungi produksi kerupuk.Awalnya, dia menjual kerupuk secara grosir. Karena itu, Levina harus bersaing dengan produsen kerupuk lain. ’’Bahan baku kami asli semua. Tanpa MSG dan pewarna buatan. Untuk itu, saya tidak bisa untung kalau bersaing sama mereka,’’ tuturnya. Kemudian, dia memutuskan untuk beralih pangsa pasar. Dia putar arah ke end-user. Jual eceran.

Bisnisnya berkembang. Dia mulai melakukan ekspor ke Amerika Serikat pada 2016.

GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

BERHASIL: Levina Nathania Susilo (kiri) menjadi pembicara di Universita­s Ciputra kemarin. Dia bercerita tentang usahanya merintis bisnis.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.