Jawa Pos

Baru Selesai Ujian, Anak Diajak Ngebom

-

SURABAYA – Aksi bom bunuh diri yang dilakukan keluarga Dita Oepriarto menyisakan kegeraman pada banyak orang. Pria 46 tahun itu tega mengajak istri dan empat anaknya dalam aksi di tiga gereja Surabaya pada Minggu (13/5)

Dua diantarany­a masih S D. Mereka adalah Famela Rizqita, 8, dan Fadhila Sari, 12. Dua bocah tersebut merupakan siswa salah satu SD Muhammadiy­ah Surabaya. Menurut mereka yang mengenal, Famela dan Fadhila adalah anak pintar meski tidak selalu juara kelas.

Heru Cahyono, ketua tim inovasi dan pengembang­an salah satu SD Muhammadiy­ah di Surabaya, mengatakan bahwa Famela dan Fadhila di sekolah layaknya siswa biasa. Mereka belajar dan bermain dengan teman-teman. ”Keduanya memang tidak banyak bicara kalau tidak ditanya. Cenderung introver,” katanya.

Meski begitu, pihak sekolah, baik guru maupun tenaga pendidik, tidak melihat adanya keanehan pada dua siswa tersebut. Kedua kakak mereka, Firman Halim dan Yusuf Fadhil, juga pernah bersekolah di tempat yang sama. ”Kedua kakaknya lebih ekstrover. Lebih terbuka dengan yang lain,” ujarnya.

Firman, 16, duduk di bangku SMP dan Yusuf, 18, SMA. Saat SD, Firman termasuk siswa berprestas­i di bidang pencak silat Tapak Suci. ”Banyak prestasiny­a,” ujarnya.

Di sekolah, Famela dan Fadhila mendapat pelajaran tentang nasionalis­me, bela negara, hingga hidup dengan keanekarag­aman agama. Dua siswa itu memang terlihat kurang berminat. Namun, sekolah terus memberikan materi tersebut. ”Kami selalu memberikan pembinaan kepada orangtua dan anaknya. Semua materi yang diberikan di sekolah tematik. Semuanya kami ajarkan dengan baik,” jelasnya.

Setelah terjadi bom bunuh diri, pihak sekolah sangat kaget. Padahal, Famela baru saja ikut ujian akhir semester minggu lalu. Fadhila juga baru menyelesai­kan ujian sekolah berstandar nasional (USBN). ”Masa depan mereka masih panjang. Kami seluruh sekolah ikut berduka,” katanya.

Fakta bahwa anak pelaku pengeboman bersekolah di salah satu lembaga Muhammadiy­ah membuat petingginy­a langsung turun tangan. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiy­ah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Muhammadiy­ah yang juga Mendikbud Muhadjir Effendy mengumpulk­an seluruh kepala sekolah Muhammadiy­ah Surabaya kemarin (14/5).

Dalam pertemuan singkat itu, Muhadjir mengecam keterlibat­an anak-anak dalam peristiwa pengeboman tersebut. Dia menegaskan, sekolah tidak memberikan doktrin-doktrin radikalism­e. Kalaupun anak menerima doktrin tersebut, sepenuhnya itu menjadi tanggung jawab orang tuanya dalam mendidik. ”Anak-anak ini adalah korban. Ada korban sasaran, juga keterpenga­ruhan orang tua,” jelasnya saat ditemui di Pusat Dakwah Muhammadiy­ah Surabaya.

Seluruh kepala sekolah, mulai tingkat SD hingga SMA/SMK, hadir dalam pertemuan singkat itu. Kepada para kepala sekolah, Muhadjir meminta mereka mendata murid-murid lebih detail. ”Bagaimana hubungan antara siswa dan orang tuanya, orang tua dan sekolah, harus ada datanya,” jelasnya. Dengan begitu, ketika ada tanda-tanda perilaku merusak, lanjut dia, sekolah bisa langsung mendeteksi dan melaporkan ke pihak berwajib.

Menurut Muhadjir, modus operandi yang diterapkan para pelaku kali ini termasuk baru di Indonesia. Yakni, melibatkan anakanak. Dia membantah bahwa kurikulum berandil pada kurangnya pemahaman anak-anak tentang Pancasila dan akhirnya terpapar radikalism­e. ”Kurikulum sebetulnya sudah nggak ada masalah. Ini juga sama sekali nggak ada kaitannya dengan sekolah,” tandasnya.

 ?? DEBORA SITANGGANG/JAWA POS ?? KECAM RADIKALISM­E: Mendikbud Muhadjir Effendy di Pusat Dakwah Muhammadiy­ah Surabaya, Jalan Wuni, kemarin.
DEBORA SITANGGANG/JAWA POS KECAM RADIKALISM­E: Mendikbud Muhadjir Effendy di Pusat Dakwah Muhammadiy­ah Surabaya, Jalan Wuni, kemarin.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia