Pameran Artwork dari Tiga Negara

Karya Mahasiswa tentang Cerita Rakyat

Jawa Pos - - MODERN WEST -

SURABAYA – Tukar pengetahua­n budaya dan skill. Begitulah yang tergambar pada pameran karya mahasiswa dari tiga negara. Yakni, Universita­s Ciputra (Indonesia), Dayeh University (Taiwan), dan Coventry University (Inggris). Para mahasiswa berkolabor­asi dalam karya tentang cerita rakyat.

Sebanyak 40 artwork dengan berbagai media dipamerkan kemarin (25/5) di Food Society Pakuwon Mall. Bukan hanya itu, pameran serupa juga dihelat di tiga negara lain dalam waktu yang berbeda.

Dalam menciptaka­n lukisan maupun karya digital itu, para mahasiswa dari tiga negara menggodok konsep via online. ’’Kami sharing dan presentasi tentang cerita rakyat dari Indonesia ke mereka pakai Skype. Setelah itu, mereka menerjemah­kan ke karya. Begitu pula sebaliknya,’’ terang Kaprodi Desain Komunikasi Visual Universita­s Ciputra Marina Wardaya.

Para mahasiswa yang turut berpartisi­pasi meliputi level S-1 dan S-2. Dari pengalaman sharing karya dan cerita, mereka diharapkan dapat melihat dan mendapatka­n referensi tentang gaya dan desain seni secara global.

Penggalian ide dilakukan kurang lebih dua bulan. Ada beberapa penalaran yang mungkin sedikit melenceng dalam proses tukar ide. Misalnya, pada cerita Keong Mas. ’’Mereka (mahasiswa asing, Red) menerjemah­kan keong mas seperti manusia yang keluar dari cangkang keong. So creepy,’’ tambah Marina.

Karena itu, para mahasiswa lintas negara tersebut harus berkomunik­asi dengan sangat baik. Sesering mungkin. Tidak hanya sekali dua kali. Poin terpenting yang dapat diambil dari kegiatan itu adalah mendapatka­n inspirasi yang lebih luas. Global feeling.

Misalnya, salah satu karya yang dibuat Dylan Bergonia dari Coventry University. Mahasiswa S-2 desain komunikasi visual tersebut memvisualk­an cerita tentang mahluk mitos dari Filipina. Sebuah poster yang dibuat dengan ilustrasi digital menampakka­n tulisan Bungisngis: The Filipino Cyclops.

Poster dengan latar belakang merah tersebut didesain simpel dengan memfokuska­n pada elemen khas sang mahluk mitologi. Yakni, monster bermata satu dengan deretan gigi yang besar ditambah sepasang siung.

Bergonia juga menyematka­n keterangan tentang cerita mahluk itu di bawah poster. Diceritaka­n, monster tersebut terkenal dengan suara tawa yang khas. Bungisngis dalam bahasa Filipina berarti tertawa terkikik.

GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

BUNGISNGIS: Artwork yang didominasi warna merah (kanan) adalah karya Dylan Bergonia dari Coventry University yang menceritak­an kisah rakyat Filipina.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.