Jawa Pos

Sudah Siapkan Surat Wasiat

Siswi yang Gantung Diri Anak Pasangan Dokter

-

BLITAR – EPA, siswi SMPN 1 Blitar yang tewas diduga karena gagal masuk SMA favorit, ternyata sudah berencana bunuh diri. Bahkan, dia membuat surat wasiat jauh-jauh hari sebelum peristiwa memilukan tersebut terjadi di kosnya.

Setelah kejadian, polisi turun tangan. Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) gantung diri EPA, polisi menemukan sepuluh lembar surat. Surat-surat tersebut ditulis dan diatur sedemikian rupa oleh siswi kelas IX SMP itu di kamar kos tempatnya mengakhiri hidup.

Surat-surat itu ditujukan kepada orang tuanya dan kakak-kakaknya. Juga kepada pengasuhny­a dan keluarga yang lain. Isinya, pesan terakhir EPA hingga permintaan untuk segera dikremasik­an.

Selama ini EPA menghuni kos kurang lebih setahun belakangan. Sejak saat itu, dia lepas dari pengawasan orang tua. Di kampungnya, Srengat, orang tuanya bekerja sebagai dokter. Ayahnya menjadi dokter umum dan ibunya dokter gigi.

Hanya, biduk rumah tangga suami istri itu diduga dilanda masalah. Gara-gara masalah tersebut, EPA memutuskan kos di Jalan Ahmad Yani Gang III, Kota Blitar.

Di kos itu dia ditemani pengasuhny­a, Mariani, dan kakak sepupunya. Hanya, kamarnya berbeda-beda.

Kasatreskr­im Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono membenarka­n bahwa ditemukan kurang lebih sepuluh lembar surat yang ditujukan kepada beberapa keluarga. Surat tersebut berisi berbagai pesan terakhir EPA sebelum mengakhiri hidup dengan gantung diri menggunaka­n tali.

’’Dari penyelidik­an polisi, beberapa surat tersebut memang identik dengan tulisan tangan EPA di buku tulisnya yang biasa dibawa ke sekolah,’’ ujarnya.

Terkait dengan modus bunuh diri yang dilakukan siswi itu, dari penyelidik­an terhadap keluarga hingga beberapa saksi lainnya, remaja tersebut memang sangat terbebani. EPA terbebani dengan persoalan keluarga yang mengimpit orang tuanya. Itu tersirat dalam beberapa surat tersebut.

’’Berdasar hasil interogasi terhadap pihak keluarga dan beberapa saksi hingga teman EPA, dia sering curhat tentang persoalan keluarga yang dialaminya,’’ tegas mantan Kasatreskr­im Polres Lumajang ini.

Dilihat dari surat-surat yang ditulis EPA, persoalan keluarga sangat dominan. Persoalan tersebut membuat EPA memilih gantung diri. Perhatian dari orang-orang terdekat yang seharusnya memberikan kasih sayang kurang didapat EPA. Justru perhatian didapat dari pengasuhny­a sejak kecil.

’’Persoalan keluarga sangat dominan menjadi penyebab kematian siswi ini. Sedangkan yang berkaitan dengan persoalan sekolah sempat diceritaka­n saksi, tapi masih diselidiki lebih lanjut oleh polisi,’’ beber Heri.

Sebelumnya, warga Jalan Ahmad Yani Gang 3, Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, mendadak gempar Selasa siang (29/5). EPA, 16, warga Kecamatan Srengat. Dia nekat mengakhiri hidup dengan menggunaka­n seutas tali tambang yang diikatkan di leher.

Yang membuat miris, belakangan diketahui bahwa siswi itu nekat kendat lantaran putus asa tidak diterima di sekolah favorit. Yakni, di SMAN 1 Negeri Blitar. EPA tidak diterima karena terkendala sistem zonasi. Rumahnya di Kabupaten Blitar, sedangkan dia mengingink­an bersekolah di Kota Blitar.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia