Jawa Pos

Surabaya dan Capaian-capaiannya

- ANGGIT SATRIYO NUGROHO

PERAYAAN ulang tahun Surabaya tahun ini agak berbeda dari sebelumnya. Surabaya yang biasanya aman tiba-tiba mendung. Pertengaha­n bulan lalu, secara berturuttu­rut bom meledak di tiga gereja di Surabaya dan Polrestabe­s Surabaya. Korbannya adalah mereka yang tidak berdosa. Pedih yang tidak terkira.

****

Di luar itu, setahun belakangan ini rasanya apa pun bisa dicapai Surabaya. Penghargaa­n yang didapat kota ini berjibun. Datang dari instansi mana saja. Dalam dan luar negeri. Capaiannya istimewa. Apresiasin­ya pun datang dari manamana. Berbagai tema. Berbagai sudut pandang.

Rasa-rasanya benar juga. Selama setahun ini layanan publik apa yang sulit di Surabaya? Nyaris tidak ada. Semuanya mudah. Ingin mengurus perizinan, datang saja ke unit pelayanan satu atap di Gedung Siola. Ada 220 jenis perizinan yang bisa diurus di sana. Semuanya ada. Tinggal unggah berkas ke sistem Surabaya Single Window. Asal berkas lengkap, perizinan beres.

Bila Anda sakit, jangan khawatir. Sudah ada jaminan kesehatan yang menanggung. Asal nama Anda tercatat dalam database, pemkot akan menanggung biayanya. Kabarnya, belum banyak pemerintah kabupaten/ kota yang mengalokas­ikan APBD untuk menalangi jaminan kesehatanw­arganyaseb­agaimana Surabaya. Ada dua alasan kota lain tidak bisa begitu. Bisa jadi APBD ngepres. Bisa pula belum ada kemauan politik dari pemimpin daerahnya.

Biaya pendidikan juga murah. Pemkot menanggung seluruh biaya pendidikan untuk siswa SD dan SMP

Saat Anda tua, tidak produktif lagi, tetapi masih tinggal di Surabaya, pemkot juga masih mengurusny­a. Ada makanan tambahan yang dibagikan bagi lansia. Rasanya, pemkot tidak ingin Anda hidup terlunta-lunta di kota ini. Kalaupun bisa makan, harus bergizi. Karena itu, dana puluhan miliar digelontor­kan setiap tahun. Segelas susu dan makanan bergizi rutin disajikan para pengurus kampung. Mereka berkelilin­g mendata lansia mana yang butuh. Tidak ada yang luput.

Sampai-sampai, mereka yang mati juga mendapatka­n layanan bagus. Mereka disediakan tempat peristirah­atan yang oke di daerah Keputih. Bentuknya seperti taman. Jauh dari kesan angker. Rumputnya rutin dicukur. Rapi. Urusan administra­sinya, termasuk mendapatka­n akta kematian, juga tidak sulit. Semua urusan bisa diselesaik­an di kantor tempat pemakaman umum. Prinsipnya, yang meninggal dan yang ditinggalk­an sama-sama tidak sulit.

Di bidang-bidang lain, masih banyak hal lain yang ditawarkan. Taman-tamannya indah. Jalan raya yang ekstraleba­r. Masih banyak lagi.

Lantas, apa kekurangan Surabaya? Saya harus berdiskusi ke sana kemari dengan temanteman di ruang redaksi. Kadang sampai tengah malam. Kadang pula hingga menjelang pagi. Mengingat-ingat capaian selama ini. Di meja rapat hingga di warung kopi.

Hingga akhirnya teringat pada 2013. Seorang pejabat teras yang diwawancar­ai Jawa Pos ketika itu bilang bahwa tidak lama lagi monorel dan trem akan berlalulal­ang di Surabaya. Kemacetan yang selalu jadi biang persoalan di perkotaan itu akan sirna.

Seakan-akan memang benarbenar terwujud. Bahkan, rasanya tinggal selangkah lagi. Bila oke, Surabaya benar-benar akan jadi kota dunia. Apalagi, sebelumnya investor dari banyak negara diundang. Mereka disuruh menanamkan modal di Surabaya untuk proyek transporta­si masal itu. Namun, lima tahun berselang, proyek yang dipercaya menggerus kemacetan di kota itu tidak jelas juntrungan­nya. Kabarnya, pembiayaan diambil alih pemerintah pusat, tetapi tidak jadi. Kabarnya digarap pakai APBD Surabaya. Juga tidak terwujud. Hingga akhirnya, sebagai pengobat ’’luka’’, ada Suroboyo Bus yang dioperasik­an. Ya, pakai rute trem itu.

Semoga tangan dingin Wali Kota Tri Rismaharin­i mampu mewujudkan­nya. Selamat ulang tahun Surabaya.

 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia