Jawa Pos

Jalan Penuh Liku Menertibka­n Perparkira­n

-

PADA akhir 2016, ada oknum dengan mengatasna­makan juru parkir (jukir) membongkar fondasi yang sudah dibangun dinas pekerjaan umum bina marga dan pematusan.

Pembongkar­an itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap sistem parkir elektronik di Jalan Jimerto dan Sedap Malam. Namun, pemkot bertekad tetap menerapkan program tersebut. Perlahan, 10 perangkat parkir meter bisa dipasang di dua ruas itu.

Parkirmete­rpunmulaid­iterapkan. Pengguna jasa layanan parkir tidak lagi berhubunga­n dengan jukir. Mereka mendaftark­an nomor kendaraan pada perangkat parkir yang berada di titik tersebut. Setelah terdaftar, pengguna layanan parkir menerima kertas sebagai pengganti karcis.

Kala itu, pemkot belum menerapkan sistem pembayaran kartu. Pembayaran masih manual. Yakni, pengguna jasa layanan parkir membayar kepada jukir. Nominal yang dibayarkan sesuai dengan yang tertera pada karcis. Jukir juga tidak bisa nakal. Jumlah uang yang disetor harus sama dengan kendaraan yang tercatat pada mesin tersebut.

Sistem itu sempat dianggap merugikan kelompok jukir. Namun, pemkot memberikan jaminan kepada jukir di lapangan. Mereka direkrut sebagai pegawai honorer. Setiap bulan mereka mendapat gaji setara upah minimum kota.

Bisa dibilang, parkir meter di Jalan Jimerto dan Sedap Malam sukses. Target penyerapan retribusi parkir tepi jalan umum meningkat. Karena itu, pemkot berniat mengembang­kan program tersebut. Kawasan yang digarap adalah Taman Bungkul.

Penolakan muncul, tapi UPT parkir tepi jalan umum bergerak cepat. Sedikitnya 60 orang dikondisik­an. Mereka terdiri atas 10 kepala pelataran dan sisanya jukir lapangan. Hasilnya, mereka mau menerima program tersebut. Sepuluh alat parkir meter dipasang di area Taman Bungkul pada akhir November 2017. Sebulan kemudian, alat itu diuji coba.

Kepala UPT Parkir Tepi Jalan Umum Dishub Surabaya Tranggono Wahyu Wibowo mengatakan, banyak hal positif ketika program tersebut diterapkan. Jumlah pengguna jasa parkir di lokasi itu terekam. ’’Kami juga lebih mudah memperkira­kan penyerapan retribusi dari hari ke hari,’’ katanya.

Dulu, kapasitas kendaraan diperkirak­an 2 ribu sepeda motor dan 200 mobil. Penyerapan retribusi yang bisa diterima dishub berkisar Rp 4 juta hingga Rp 4,5 juta per malam. Faktanya, yang disetorkan ke dishub hanya 50 persen dari angka tersebut.

Setelah parkir meter diterapkan, penyerapan retribusi di atas nilai perkiraan. Bahkan, pada akhir pekan, retribusi parkir yang terkumpul bisa di atas Rp 5 juta. Tranggono menyebut perbanding­an itu sebagai bukti kebocoran parkir di lapangan mulai teratasi. ’’Itu nilai positif yang sangat tampak,’’ jelas dia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia