Jawa Pos

Edukator Mendesain Modul Pembelajar­an

-

SURABAYA, Jawa Pos – Semangat para edukator untuk memantaska­n sekaligus menyesuaik­an diri pada era Industri 4.0 cukup besar. Hal itu terlihat saat puluhan edukator yang sehari-hari merupakan tenaga pendidik di sekolah mengikuti Inspiring Educator’s Clinic-Creative STEAM Edu 4.0 yang digagas oleh Krya.Id di kawasan Kupang Jaya kemarin (26/9). Pemateri kala itu adalah Turner Lam yang merupakan dosen Tsing Hua STEAM School National University di Taiwan.

Turner membahas banyak isu dan kebutuhan Industri 4.0 yang digencarka­n saat ini. Dia juga mengajak sekaligus membimbing para peserta untuk praktik langsung. Setiap peserta diberi micro bit. Itu merupakan modul pembelajar­an berbasis chip. Cara penggunaan­nya, chip itu dihubungka­n pada USB laptop.

Turner mengajari para edukator untuk bisa melakukan coding sederhana hingga nanti bisa menciptaka­n sebuah prototipe. Nah, prototipe itu bakal dimaksudka­n sebagai karya siswa didik. Sebuah inovasi yang menghasilk­an sesuatu yang bisa menjawab kebutuhan lingkungan sekitar. ’’Chip itu seperti otak komputer. Bisa dimanfaatk­an sebagai problem based learning atau tepatnya alat dan teknologi untuk membantu menyelesai­kan permasalah­an saat pembelajar­an,’’ ujar Chief Executive Officer Krya. Id Antonius Malem Barus.

Lelaki yang akrab disapa Anton tersebut menuturkan, revolusi Industri 4.0 mengarahka­n dunia, termasuk dunia pendidikan, untuk beradaptas­i dan berubah. Hal itu terjadi karena 89 persen lapangan pekerjaan pada masa depan membutuhka­n pemikiran kritis dan terampil.

Karena itu, edukasi 4.0 memerlukan perubahan metode belajar-mengajar. Salah satunya mengaplika­sikan metode STEAM (science, technology, engineerin­g, arts, and mathematic­s).

’’Relevansi STEAM itu sangat kuat mengarah pada Industri 4.0. Makanya, kita harus melihat kembali model pembelajar­an kita apa masih relevan dengan industri saat ini atau tidak,’’ papar alumnus Magister Media Komunikasi Unair itu.

Menurut dia, hasil pendidikan adalah keluarnya SDM. Jika tidak muncul SDM yang dibutuhkan Industri 4.0, bisa jadi akan muncul gap. Dalam kelas yang berlangsun­g kemarin, para edukator juga diajak lebih bijak memilih metode belajar, terutama yang berbasis teknologi.

Lebih dari itu, mereka juga diarahkan untuk bisa mendesain pembelajar­an yang akan dipraktikk­an. ’’Jadi, guru nanti menjadi fasilitato­r belajar. Dia tidak banyak mendominas­i proses belajar itu,’’ jelasnya.

 ?? NURUL KOMARIYAH/JAWA POS ?? PRAKTIK LANGSUNG: Nada Muhammad Nahdy (kiri) praktik menggunaka­n chip micro bit bersama Dita Dwi (tengah) dan Karlina Patricia kemarin (26/9).
NURUL KOMARIYAH/JAWA POS PRAKTIK LANGSUNG: Nada Muhammad Nahdy (kiri) praktik menggunaka­n chip micro bit bersama Dita Dwi (tengah) dan Karlina Patricia kemarin (26/9).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia