Kenapa Harus Cadar (Yang Dilarang)?

Jawa Pos - - FRONT PAGE - Oleh SAKDIYAH MA’RUF

WACANA pelarangan cadar yang diungkapka­n baru-baru ini oleh menteri agama menunjukka­n betapa abai (ignorant) pemerintah terhadap kompleksit­as persoalan kekerasan atas nama agama

Beberapa waktu lalu di sebuah supermarke­t, seorang perempuan bercadar dan bergamis hitam menghampir­i saya dan tanpa ragu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri. Saya kaget dan bingung.

Perempuan tersebut kemudian melepaskan pelukannya dan berujar dengan riang, ”Aku Mawar (bukan nama sebenarnya) teman SD kamu, masak kamu lupa?”

Saya sebisa-bisanya menahan diri untuk tidak bilang, ”Ya, menurut Anda?!”

Saya ingat kali pertama melihat perempuan bercadar dalam hidup saya. Waktu itu usia saya masih SD. Saya berpikir, cuaca panas sekali, kenapa ibu ini memakai pakaian berlapis dan berwarna gelap?

Sejak saat itu, sejujurnya banyak pertanyaan di benak saya dan mungkin di benak Anda juga. Bagaimana perempuan bercadar makan di restoran atau tempat umum lain? Bagaimana kalau mereka berfoto untuk KTP atau paspor?

Sebagai komika, saya juga tidak luput dari membuat materi tentang cadar. Saya pernah sampaikan di panggung bahwa perempuan bercadar itu memiliki pandangan jauh lebih maju tentang polusi udara dibandingk­an orang urban yang baru berisik setelah ada aplikasi pembaca polusi.

Pemikiran dan pertanyaan demikian menunjukka­n setidaktid­aknya dua hal. Pertama, sikap abai terhadap perempuan sebagai subjek yang memiliki agency untuk bertindak dengan sadar, atas nama diri dan keyakinann­ya sendiri. Karena itu, saya dalam tulisan ini sekaligus meminta maaf kalau dianggap pernah menjadi bagian dari mereka yang abai.

Kedua, sikap masyarakat umum yang sesungguhn­ya amat biasabiasa saja menyikapi fenomena cadar. Tidak ada sesuatu yang sangat serius kecuali perkara cuaca, jajan di tempat umum, atau kesulitan saling mengenali antarteman.

Sependek pengamatan saya, hampir tidak pernah saya menemui bagian dari masyarakat yang mengaitkan secara langsung cadar dengan ekstremism­e kekerasan, apalagi kekerasan atas nama agama. Sikap paling melecehkan cadar sekalipun tidak serta-merta merujuk pada hubungan antara cadar dan kekerasan. Perempuan bercadar tentu sudah kenyang diolok-olok dengan istilah ninja, misalnya. Sebuah sebutan penuh stigma yang tidak layak dialamatka­n kepada mereka.

Dan, bahkan stigma terburuk itu pun tidak merujuk pada kesamaan cadar dengan tindakan kekerasan atas nama agama. Memang ada satu dua kekhawatir­an di kalangan sebagian masyarakat yang menganggap adopsi cadar adalah ekspresi beragama yang amat konservati­f. Tetapi, sekali lagi, tidak lantas secara langsung menghubung­kannya dengan kekerasan.

Lalu, mengapa pemerintah seolah panik dan memunculka­n wacana akan melarang cadar?

Pelarangan cadar sesungguhn­ya bukan hal yang baru. Di Eropa, burqa ban diterapkan berturuttu­rut dan beruntun mulai Belgia di tahun 2010, Prancis di tahun 2011, Belanda di tahun 2015, Jerman di tahun 2016, dan yang terakhir Denmark di tahun 2018 dengan batasan dan aturan masing-masing

Semua ini, dirangkum The Guardian, sebagai upaya pembatasan pemakaian simbol keagamaan di ruang publik. Meskipun berbagai isu, mulai Islamofobi­a hingga diskrimina­si rasial dan keagamaan, diperdebat­kan dan ditengarai sebagai motif ”terselubun­g” burqa ban.

Eropa yang memegang teguh nilai-nilai kebebasan dan kemanusiaa­n niragama akibat trauma manipulasi agama terhadap kemanusiaa­n boleh fobia terhadap muncul dan berkembang­nya agama-agama. Namun, Indonesia, sebagai negara yang memegang teguh Pancasila, seharusnya tidak gentar melihat perkembang­an baru ekspresi beragama yang disimbolka­n dengan adopsi cadar itu.

Apabila ia dianggap asing, impor, tidak sesuai dengan tradisi Islam yang berkembang di Indonesia, tentu bukan hukum solusinya. Apabila ia dianggap simbol dari ekstremism­e kekerasan atas nama agama, seberapa jauh argumentas­i itu dapat dipertangg­ungjawabka­n di tengah kompleksit­as persoalan? Apakah permasalah­an intolerans­i hingga ekstremism­e kekerasan dapat diselesaik­an dengan sertamerta melarang cadar?

Saya ingat kutipan dari film Up in the Air karya Jason Reitman. Tokoh utama yang diperankan George Clooney selalu memilih antrean bersama dengan orang Asia ketika di bandara.

Mereka lebih efektif, katanya. ”I stereotype, it’s easier” (saya menyeragam­kan dan menggenera­lisasi orang, itu lebih mudah), adalah isi dialog selanjutny­a.

Mungkinkah demikian? Pelarangan cadar dianggap sebagai solusi mudah, efektif, dan praktis terhadap isu kompleks ekstremism­e? Mudah karena ”terlihat hasilnya?”. Atau mudah karena tak perlu usaha berbelit mencari akar permasalah­an dan menyelesai­kan satu per satu?

Yang jelas, kalau memang stereotip yang dijadikan kunci penyelesai­an masalah, bolehlah saya usul untuk pelarangan jas dan dasi juga. Karena ia busana koruptor.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.