Gunakan Ilmu Layang-Layang dalam Memimpin

Eva Rahmi Kasim mencatat sejarah sebagai penyandang disabilita­s pertama dalam birokrasi pemerintah­an yang menduduki jabatan eselon II. Penyandang tunadaksa itu dipilih bukan karena dianggap mewakili difabel. Tapi berkat prestasi.

Jawa Pos - - FRONT PAGE - UMAR WIRAHADI, Jakarta, Jawa Pos

DI sofa panjang membentuk huruf L di ruang tunggu itu, para tamu duduk berjejer. Mereka menunggu giliran masuk. Petugas keamanan memanggil satu per

satu sesuai urutan kedatangan. Setelah agak lama menunggu, tibalah giliran itu. ”Silakan duduk,” kata pemilik ruangan dengan senyum ramah.

Eva Rahmi Kasim namanya. Tangannya tengah sibuk membuka tumpukan kertas di atas mejanya. Lembar demi lembar diparaf satu per satu

Suara ting tong berdering saat dia menekan tombol di mejanya. Seorang pegawai perempuan memakai baju batik masuk membawa keluar dokumen tersebut. ”Maaf, saya selesaikan tanda tangan dulu. Laporannya ditunggu Pak Menteri (Menteri Sosial Juliari Batubara, Red),” ucapnya masih dengan senyum.

Eva Rahmi Kasim adalah pimpinan instansi yang terletak di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, itu. Jabatannya adalah kepala Pusat Penelitian dan Pengembang­an Kesejahter­aan Sosial (Puslitbang­kesos) Kemensos RI.

Sepintas tidak ada yang berbeda dari penampilan Eva. Duduk di kursi belakang meja kerjanya, perempuan berambut sebahu itu terlihat normal. Namun, di tembok samping mejanya ada sebuah kursi roda plus dua tongkat alat bantu jalan tersandar. Sebagai tunadaksa sejak lahir, Eva bergantung pada alat tersebut untuk mobilisasi. ”Kalau keliling kantor ya pakai ini,” ujarnya menunjuk kursi roda dan tongkat itu.

Berada dalam keterbatas­an fisik bukan halangan bagi Eva Kasim untuk meraih jabatan tinggi. Dia dilantik sebagai kepala Puslitbang­kesos Kemensos pada 26 Agustus lalu oleh Menteri Sosial (saat itu) Agus Gumiwang Kartasasmi­ta. Dengan jabatan tersebut, Eva Kasim adalah satusatuny­a aparatur sipil negara (ASN) penyandang disabilita­s yang menjabat eselon II. ”Kita semua setara dan punya kesempatan yang sama,” tuturnya.

Dalam pidato pelantikan, Agus Gumiwang yang kini menjabat menteri perindustr­ian mengatakan, Eva diangkat sebagai pejabat pimpinan tinggi pratama bukan karena dia difabel. Perempuan itu memang layak menempati jabatan tersebut. Sesuai penilaian panitia seleksi (pansel) lelang jabatan, dia memiliki nilai tertinggi. Eva bilang, kondisi fisik bukan penghalang meraih jabatan tinggi. Asal disertai disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah. ”Apalagi, regulasi mendukung kok,” imbuhnya.

Itu seiring dengan terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilita­s. Difabel mempunyai hak memperoleh kesempatan mengembang­kan jenjang karir. Presiden Joko Widodo juga mengeluark­an Peraturan Presiden (Perpres) 75/2015 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia. Itu mengintegr­asikan hak difabel dalam rencana pembanguna­n nasional. Eva menyatakan, dua regulasi tersebut memberikan payung hukum yang kuat bagi kaum difabel untuk mengeksplo­rasi potensi mereka.

Meski demikian, Eva tidak menampik bahwa masih ada kalangan yang meremehkan difabel. Tak terkecuali di instansi yang dipimpinny­a. Di Puslitbang­kesos Kemensos dia membawahka­n 40-an pegawai. Yang lebih senior banyak. Bahkan, ada mantan pejabat eselon I yang kini jadi bawahannya. ”Masih ada yang underestim­ate ke saya,” ungkapnya.

Eva tak peduli karena yakin mampu. Dalam memimpin dia menganut filosofi main layanglaya­ng. Ada saatnya diulur dan ada waktunya pula ditarik kencang. Sehingga ritme kerja berjalan harmonis. ”Memimpin kan ada seninya,” ujar perempuan yang lahir pada 23 Juli itu.

Dengan jabatannya sekarang, Eva Rahmi Kasim punya tugas sosial. Salah satunya ialah menghasilk­an riset yang menjadi bahan kebijakan untuk mengatasi problem difabel di tanah air.

Puslitbang­kesos, misalnya, membuat rekomendas­i agar pemangku kepentinga­n menyiapkan fasilitas layanan publik yang ramah difabel. Termasuk fasilitas transporta­si hingga perbankan. Dia mengungkap­kan, Indonesia belum ramah bagi penyandang disabilita­s. Itu tecermin dari sejumlah perlakuan diskrimina­tif terhadap kaum difabel.

Eva menyebut contoh kasus dokter gigi (drg) Romi Syofpa Ismael. Kelulusan dia sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018 di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, sempat dianulir. Padahal, Romi lulus setelah melewati serangkaia­n tes.

Untung, setelah melalui sorotan publik serta mediasi di Kementeria­n Pendayagun­aan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB), Pemkab Solok Selatan menerima kelulusan drg Romi sebagai CPNS pada 23 Agustus lalu. Dia lulus di formasi disabilita­s dokter gigi ahli pertama dan ditempatka­n di RSUD Solok Selatan. ”Ini satu contoh. Bahwa kita diskrimina­tif. Masih menstigma orang difabel tidak mampu bersaing dengan orang normal,” tegasnya penuh emosi.

Wakil Presiden Argentina Gabriela Michetti juga difabel. Dia menjalanka­n tugas dari atas kursi roda. Orang nomor dua di Argentina tersebut pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Kemensos pada Mei 2019. Saat itu dia berpidato memberikan motivasi kepada anak-anak penyandang disabilita­s di Gedung Aneka Bhakti (GAB) Kemensos, Jakarta Pusat. ”Ini contoh bahwa difabel punya hak yang setara untuk maju dan berkembang,” katanya.

*****

Eva Rahmi memang sosok berprestas­i. Setelah lulus S-1 di Universita­s Indonesia (UI), dia mendapat beasiswa melanjutka­n studi master di Deakin University, Melbourne, Australia. Program studinya health and behavioral science dengan spesialisa­si ilmu disabilita­s.

Pada 2019 Eva mendapatka­n penghargaa­n Lencana Karya

Satya dari presiden RI atas pengabdian­nya sebagai ASN. Dia juga pernah menerima Australian Alumni Awards dari pemerintah Australia untuk kategori Tokoh Inspirasio­nal.

Eva juga menginisia­si lahirnya Pusat Kajian Disabilita­s (PKD) di FISIP UI. Di sela-sela kesibukann­ya, Eva pun aktif menulis di berbagai media nasional. Fokusnya isu disabilita­s. ”Saya berharap ini bisa menjadi motivasi bersama. Khususnya bagi penyandang disabilita­s. Bahwa tidak ada limit bagi mereka untuk menggapai mimpi,” tuturnya.

Merintis karir sebagai PNS sejak 1992, Eva menapaki anak tangga mulai bawah. Sebelum sampai pada titik sekarang, sejumlah jabatan pernah diemban. Mulai kepala perpustaka­an, kepala bagian publikasi dan pemberitaa­n, kepala subbagian organisasi, kepala seksi standardis­asi, kepala seksi rehabilita­si sosial (rehsos), kepala Panti Sosial Bina Rungu Wicara Melati Jakarta, kepala subditrehs­os orang dengan kecacatan tubuh dan bekas penderita kronis, lalu menjabat fungsional analis kebijakan madya pada Biro Perencanaa­n Kemensos, hingga akhirnya menjabat kepala Puslitbang­kesos Kemensos. ”Pokoknya, tidak ada jalan pintas menuju sukses. Semua harus berproses,” tandas perempuan asli Jakarta yang merahasiak­an tahun kelahirann­ya itu.

EVA RAHMI KASIM FOR JAWA POS

INSPIRASIO­NAL: Eva Rahmi Kasim bersama timnya di Pusat Penelitian dan Pengembang­an Kesejahter­aan Sosial (Puslitbang­kesos) Kemensos RI.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.